Anak-anak bermain di kawasan proyek konstruksi jalan tol Becakayu, Jakarta, Rabu (4/1). Pemerintah membelanjakan Rp 165 triliun untuk belanja modal pada 2016 atau lebih rendah 23,2 persen dari tahun 2015, dimana belanja modal utamanya berkaitan dengan pendanaan proyek, jembatan, sekolah, serta proyek infrastruktur lainnya. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/pd/17.

Jakarta, Aktual.com – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) mengeluhkan banyaknya proyek-proyek infrastruktur yang digelar oleh BUMN di Jatim yang bermasalah, sehingga menimbulkan kredit macet di BJTM yang cukup tinggi.

Menurut Direktur Utama BJTM, R Soeroso, sepanjang 2016 kinerja rasio kredit macet (NPL) perseroan cukup tinggi mencapai 4,77 persen (gross). Hal ini ditopang banyaknya BUMN dan kontraktor di sektor infrastruktur yang mendapat proyek pemerintah dan tak terselesaikan.

“Hal ini berdampak kepada pembayaran kredit ke BJTM menjadi tertunda. Sehingga NPL yang tinggi itu notabane proyeknya sudah tidak bisa diharapkan dan tidak potensial lagi,” ungkap Soeroso di Jakarta, Senin (9/1).

Untuk itu, kata dia, pihaknya akan melakukan lelang agunannya, tetapi kalau agunannya masih kurang, maka pihaknya akan mempailitkan.

Rasio NPL perseroan yang tercatat sebesar 4,77 persen (gross) itu memang meningkat dari periode yang sama di 2015 sebesar 4,29 persen. Sedangkan, untuk NPL (nett) di akhir 2016 menurun menjadi 0,65 persen dari 1,1 persen di 2015.

“Jadi kenaikan NPL itu dari segmen korporasi, berasal dari kontraktor pemerintah dan BUMN yang proyeknya tidak terselesaikan,” tandasnya.

Namun demikian, lanjut Soeroso, pihaknya meyakini NPL BJTM di akhir 2017 bisa mencapai 3,1 persen (gross), sejalan dengan pembentukan divisi penyelesaian dan penyelamatan kredit macet yang tahun ini akan beroperasi.

(Busthomi)

Artikel ini ditulis oleh: