Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengakui saat ini pemerintah Indonesia sudah ketergantungan impor. Beberapa produk seperti besi, baja, petrokimian, farmasi dan mineral banyak mendatangkan dari luar negeri.

Namun begitu, dirinya mengklaim kalau saat ini ketergantungan impor tak separah seperti zaman Orde Baru. Di mana saat itu, meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi laju impor sangat agresif. Untuk itu, dia meminta sektor industri komoditas tersebut harus digenjot dari sisi hilirisasinya.

“Kalau laju impor lebih tinggi daripada ekspor, maka yang kita khawatirkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) makin lebar. Ini berbahaya,” kata Darmin di Jakarta, Senin (11/12).

Menurutnya, kondisi impor yang tinggi pernah terjadi di era Orde Baru. Saat itu, kata Darmin, pertumbuhan ekonomi memang tinggi, tapi sayangnya diikuti pertumbuhan impor yang juga agresif.

Maka dari itu, beberapa sektor industri yang bisa dipicu pertumbuhannya agar mengurangi ketergantungan impor seperti industri besi, baja, petrokimia, farmasi, hingga mineral. Hal itu bisa terjadi jika sektor hilirisasinya terus digenjot. Sehingga untuk menutupi kebutuhan industri terhadap barang-barang tersebut nantinya tak lagi impor.

“Jadi mengacu dari pengalaman itu (zaman Orba) pemerintah sudah mengidentifikasi apa saja di sektor industri di hulu yang harus dimulai. Supaya nanti kita enggak terlalu rentan kenaikan impor kalau lajunya kencang,” ujar Darmin.

Lebih lanjut dia menjelaskan, perlu dilakukan hilirisasi industri besi dan baja yang lebih jauh lagi. Sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Dia mencontohkan, langkah Krakatau Steel bersama perusahaan asal Korea Selatan POSCO yang membangun perusahaan patungan (joint venture), Krakatau Posco untuk menggenjot hilirisasi produk besi dan baja.

(Nebby)