Boyolali, Aktual.com – Menteri Pertanian Republik Indonesia Amran Sulaiman mengatakan Pemerintah melalui Kementan terus memperbaiki semua regulasi yang menghambat Indonesia menuju ke swasembada pangan.

“Kami perbaiki semua regulasi menuju swasembada pangan,” kata Amran Sulaiman disela acara pembukaan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) Ke-36 2016, di Boyolali, Jateng, Jumat (28/10).

Amran Sulaiman mengatakan pada zaman dahulu semuanya seperti pengadaan benih unggul dan pupuk menggunakan tender, sehingga terjadi keterlambatan waktunya dalam meningkatkan produksi pangan.

Mentan mengemukakan pihaknya juga memberikan pengharagaan kepada Bapak Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Bupati Boyolali Seno Samodro menjadi tuan rumah yang baik dan luar biasa menjadi tuan rumah HPS tahun ini.

HPS Ke-36 yang digelar di Kabupaten Boyolali, Jateng dengan tema “Membangun Kedaulatan Pangan diera Perubahan Iklim”.

Amran Sulaiman mengatakan Bangsa Indonesia pernah menghadapi musim Elnino dan Lanina dua tahun berturut-turut, tetapi mudah-mudahan pada 2017 sudah berlalu.

Elnino pada 2015 tantangannya sangat luar biasa berat sepenjang sejarah dengan intensitas 2,44 persen, sedangkan 1997-1998 hanya 1,9 persen dan ketika itu, Indonesia mengimpor beras sekitar 12 juta ton.

“Namun, kita dengan kerja keras, bergandengan tangan mampu melewati musim terberat itu, dan impor beras cadangan satu juta ton lebih,” tutur Amran.

Bahkan, kata Amran Sulaiman stok pangan nasional saat ini, sekitar dua juta ton dan cukup untuk kebutuhan hingga bulan Mei, dan Maret 2017 sudah mulai panen raya lagi, sehingga persediaan pangan akan mencukupi.

Selain itu, Mentan mengapresiasi Gubernur Jateng yang mampu memimpin daerahnya dalam meningkatkan produksi pangan sehingga stoknya cukup.

“Jateng 2016 telah mengirimkan berasnya ke wilayah Kalimantan Barat, Aceh, dan Riau untuk pemerataan. Jateng beras produksi meningkat sekitar satu juta ton tahun ini,” ucap Amran.

Oleh karena itu, Amran Sulaiman meminta semua kepala daerah bupati seluruh Indonesia produksi pangan harus meningkat jika ada bantuan oleh pemerintah, tetapi jika gagal mereka baru dapat bertemu kembali pada tahun berikutnya.

“Kami banyak membongkar regulasi, infrastruktur kita rusah tiga juta hektare. Bapak Presiden minta selesai selama tiga tahun. Namun, kami berupaya untuk menyelesaikan target dengan waktu satu tahun,” imbuh Amran.

Selain itu, lanjut dia, pupuk distribusinya juga sudah berjalan lancar, sedangkan Pemerintah juga menindak tegas pelaku yang mengoplosan pupuk palsu dan merugikan para petani. Mereka ditindak dan dikirim ke penjara.

Menyinggung soal alat mesin pertanian (Alsinta), kata dia, pemerintah sudah mengirim ke daerah-daerah sebanyak 160 ribu unit dengan tujuan untuk menurunkan biaya produksi dari Rp2 juta per hektare menjadi Rp1 juta per hektare, sehingga masih ada dana yang disimpan untuk petani.

Sementara Mentan mengapresiasi pameran tehnologi pertanian antara hewan sapi lokal umur dua tahun biasanya beratnya hanya 250 kilogram, tetapi kini dengan teknologi baru biasa dua ton, sehingga pertanian bisa maju.

“Swasembada pangan bisa dicapai dengan pertanian modern, sehingga, secara paralel regulasi, infrastruktur kita diperbaiki, bekerja keras produksi kita dorong, ekspor impor kita kendalikan. Pertanian organik sangat menarik dan harga bisa 10 kali lipat untuk kesejahteraan petani,” demikian Amran.

(Arbie Marwan)