Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) saat memberikan keterangan terkait dengan catatan akhir tahun 2015 yang menyoroti masalah intoleransi antar umat beragama yang digelar di kantor pusat PP Muhammadiyah Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/12/2015). Dalam kesempatannya PP Muhammadiyah meminta Pemerintah untuk memfasilitasi dialog intern dan antar umat beragama di Indonesia serta melindungi kelompok minoritas.

Jakarta, Aktual.com – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan aksi jutaan umat Islam dalam wujud dzikir dan shalat Jum’at di silang Monas Jakarta dan sekitarnya pada 2 Desember 2016 sungguh menggugah kesadaran tertinggi dalam kehidupan kebangsaan di Republik ini.

Dalam keterangannya sebagaimana diterima, Sabtu (3/12), Haedar menyebut seluruh warga bangsa dibuat kagum dan simpatik atas kehadiran jutaan umat yang yang membawa suara damai dalam Aksi 212.

“Aksi 212 tersebut patut diapresiasi tinggi, karena menunjukkan kematangan sikap dan keluhuran budi umat Islam Indonesia,” katanya.

Kepolisian dan TNI serta seluruh aparat keamanan juga layak memperoleh penghargaan karena mampu mengawal jalannya aksi secara damai dan tertib. Warga masyarakat Jakarta yang tidak ikut aksi pun menunjukkan kedewasaan dan toleransi tinggi.

Haedar mencatat setidaknya empat pesan sangat penting dari aksi damai 212. Pertama, aksi itu ditunjukkan dengan aktivitas spiritual dalam wujud dzikir, tausyiyah, dan puncaknya shalat Jum’at berjamaah.

Aksi seluruh komponen umat Islam dari Jakarta dan sekitarnya serta berbagai pelosok tanah air sangat simpatik, sejuk, tertib dan ramah. Gelora damai sangat terasa, bukan hanya dari sikap peserta aksi yang tampak sejuk dan menyebarkan sikap bersahabat, bahkan tidak ada satu helai tumbuhanpun yang terganggu.

“Aksi 212 semakin memperkuat dan membuktikan kepada publik, bahwa umat Islam Indonesia memberi contoh membawa misi damai dalam kata dan tindakan,” jelasnya.

Aksi 212 menjadi pesan ke publik, bahwa tudingan umat Islam garang dan suka menimbulkan keributan, apalagi jika sering dikaitkan dengan teror, sangatlah tidak tepat. Tudingan tersebut tentu hanya stigma negatif kepada umat Islam.

Pesan kedua bahwa keberhasilan aksi damai 212 bukan hanya milik umat Islam tetapi milik bangsa secara keseluruhan. Jika kasus penistaan agama itu nanti berujung pada hukuman yang setimpal sebagaimana tuntutan utama aksi damai, maka yang diuntungkan sesungguhnya seluruh umat beragama dan warga bangsa.

“Bahwa tidak boleh siapapun berkata dan berbuat sekehendaknya di negeri ini yang menodai agama dan melukai hati umat beragama,” ucap Haedar.

Ditambahkan, aksi 212 sesungguhnya untuk menegakkan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Kebhinekaan. Maka tidak heran manakala warga masyarakat yang tidak ikut aksi pun menunjukkan simpatinya. Mereka dewasa dan tetap melakukan aktivitas sehari-hari.

Meski ada ruang publik yang terpakai, warga toleran dan memahami. Mereka sama sekali tidak merasa takut.

Pesan ketiga menyangkut pesan moral kepada aparat penegak hukum. Bahwa meski aksi melibatkan jutaan orang itu dilakukan dalam aktivitas ruhaniah, sesungguhnya menyuarakan tuntuan moral tinggi untuk tegaknya hukum seadil-adilnya dan setimpal atas kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Basuki Tjahaya Purnama alias Pak Ahok.

“Mereka menuntut keadilan tanpa pandang bulu, bukan yang lain,” tegasnya.

Aparat penegak hukum harus berdiri tegak di atas hukum berkeadilan yang jujur dan sejati. Meski aksi massa itu caranya spiritual melalui do’a dan shalat Jum’at, mestinya harus ditangkap oleh aparat penegak hukum yang menangani kasus tersebut untuk bersungguh-sungguh menegakkan hukum yang adil dengan penanganan superekstra sebagaimana aspirasi dan tuntutan rasa keadilan umat.

Terlebih tanggungjawabnya bukan hanya dengan umat, tetapi dengan Allah Yang Maha Adil dan Maha Kuasa. Maka diharapkan jangan sekali-kali ada yang mempermainkan celah hukum yang berujung pada kekecewaan umat Islam dan warga bangsa di seluruh pelosok negeri.

“Pasca aksi 212 itu semua pihak terus kawal proses hukum dengan cara yang seksama dan sesuai koridor hukum dan demokrasi,” kata Haedar.

Keempat mengenai aksi 212 menjadi lebih spesial dengan kehadiran Presiden RI Ir Joko Widodo yang ikut shalat Jum’at dan sesudahnya menyampaikan pesan penting. Kehadiran orang nomor satu itu menunjukkan sikap beliau yang bijak dan menyejukkan.

Apalagi, beliau menyampaikan terimakasih sekaligus apresiasi yang tinggi kepada seluruh jamaah. Kehadiran Presiden mengandung makna dukungan moral kepada peserta aksi damai untuk secara demokratis dan konstitusional dapat memperoleh keadilan.

“Kita sangat mengapresiasi sikap bijak Presiden, dan itu menunjukkan jiwa kenegerawanan yang penting bagi anak-anak bangsa,” terang Haedar.

Umat Islam pasca aksi damai 212 perlu mengambil hikmah tentang pentingnya menyatukan aspirasi dan langkah dalam menghadapi masalah-masalah bersama, sekaligus menunjukkan uswah hasanah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai warga terbesar buktikan bahwa umat Islam adalah umat terbaik atau kyaira ummah sebagaimana digambarkan Allah dalam Al-Quran Ali Imran 110. Kehadirannya harus menjadi rahmat bagi semesta, rahmatan lil-‘alamin.

Setelah ini, seraya kembali pada aktivitas sehari-hari membangun kehidupan yang bermakna dan maslahat. Perjuangan umat dan bangsa ini ke depan masih terjal dan panjang untuk meraih keunggulan di segala bidang kehidupan sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju.

“Mari bangkit bersama untuk menjadi umat dan bangsa yang berkemajuan. Bangun Indonesia menjadi negera berkemajuan!,” demikian Haedar.

(Arbie Marwan)