Jakarta, aktual.com – “Dasar milenial” sembari menggeleng-geleng kepala. Kata itu bukan untuk mengejek apalagi merasa geram, melainkan rasa gemas pada generasi Y yang terkadang tingkah laku dan cara merespon ataupun menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan pola unik yang terkadang diluar perkiraan generasi X.

Jelas kedua generasi tersebut mempunyai habit yang berbeda, dimana generasi Y dilahirkan dalam rentang waktu 1980-2000 tumbuh dengan keberlimpahan tekonologi dan nilai-nilai kebebasan demokrasi, praktis menyeret mereka pada pergeseran perilaku sosial dibanding dengan generasi X yang lahir 1960-1980.

Bagi aku sih, sebagai kelahiran di akhir 1980-an merasa tersanjung teridentifikasi masuk kategori milenial, meskipun tipekalku di group-group sosial media seperti hantu (orangnya ada, pesannya dibaca, namun tak pernah nongol komentar), bak pengamat misterius.

Kendati begitu, tak bisa dipungkiri ketergantunganku pada akses internet cukup tinggi, sama seperti anak milenial pada umumnya. Secara gitu, sesuai karakter anak milenial yang mana melibatkan teknologi dan akses internet hampir di semua akspek kehidupan. Mulai dari akses informasi, jual beli hingga tranportasi.

Keakraban kaum milenial dengan teknologi telah menggeser habit sosial masyarakat. Bahkan dalam dinamika politik nasional maupun mancanegara pun terus berinopasi untuk menancapkan pengaruh. Namun yang peting untuk disadari, kehebatan teknologi ini tidak terlepas dari aspek pendukung yakni ketersediaan suplai energi.

Tentu masih segar diingatan kita peristiwa blackout listrik pada (4/8/2019). Seketika akses internet terganggu dan membuat dunia seakan berhenti. yang mana mulai dari aktifitas berkirim pesan, transaksi digital hingga perencanaan perjalanan menjadi terganggu.
Bahkan kala itu saya ingin membeli minuman jus di suatu kedai, tidak dapat disetiakan lantaran blender tidak mendapat aliran listrik.

Artinya, sehebat apaun teknologi, ia tetap bertumpu pada energi. Kita akan masuk dimensi kehidupan dunia lain jika mengalami krisis energi. Bahkan bisa jadi perkembangan generasi milenial akan lebih buruk dari generasi X.

Kesadaran Energi

Terang saja Presiden Jokowi “mencak-mencak” melampiaskan amarahnya pada direksi PLN atas peristiwa blackout kala itu.
Masalahnya, upaya presiden mendatangkan investor untuk mendorong perekonomian nasional, terkesan menjadi bualan belaka manakala tidak ditopang ketangguhan suplai listrik.

Bisa dibayangkan, investor mana yang ingin mengembangkan industri di Indonesia tanpa jaminan ketersediaan suplai listrik? karenanya sangat dapat dipahami bila Presiden Jokowi murka pada direksi PLN.

Namun, ngomong-ngomong soal energi dan PLN, sebangaimana diketahui, untuk menghasilkan listrik, suatu pembangkit membutuhkan energi primer yang diantaranya berasal dari Batubara, BBM dan Gas.

Mungkin untuk bahan baku Batubara bisa tercukupi dari pertambangan dalam negeri, namun perlu diingat, ekspolitasi pertambangan batubara menyebabkan kerusakan ekosistem yang masif hingga mengundang bencana alam dan sosial.

Belum lagi di sektor hilirnya yang mana pembangkit menggunakan bahan bakar Batubara menyebabkan polusi dan perubahan iklim.

Dengan demikian penggunaan energi Barubara sangat beresiko dan bisa jadi manfaatnya tidak sebanding dengan konpensasi terhadap kerusakan ekosistem lingkungan dan sosial.

Adapun penggunaan BBM dan Gas pada pembangkit menyebabkan biaya produksi listrik kian mahal lantaran harganya lebih mahal dari Batubara.

Dilema bagi PLN dan Pemerintah, tentu saja masyarakat akan terpukul jika kebijakan pemerintah menaikkan tarif listrik, terlebih kondisi perekonomian masyarakat sedang terpuruk ditengah lonjakan harga-harga yang tidak sebading dengan pendapatan.

Lagi pula penggunaan BBM pada pembangkit berkontribusi terhadap defisit neraca perdagangan dan pelemahan nilai tukar rupiah. Megingat setengah dari kebutuhan BBM nasional dipenuhi dari impor. Dalam artian, kita harus melakukan impor BBM 800 ribu barer per hari, sekali lagi, per hari loh. Hal inilah yang menguras devisa negara dan menambah beban tekanan bagi pemerintah.

Gerakan Konservasi

Agaknya berat bagi milenial menghadapi kompleksitas permasalahan negara. Namun sudi-ataupun tak sudi, kesadaran akan pentingnya energi harus dibangun, karena dunia milenial adalah dunia tenologi, dan nyawanya teknologi adalah energi. Dengan demikian bisa disimpulan bagaimana nasip milenial Indonesia jika terjadi krisis energi.

Terlebih menghadapi pasar bebas dan masyarakat ekonomi ASEAN. Milenial Indonesia akan tergilas jika ekonomi Indoensia dan nilai tukar rupiah dalam tekanan terus menerus.

Adapun langkah kecil yang mesti dilakukan milenial adalah membangun gerakan kolektif konservasi energi.

Ada yang bertanya; gerakan apa itu kakak?

Tenang dek, itu bukan gerakan rusuh dan membahayakan kok. Itu gerakan damai dan pembuktian bakti kepada pertiwi.

Jawab: ‘Siaaaap kakak’ dengan kepalan tangan ke atas. hehehe.

Sederhanaya, konservasi energi itu adalah membudayakan hidup efisien terhadap energi tanpa mengurangi kebutuhan.

Kok bisa, hmmmm bagaimana caranya?

Caranya menggunakan energi dengan bijak dan sesuai kebutuhan. Diantaranya; gunakan alat elektronik hemat energi. Matikan listrik, AC dan alat elektronik lainnya ketika meninggalkan ruangan.

Selanjutnya, upayakan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan beralih membiasakan diri menggunakan sarana tranportasi umum.

Dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh gerakan milenial. Gerakan sederhada jika dilakukan secara koreltif akan menjadi kekuatan dan memberi imbas positif bagi negara.

Oleh: Dadangsah, Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS)

(Zaenal Arifin)