Jakarta, Aktual.com –  Papua dan Papua Barat memiliki karakteristik kebencanaan yang perlu mendapat perhatian lebih. Dengan kondisi topografis, daerah dataran tinggi, daerah daratan, dan daerah pantai perlu mendapat penanganan yang serius.

Hal itu diungkapkan Ferry Syahminan, Kasubdit Penanganan Daerah Rawan Bencana Wilayah V kepada wartawan, di kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, di Jakarta, Selasa (10/5). Hal itu diungkapkan Ferry ketika ditanya wartawan tentang penanganan kebencanaan di daerah Papua dan Papua Barat.

Menurut Ferry, seperti juga di wilayah lain, pembangunan bronjong di Papua dan Papua Barat adalah salah satu upaya pencegahan dan pengurangan risiko pada jenis bencana banjir, tanah longsor, dan abrasi pantai.

“Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat adalah, keberadaan bronjong di pinggiran sungai maupun di pinggiran pantai ternyata membantu masyarakat di kabupaten, yang mendapat fasilitasi mengatasi banjir, yang terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya.

Menurut data Kemendesa 2015, kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan bronjong sangat tinggi dan hampir merata di seluruh kabupaten di wilayah Papua dan Papua Barat.  Oleh karenanya, beberapa kabupaten daerah rawan bencana masih sangat membutuhkan pembangunan bronjong.

Kebijakan pembangunan bronjong untuk tahun 2016, menurut Ferry, perlu dilanjutkan dan sasaran lokasi juga perlu ditingkatkan. Dukungan masyarakat terhadap kebijakan penanganan daerah rawan bencana cukup tinggi.

Dalam pembangunan Bronjong, kabupaten di wilayah Papua dan Papua Barat  yang sudah mendapatkan bantuan fasilitasi tahun 2015 ada empat kabupaten, yaitu: Keerom, Raja Ampat, Sorong Selatan, dan Fak Fak. ***

Artikel ini ditulis oleh: