Jakarta, Aktual.com – Disrupsi teknologi telah merubah tatanan industri dan perekonomian Indonesia, termasuk ranah periklanan dan pemasaran. Perkembangan teknologi digital telah merubah juga perilaku masyarakat dalam penggunaan media. Pelaku bisnis, termasuk advertising agency maupun creative agency perlu untuk melakukan berbagai adaptasi menyesuaikan bisnisnya.

“Di tengah era teknologi 4.0, Industri periklanan perlu untuk semakin smart dalam menyusun strategi komunikasi dengan konsep kreatif yang menarik dengan pemilihan media yang tepat,” kata Managing Director FPG Indonesia, Wahab Afwan di Jakarta, Rabu (27/11).

Dalam hal konsumsi media, lanjutnya, masyarakat saat ini sudah mulai terbiasa melakukan bauran konsumsi media konvensional dan sosial media, seperti menonton siaran langsung televisi sembari mengupdate status. Hal ini merupakan tantangan bagi dunia kreatif, bagaimana membuat karya iklan bisa mencuri perhatian audience dan pesannya sampai.

“Selain kreativitas, pemilihan media yang tepat juga perlu mempertimbangkan perubahan perilaku dari media konvensional ke media digital. Saat ini, jika tertarik dengan produk tertentu melalui aplikasi, maka perangkat logaritma akan terus mengikuti kita dengan produk atau hobi yang sesuai. Hal ini menjadi tantangan bagi insan periklanan di Indonesia agar terus tumbuh,” tambah Afwan.

Berdasarkan catatan Nielsen, September lalu, angka belanja iklan di media TV, Cetak dan Radio dari bulan Juli 2018 sampai Juni 2019 menembus Rp 156 Triliun atau naik dua persen. Televisi masih mendapatkan porsi iklan paling besar. Menariknya, angka belanja iklan media digital tumbuh dan memberikan kontribusi sebesar Rp 9,3 Triliun.

“Industri periklanan di Indonesia tetap akan terus tumbuh dan beradaptasi dengan era digitalisasi. Kalangan bisnis perlu memperhatikan terus bagaimana daya beli konsumen akan bergeser, karena adanya pergeseran SES (Social Economy Status) yang akan lebih banyak di segmen middle low. Saatnya agency dan produsen untuk mempersiapkan strategi merk untuk menggarap perubahan segmen ini,” tambah Afwan yang juga sebagai ketua komisi tetap bidang advertising di Kadin Indonesia.

Bagi FPG Indonesia, perusahaan periklanan yang ditopang tenaga ahli berlatar belakang agency ternama lokal maupun multinasional, telah siap berkompetisi dan melakukan berbagi inovasi. FPG Indonesia, yang berlatar belakang perusahaan periklanan siap melakukan terobosan dengan menjadi Network hub perusahaan kreatif pertama di Indonesia.

“Menangkap peluang di era kreatif dan teknologi 4.0, FPG Indonesia siap menjadi menjadi Network hub pertama bidang komunikasi dan marketing. Selain sebagai strategic communication consultant, layanan kami juga termasuk creative & media implementation,” tambahnya.

Menurut Afwan, Keuntungan Network Hub dibidang komunikasi dan marketing adalah perusahaan dapat memilih beragam tenaga profesional dibidang periklanan, kreatif, media maupun pemasaran dengan tetap menjaga OKR (Objective & Key Result) dari setiap product/brand karena di Network Hub ini setiap implementasi akan dikawal ketat oleh para expertise komunikasi dari FPG Indonesia yang sudah berpengalaman di client side, research agency, maupun multinational/local agency, selain itu juga di FPG Indonesia memungkinkan untuk joint colllaborations jika product/brand sudah mempunyai inhouse creative. “Dengan adanya kolaborasi antara agency dan inhouse creative, bisa win-win solutions, klien bisa mendapatkan output terbaik dengan efektif dan efisien,“ jelasnya.

Pada era keterbukaan ini, siapapun memungkinkan untuk menjadi insan industri kreatif. FPG Indonesia memfasilitasi para talenta muda untuk berkreasi, dan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh mahasiswa-mahasiswi semester akhir yang sedang karya tulis untuk berkreasi di FPG Indonesia, tambah Afwan. Hal ini juga merupakan wujud komitmen dan kontribusi FPG Indonesia untuk mensupport visi Presiden Jokowi mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju.

(Abdul Hamid)