Jakarta, Aktual.com — Kondisi fundamental ekonomi Indonesia tak mampu memengaruhi rupiah yang saat ini terus terdesak oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Demikian disampaikan Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Katolik Soegijapranata Ika Rahutami.

“Sebaik apapun kondisi fundamental ekonomi Indonesia tak akan mampu membuat kurs rupiah terhadap dolar AS di bawah Rp13.500,” katanya di Semarang, Rabu (9/9).

Menurut dia, sesuai dengan prediksi Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu, selama the Fed belum menaikkan suku bunga, kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.800-Rp15.500.

“Sebetulnya pergerakan rupiah sendiri merupakan dinamika yang wajar, meski begitu tetap mengejutkan bagi sejumlah kalangan,” katanya.

Mengenai kondisi tersebut akan berlangsung hingga kapan, Ika mengatakan tak bisa memprediksi mengingat pelemahan rupiah terjadi karena tekanan eksternal.

“Kalau untuk bulan menjadi agak sulit karena kita masih sangat tergantung pada kebijakan yang dikeluarkan oleh the fed. Sebelumnya mereka mengatakan akan menaikkan suku bunga sekitar bulan September, tetapi ini sampai bulan September belum juga dilakukan,” katanya.

Sikap tersebut juga sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya, namun hingga saat ini keputusan mengenai kenaikan suku bunga acuan juga belum dilakukan.

Menurut dia, the Fed masih terkesan ragu menaikkan suku bunga karena sebetulnya kondisi ekonomi AS belum stabil.

“Kenaikan suku bunga itu kan berefek pada ‘take money policy’. Kenaikan suku bunga akan terjadi ketika perekonomian sudah bagus, kalau AS merasa ekonomi mereka belum stabil maka mereka tidak akan pernah menaikkan suku bunganya,” katanya.

Meski demikian, pihaknya berharap agar the Fed segera mengambil sikap terkait kenaikan suku bunga sehingga kondisi ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada dolar AS bisa segera stabil.

(Ant)

(Eka)