Jakarta, Aktual.com – Warga Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabuoaten Majene, Sulawesi Barat terdampak Gempa Sulawesi Barat terparah.

Namun karena mereka berada di daerah pengungsian terpencil, harus menerima kenyataan luput dari bantuan logistik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat.

“Kami terisolir dari segi bantuan logistik. Di Kecamatan Malunda ada logistik, tapi tidak pernah sampai ke titik pengungsian di mana kami berada. Mungkin karena kami berada di hutan kebun sawit jadi jauh dari jangkauan. Mungkin kami tidak terlihat (oleh Tim SAR). Di tempat (pengungsian) kami semalam, warga tidak makan, karena tidak punya beras. Bahkan minum saja kami menadah air hujan,” tutur warga bernama Hernawati, kepada RRI PRO3 di wilayah Tinambung, Majene, Sulawesi Barat, Sabtu (16/1) malam.

Kepada RRI, Hernawati lanjut mengutarakan, dirinya bersama sekitar 70 orang pengungsi berada di Tinambung adalah untuk pindah pengungsian agar dapat terlihat oleh Tim SAR yang membagikan logistik.

Mereka terpaksa harus melakukan hal itu karena sudah tidak tahan lagi, sehingga eksodus ke lokasi pengungsian di SMAN 1 Tinambung dinilai menjadi pilihan tepat.

“Kami pilih pindah ke Tinambung, selain karena memang nenek moyang kami berasal dari wilayah Tinambung, juga karena dengan berada di Tinambung mungkin akan lebih diperhatikan Tim SAR untuk penyaluran logistik. Selain itu supaya menjauh dari titik bahaya,” ungkap Hernawati.

Rombongan berjalan menuju Tinambung mulai pukul 15.00 sore waktu setempat, dan sudah menempati lokasi baru malam ini.

Selama di pengungsian baru ini, Hernawati bersama 70-an orang anggota rombongan mendapatkan bantuan makanan dan minuman dari keluarga mereka masing-masing, serta memanfaatkan apa saja yang ada serta dapat dimakan maupun diminum.

“Kami hanya sebagian kecil yang pindah ke Tinambung. Kami eksodus, namun sebagian besar pengungsi lainnya memilih tetap bertahan,” ujar Hernawati.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, korban meninggal dunia akibat gempa di Sulawesi Barat per Sabtu 16 Januari sore, sebanyak 46 orang, dan masih dapat bertambah, mengingat evakuasi korban terus dilakukan Tim SAR gabungan.(RRI)

(Warto'i)