Pendiri Volume Up! dan JakSL Jerick Hartono (kanan) bersama dengan Direktur Sign Language Center Indonesia Laura Lesmana Wijaya (kiri) menunjukan aplikasi JakSL saat peluncuran di Jakarta, Kamis (9/8). Aplikasi JakSL diluncurkan untuk memudahkan masyarakat belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) secara gratis dan sesuai kebutuhan (on demand). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Organisasi nirlaba pengusung isu-isu komunitas penyandang tuli di Indonesia, Volume Up!, meluncurkan aplikasi JakSL. Aplikasi tersebut memudahkan setiap orang untuk belajar bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) secara gratis dan sesuai kebutuhan.

Pada aplikasi tersebut, metode pengajaran terdiri dari tiga tingkatan kesulitan yang mengacu pada standar nasional dengan berbasis video untuk pembelajaran yang lebih interaktif. Para pengguna dapat mengetuk tiap kata untuk memunculkan klip pendek. Dalam klip pendek itu, Jerick ataupun aktivis tuli Surya Sahetapy akan memeragakan kata itu dalam bahasa isyarat sesuai kaidah-kaidah BISINDO.

Hebatnya, aplikasi tersebut dibuat pemuda berusia 17 tahun bernama Jerick Hartono. Jerick ialah penyandang tuli sebagian. Ia memiliki masalah pendengaran permanen cukup serius di telinga kanan, sedangkan telinga kirinya tak berfungsi secara utuh.

Dengan tekad yang kuat, usaha yang gigih serta dukungan teknologi, Jerick mengaku ingin memudahkan komunikasi para penyandang tuli.

“Dunia tanpa suara merupakan kenyataan bagi penyandang tuli. Tetapi kami percaya semua hambatan berbahasa itu menjadi masalah kecil apabila dunia berkenan meminjamkan tangannya sebagai jembatan komunkasi. Terlebih saat ini demgam dukungan teknologi, kemudahan komunikasi bukan lagi menjadi tantangan,” tutur Jerick saat ditemui Merahputih.com di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (9/8)

Lebih lanjut, Jerick juga menjelaskan banyak penyandang tuli berasal dari keluarga yang finansialnya terbatas. Di tengah impitan ekonomi sehari-hari, akses pada pelatihan berbahasa isyarat pun menjadi sebuah hal yang mewah. Sementara itu, kurikulum di Indonesia juga belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan para penyandang tuli dan fasih menggunakan bahasa isyarat.

Hambatan untuk berkomunikasi itulah yang kerap kali mengisolasi para penyadnang tuli dari hubungan dengan keluarga dan orang-orang di sekitar mereka. Karena itu, Jerick mengaku prihatin banyak penyandang tuli yang kurang beruntung tak bisa mendengar dengan alat bantu.

“Saya bersyukur masih diberikan kemampuan untuk bisa mendengar dengan dibantu alat dan bersuara. Namun, di luar sana masih banyak penyandang tuli yang tak seberuntung itu,” tambah Jerick.

Selain itu, Jerick menambahkan, melalui aplikasi JakSL tersebut, siapa saja dapat mempelajari BISINDO sebagai alat komunikasi yang inklusif. Hal itu pun akan membuat para penyandang tuli di Tanah Air memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya di tengah masyarakat.

Sementara itu, Direktur Pusat Bahasa Isyarat Laura Lesmana Wijaya menilai bahwa pemanfaatan aplikasi ponsel sebagai sarana pembelajaran BISINDO merupakan sebuah pilihan yang tepat guna menjangkau masyarakat dari berbagai lapisan.

(Nebby)