Belum lagi, kata dia, gaya komunikasi Airlangga lebih lunak. Sehingga, anak ranting partai Golkar lebih condong kepada Menteri Perindustrian itu.

“Termasuk di Jawa Barat, ketika Dedi Mulyadi mencalonkan sebagai Cagub Jabar. Ketika itu yang dipilih bukan Dedi Mulyadi, tapi kemudian ketika terjadi masalah pada pucuk pimpinan ketika itu, akhirnya Airlangga bisa mengubah itu,” kata dia.

Belum lagi, kata dia, Airlangga memiliki kedekatan historis dengan partai. Ayahnya, lanjut dia, merupakan merupakan salah satu pengurus partai beringin tersebut.

“Dia di menteri dan dekat dengan Jokowi. Belum lagi Airlangga punya historis karena bapaknya pengurus Golkar,” ujar dia.

Analis politik Silvanus Alvin menilai, para sesepuh Golkar pun cenderung lebih nyaman dengan Airlangga. Para sesepuh itu, dinilai Alvin, juga salah satu kunci siapa yang akan duduk di kursi Golkar 1.

“Salah satu hal yang jadi penentu untuk mengunci kemenangan kandidat caketum Golkar adalah political support dari para sesepuh Golkar seperti JK, Akbar Tandjung dll,” kata dia ketika dihubungi.

Terlebih, lanjut dia, Munas Golkar saat ini termasuk salah satu Munas yang paling seksi.
Munas yang direncanakan pada Desember mendatang bisa jadi awal baru untuk Golkar.
Karena sejak di era ARB, Setya Novanto hingga saat ini tren elektabilitas Golkar masih stagnan.

Yang kedua, kata dia, sudah dua pemilu Golkar tak punya kader untuk menjadi calon presiden. Jadi munas kali ini tidak akan main-main, karena jadi pertaruhan partai tersebut untuk 2024.

Tidak kalah penting, lanjut dia, siapa yang dianggap nyaman oleh Presiden Jokowi. Karena sebagai partai yang selalu masuk dan mendukung pemerintah, hubungan presiden dan ketum Golkar itu jadi penting dan esensial sekali.

“Jadi dalam munas ini, gerak gerik Jokowi patut pula diperhatikan. Jokowi lebih condong ke siapa,” kata dia.

(Abdul Hamid)