Tokoh Nasional Rizal Ramli saat hadir pada acara seminar dengan tema "Renstra Apperti di Era Digital Disruption Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan Tantangan Kerusakan Karakter Manusia di Perguruan Tinggi" yang diselenggarakan Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi (Apperti) di Kampus Universitas Yarsi Jakarta, Jumat (5/1). Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, perguruan tinggi di Indonesia harus mulai tidak hanya terfokus pada formalitas seperti akreditasi atau sekadar mengejar angka sertifikasi dosen saja. Namun hal yang lebih utama adalah membangun budaya akademik. Apperti juga mengangkat  Rizal Ramli sebagai Dewan Penasehat. AKTUAL/HO

Jakarta, Aktual.com – Rizal Ramli sebagai tokoh nasional dan ekonom pro-rakyat dinilai pantas menjadi calon presiden atau wakil presiden dengan visi misi mewujudkan ekonomi kerakyatan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Demikian disampaikan tokoh buruh M Iqbal dalam Rapat Pimpinan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (RAPIM FSPMI) yang diselenggarakan pada 7 – 9 Februari 2018 di Hotel Royal Kuningan, Jakarta.

Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) Edy Mulyadi dalam artikelnya berjudul ‘Dicari, Pemimpin Kualitas Global Bukan Gombal!’ mengatakan kunjungan Rizal ke Jepang dan bertemu dengan banyak orang, mulai dari pejabat dan mantan pejabat Jepang, kalangan bisnis, sampai sejumlah profesor dan peneliti menunjukkan kemampuannya membangun dan memelihara hubungan internasional. Kelebihan ini akan melengkapi kapasitas dan kapabilitas pemimpin dalam memecahkan masalah yang dihadapi negerinya.

Dengan kemampuannya, diyakini mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik. Tidak berlebihan jika nama Rizal Ramli berpeluang menjadi satu calon calon presiden.

“Perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik akibat salah urus. Salah satunya adalah pembangunan yang dijalankan dengan utang,” ujar Rizal dilansir dari Konfrontasi, Minggu (11/2).

Dalam kesemapatan ini, Rizal juga kembali menyampaikan kritinya terhadap Sri Mulyani yang mengatakan; “Jadi mahasiswa UI yang mau kasih kartu kuning atau demo, harus sudah lulus kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro dulu.”

Pernyataan ini disampaikan Sri Mulyani saat sedang mengisi kuliah perdana untuk mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro di Fakultas Ekonomi Bisnis UI. Menteri Keuangan ini mengkritik aksi Zaadit Taqwa yang memberi kartu kuning dalam acara Dies Natalis ke 68 UI.

“Ternyata norak banget. Demokrasi boleh saja beda pendapat. Ikut kuliah percuma, wong situ bisanya cuma minjem dengan bunga tinggi, yield bonds RI 2 hingga 3 persen lebih tinggi dari Thailand, Philipina dan Vietnam. Itu rugikan Indonesia miliaran dollar tahu? Situ belajar lagi basic finance ya,” jelas Rizal.

Para buruh menegaskan, rakyat ingin perubahan dan RR tokoh yang paling representatif untuk wujudkan perubahan yang intinya keadilan, perikemanusiaan,kesetaraan, anti-korupsi, anti-penindasan dan pemerintahan yang bersih, lurus.

(Eka)