Jakarta, Aktual.co — Peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, kehadiran Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden membawa atmosfer baru dalam politik nasional.
“Kehadiran kedua tokoh bangsa ini semakin mendinginkan suhu politik nasional dan memunculkan semangat ‘holopis kuntul baris’, setidaknya untuk sementara waktu,” kata Karyono Wibowo saat dihubungi di Jakarta, Senin (20/10).
Karyono mengatakan istilah “holopis kuntul baris” dipopulerkan Presiden Soekarno yang artinya kurang lebih sama dengan peribahasa Jawa saiyeg saeka praya, yang artinya seiya sekata atau sederhananya gotong royong.
Pepatah itu kerap diucapkan Soekarno untuk membangkitkan semangat persatuan nasional yang sempat terkoyak akibat pertikaian politik saat itu.
“Saya berharap semangat itu bisa menjadi atmosfer baru dalam perpolitikan nasional sehingga tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bisa segera terwujud,” kata dia.
Menurut Karyono, Soekarno menggelorakan “holopis kuntul baris” untuk membangkitkan semangat persatuan bangsa dalam rangka mewujudkan Indonesia yang kuat, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Para pendiri bangsa sangat menyadari persatuan nasional menjadi kata kunci untuk mewujudkan kemerdekaan yang telah dikumandangkan di hadapan rakyat Indonesia.
“Melihat perkembangan politik terbaru, saya rasa Pak Jokowi dan Pak Prabowo serta para elit politik yang mulai menunjukkan sikap kedewasaan dalam berpolitik patut dibanggakan dan diapresiasi,” kata dia.
Jokowi-JK resmi menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia setelah dilantik melalui Sidang Paripurna MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Prabowo-Hatta ikut hadir dalam sidang tersebut.
Pelantikan tersebut dihadiri mantan presiden dan wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, mantan presiden BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri, mantan wakil presiden Try Sutrisno dan Hamzah Haz serta pimpinan partai politik dan sejumlah pimpinan negara-negara sahabat.
Pelantikan Jokowi-JK itu juga menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya presiden yang digantikan oleh presiden terpilih hadir dalam acara tersebut. Dalam Sidang Paripurna MPR, Jokowi duduk bersisian dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan JK bersebelahan dengan Boediono.

()

()