warga sedang memetik sorgum
warga sedang memetik sorgum

Jakarta, Aktual.com – Kelompok Tani Santa Klara Peot, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT yang didirikan pada 2010 fokus pada kegiatan produksi pangan lokal.

“Selama ini berbagai pangan lokal telah diproduksi. Kini mereka mulai memproduksi camilan stik dan biskuit berbahan dasar tepung sorgum,” ujar tokoh milenial Manggarai Timur Frumensius Fredrik Anam yang biasa disapa Mensi Anam, Kamis, (21/7).

Mensi Anam mengatakan bahwa sekitar 400 bungkus biskuit sorgum akan dikirim ke Jakarta.

Mereka juga pesan ke beberapa toko atau kios di sekitar Kota Borong bahkan hingga Kota Labuan Bajo.

Tepung sorgum diperoleh dari Paroki Robek Kecamatan Reo Barat, Kabupaten Manggarai dengan harga Rp 30.000 per kilogram.

Mensi Anam menjelaskan, sorgum termasuk makanan bergizi. Sorgum juga menjadi makanan yang direkomendasikan untuk mengatasi stunting.

Di wilayah utara Manggarai Timur lagi ramai penggalakan penanaman dan budi daya sorgum.

“Dahulu, tanaman ini menjadi tanaman sisipan sebagai pembatas antar pemilik huma/ladang satu dengan yang lainnya. Biasanya pada ladang yang berbentuk jaring laba-laba (lingko). Sorgum menjadi makanan tambahan, bukan makanan utama. Petani ladang tetap fokus pada tanaman padi,” jelasnya.

Kini tanaman sorgum, lanjut Mensi Anam, tidak lagi menjadi tanaman sisipan melainkan digalakkan untuk menjadi tanaman utama.

Sorgum cocok pada iklim tropis seperti di Kabupaten Manggarai Timur bagian utara.

Mensi Anam menambahkan, dalam beberapa kesempatan kunjungan Presiden Jokowi di NTT menyampaikan agar NTT membudidayakan sorgum secara masif karena iklim dan tanahnya sangat cocok.

Mensi Anam menjelaskan bahwa ia dulu kerap menyantap sorgum yang dicampur dengan beras. Selain itu, sorgum juga dapat digoreng. Menurut Mensi Anam, rasa sorgum seperti ketan.

Menurut Camat Lamba Leda Utara (LAUT) Agustinus Supratman, terdapat panen raya sorgum organik di kebun contoh sorgum milik pemerintah seluas satu hektar di wilayah Ntaur – Dampek, Desa Satar Padut.

Agustinus menjelaskan, program tanam sorgum di Lamba Leda Utara diwajibkan juga ke semua desa.

“Tahun ini 11 desa wajib buat kebun contoh sorgum milik desa dengan luas masing masing 1 hektar. Sudah berjalan dan adabyang sudah panen,” ujar Agus.

Dia meminta, masyarakat umum juga bisa lakukan hal yang sama.

“Saya minta masyarakat bergerak bersama untuk hal yang sama, yaitu sorgum. Tanaman ini gizi tinggi, bisa mengatasi gizi buruk dan stunting,” kata Agus.

Agustinus menambahkan belum lama ini Bupati Manggarai Timur Agas Andreas dan Vikaris Jenderal Ruteng Romo Alfons Segar, Pr melakukan panen sorgum di Kecamatan Lamba Leda.

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan LAUT, Gonsi Geta, kepada media menjelaskan, bahwa program ini bertujuan untuk mengangkat derajat kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

“Melalui budi daya sorgum organik, masyarakat memiliki kesempatan untuk menambah aktivitas dibidang pertanian sekaligus menambah penghasilan lewat bercocok tanam sorgum dan mengangkat derajat kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan penguatan ekonomi masyarakat,” Kata Gonsi

Dia menginformasikan, usia panen sorgum lebih kurang tiga bulan dua minggu.

“Kami tanam tanggal 28 Desember 2021 dan kami panen hari ini. Itupun panen hari ini kategori terlambat karena jadwal kegiatan kantor cukup padat dan baru kami panen hari ini. Mestinya panen minggu lalu,” ucap Gonsi

Sorgum ini terdiri dari tiga varietas lanjutan yaitu suri 4, numbu, dan super 2.

(Arie Saputra)