Surabaya, Aktual.com – DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berkali-kali batal mengumumkan siapa yang maju dalam kontestasi Pemilu Wali Kota Surabaya 2020. Padahal, siapa sosok calon pengganti Tri Rismaharini sudah begitu dinanti-nantikan oleh para pendukung fanatik PDIP.

Rencana awalnya, Cawali dan Cawawali Kota Surabaya akan diumumkan pada Jumat 28 Agustus kemarin. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Politik dan Keamanan, Puan Maharani yang membacakan rekomendasi tersebut beralasan gangguan sinyal lah yang mengakibatkan rekom untuk Cawali Surabaya tidak jadi dibacakan.

“Provinsi Jawa Timur? Ada? DPD (PDIP) Jawa Timur. DPD Jawa Timur ada? Jawa Timur ada? Bermasalah (jaringannya). Ada yang standby hadir atau tidak sama sekali? Ada? Ndak masuk DPD Jawa Timur? DPC Surabaya ada? Nggak ada?” kata Puan dalam siaran Live di kanal YouTube PDIP.

“Baik hadirin, demikian, akhir-akhir ini salah satu hal yang kemudian banyak diperbincangkan di kalangan politik dan media adalah terkait Kota Surabaya. Bahwa saya bisa sampaikan. Ini karena Jawa Timur tidak masuk DPD dan DPC. Bahwa sudah ada nama-nama yang akan nanti diumumkan terkait calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kota Surabaya,” jelas Puan.

Menurut Pengamat Politik dari Universitas Wijaya Kusuma Kota Surabaya, Drs Sucahyo Tri Budiono MSi, pembatalan pengumuman nama untuk calon di Surabaya akan membuat massa akar rumput PDIP kecewa. Hal itu bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari para kader partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu.

“Saat ini rakyat Surabaya terutama kader PDIP menunggu kepastian sosok seperti apa yang diusung DPP PDIP. Sayangnya pernyataan yang disampaikan Mbak Puan Maharani (Ketua Bidang Politik DPP PDI-P Bidang Politik) sebagai bentuk kegalauan kader banteng di Pilwali Kota Surabaya,” kata Sucahyo.

Selain membuat para kader kecewa. Kata Sucahyo, penundaan keputusan nama Cawali dan Cawawali Kota Surabaya juga membuat massa pendukung fanatik partai berlogo banteng moncong putih itu tidak lagi mempunyai kebanggan seperti pada Risma sebelumnya.

“Melihat gestur (Puan) saat menyampaikan penundaan, ada pesan galau, jika hingga siang ini belum ada calon yang pas untuk didorong maju pilwali Kota Surabaya,” tambahnya.

Dekan Fisip UWKS ini menerangkan, mepetnya waktu pendaftaran ke KPU, harusnya menjadi langkah cepat bagi PDIP untuk menentukan nama yang bakal diusungnya. Apalagi dari kubu sebelah, Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno sudah mengantongi dukungan 8 partai politik.

“Mungkin belum menemukan sosok calon yang pas untuk berhadapan dengan Machfud-Mujiaman. Harus ada penerus Tri Rismaharini. Ternyata sampai saat ini belum ada sosok yang pas untuk kepentingan menuju kursi balai kota,” pungkasnya.

(As'ad Syamsul Abidin)