Jakarta, Aktual.com Sultonul Awliya Wa Imamul Qutub Sidi Syeikh Abdul Qodir al Jilani seorang ulama besar Islam yang lahir di Tsumaitsaroh sebuah daerah di utara Iran. Dimana haulnya sering diperingati oleh pecintanya, termasuk umat islam Indonesia khususnya para muhibbin seluruh dunia. Dan pada tahun ini jatuh tahun haul yang yang ke-881.

Biasanya diantara rangkaian acara haul tersebut adalah dibacakannya manaqibnya (biografi) dari Sultoonul Awliya Seikh Abdul Qodir al Jilani.
Di dalam kitabnya “Nasooihul Liwasiatil Al Jilani” Sidi Syeikh Abdul Qodir memulai dengan perintah kepada ummatnya untuk berlaku As Shidqu (Jujur). Karena Sidqu ini adalah salah satu akhlaqnya para nabi-nabi Allah SWT.

Di dalam Al-Quran surat Annisa (4): ayat 69 mengatakan yang artinya:

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah (yaitu) para nabi, para pencinta kejujuran, orang orang yang mati syahid dan orang orang yang saleh. Mereka itulah teman yang sebik baiknya.” (Annisa: 69)

Sifat jujur ini ternyata mendapat derajat (martabat) yang ke dua setelah derajat kenabian kemudian para syuhada dan orang orang soleh.

Di dalam Al-Quran surat yang lain. Juga menggambarkan derajat Sidiq di bawah derajat kenabian. “Jangan takut. Sesungguhnya Allah bersama kita”.

Orang yang di dalam dirinya masih ada rasa  kekhawatiran dan ketakutan berarti di dalam dirinya belum ada rasa Shidiq itu (percaya).
Oleh karena itu orang Siddiq adalah pewaris daripada kenabian. Demikian ujar syeikh Abdul  Qodir al Jilani. Sebagaimana sayyidina Abu Bakar mendapat gelar As Siddiq menjadi pengganti pertama selepas beliau wafat.

Asshodiqu Waritsi Annabiy

Diceritakan oleh beliau bahwa ibundanya yang bernaa Siti Fatimah binti Abdullah as Sahomai mendapat wasiat dari orang tuanya (kakek) syeikh Abdul Qodir agar mengirimkan anaknya ke Baghdad untuk belajar disana, dan ibunya  mewasiatkan kepada sidi syeikh Abdul Qodir Jailani agar jangan sekali sekali berbohong sepanjang hidupnya. Dan dari situlah keberkahan yang didapatnya akhirnya mendapat semua keberkahan ilmu, keberkahan dunia, keberkahan dan keluhuran  keluhuran lainnya. Dan akhirnya anak keturunannya menjadi putra putri yang solih solihah.
Adapun kebalikan sifat sidqu atau  Lawannya sidqu adalah sifat Al Kizib (bohong). Dan sifat kizib ini adalah waritsan dari setan. Iyyaka wal kaazzibu, wahai putraku berhati hatilah dan menjauhlah dari sifat kizb (bohong) itu.

Demikian wasiat dari sidi Syeikh Abdul Qadir Jailani bahwa ketik seseorang itu memiliki karakter bohong, maka dia akan tertolak (mardud) dari rangkulan Rasulullah SAW dan tertolak dari Allah SWT.

Orang yang berkarakter berbohong ini jika mengetahui dahsyatnya kerugian akibat dari sikapnya berbohong tersebut dia akan memotong lidahnya bukan dengan gunting, melainkan memotong dengan giginya sendiri.
Demikian.

Wassalam.

(Ahmad Himawan)

(A. Hilmi)