Muktamirin yang menggunakan ID Card dilengkapi dengan barcode menuju ruang Pleno I pembahasan dan pengesahan tata tertib Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Minggu (2/8/2015). Ribuan muktamirin mendapatkan ID Card kosong tanpa barcode hanya bisa digunakan untuk menghadiri pembukaan Muktamar. Sedangkan untuk mengikuti sidang, harus menggunakan ID Card yang lengkap dengan nama, foto dan barcode. Sidang tersebut dijaga ketat oleh petugas banser.

Surabaya, Aktual.com — Khatib Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Malik Madani mengatakan sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA) akan ditentukan dalam pembahasan tata tertib (Tatib) atau Pleno I.

Pembahasan tatib dilaksanakan usai proses screening peserta selesai. Padahal, pembahasan tatib sedianya digelar pada Sabtu (1/8) malam. Namun karena registrasi belum selesai diundur pada Minggu (2/8) pagi.

Apakah molornya registrasi dan screening peserta berdampak pada sidang pleno lainnya? Malik Madani menepisnya.

“Insya-Allah tidak, habis ini akan segera dibuka. Lalu ditawarkan dulu ke peserta, apakah langsung dimulai ataukah break dulu untuk makan siang,” terangnya disela-sela muktamar di Alun-alun Jombang, Jatim, Minggu (2/8).

Mengenai sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang memunculkan pro dan kontra, muktamirin yang akan menentukannya.

“Nanti ditawarkan dulu ke peserta. Kalau aspirasi mayoritas setuju AHWA, oke, kalau tidak ya tidak,” katanya.

“Nanti yang pimpin Mas Slamet Effendi, tapi kita jaga-jaga, kalau Mas Effendi berhalangan atau apa kita siap-siap supaya peserta tidak resah,” sambung Malik.

(Faizal Rizki Arief)

Artikel ini ditulis oleh: