Jakarta, aktual.com – KODI DKI Jakarta kembali menggelar Pengajian Bulanan Fiqhud Dakwah di Gedung Graha Mental dan Spiritual DKI Jakarta, Rabu (16/10).

Kegiatan ini diikuti oleh para Pengurus KODI, beberapa pimpinan lembaga-lembaga dakwah, aktifis dakwah, ustadz dan ustadzah dan masyarakat umum Ibu Kota.

Salah satu diantara acara rutinan bulanan ini diadakan Pengukuhan Syiar Dai Institute, organisasi yang pengurusnya adalah Alumni Pendidikan Kader Muballigh (PKM) KODI DKI Jakarta dengan masa bakti tahun 2019-2022.

KH. Jamaludin F. Hasyim sebagai Ketua KODI DKI Jakarta yang mengukuhkan sekaligus mengucapkan selamat kepada para pengurus Syiar Dai Institute.

“Selamat Kepada Syiar Dai Institute, semoga semakin solid, terorganisir, aktif sebagai lembaga dakwah yang memberi manfaat bagi warga DKI Jakarta khsusunya,” katanya.

Hadir juga Mudir Aam JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyah), KH. Wahfiudin Sakam. Beliau mengucapkan selamat kepada KODI DKI dan kepada Syiar Dai Isntitute yang baru saja dikukuhkan,.

“Penggunaan kata ‘institut’ mencerminkan adanya semangat ilmiah dan akademis, dalam mengelola syiar dakwah ini. Maka organisasi ini, selain mengelola kegiatan dakwah secara konvensional, seharusnya juga menyelenggarakan kegiatan ilmiah seperti riset dan pengembangan atas segala hal yang terkait dengan dakwah, baik objek, lingkungan, pendekatan, metode, media dan muatan dakwah”, ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan Pengajian Fiqhud Dakwah oleh Prof. KH. Syukron Ma’mun. “Saya berterimakasih sekali kepada Ketua KODI DKI Jakarta, yang masih bersedia mengadakan dan memfasilitasi kegiatan seperti ini di tengah-tengah keadaan umat yang sudah semakin hilang rasa malunya karena nyaman dengan perilaku yang sudah di luar nilai-nilai agama”, katanya.

Dalam mengapresiasi kegaiatan ini beliau mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad Saw., “Rasulullah saja pernah bersabda bahwa barangsiapa yang menghidupkan sunnahnya di tengah-tengah keadaan umat yang sedang rusak, maka baginya akan mendapatkan pahala orang yang mati syahid”, imbuhnya.

(Zaenal Arifin)