Jakarta, Aktual.com — Islam tentunya tidak hanya dapat dipahami sebagai sebuah kumpulan ritualitas-ritualitas yang ‘monolitik’ sebagaimana terangkum dalam Rukun Islam yang lima. Tetapi Islam sesungguhnya adalah sebuah sistem hidup yang sangat fundamental dan holistik. Artinya, Islam tidak hanya berbicara mengenai “ubudiyyah” dalam konteks hubungan interpersonal dengan Allah SWT (Hablum Minaallah), namun lebih dari itu Islam juga mengandung tuntunan hidup secara terperinci

Secara naluri dalam fitrahnya, manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Maka dari itu, semua manusia baik muda maupun tua, anak kecil maupun orang dewasa berusaha untuk mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya.

Oleh sebab itu, tak heran jika semua anak kecil tatkala melihat atau mendengar sesuatu yang asing baginya pasti mereka akan bertanya, baik kepada orang tua atau orang yang dekat dengannya. Hal demikian karena secara insting anak ingin mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya itu. Tetapi sebelum bertanya, tentunya mereka juga sudah meraba-raba apakah hal tersebut dan untuk memastikannya mereka lalu bertanya kepada orang lain.

Jadi, pada dasarnya memang semua manusia telah ‘membaca’ dalam arti luas namun belum terstruktur sebagai upaya untuk menghimpun pengetahuan dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial. Bahkan, wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ‘Iqra’ atau ‘membaca’, meskipun Beliau dalam kondisi Ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis, red).

Mengapa Iqra’? secara etimologis Iqra’ diambil dari akar kata qara’a yang berarti ‘menghimpun’, sehingga tidak selalu harus diartikan ‘membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu’. Selain bermakna ‘menghimpun’, kata qara’a juga memiliki sekumpulan makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

Allah SWT berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-‘Alaq : 1).

“Dan apabila kita membicarakan membaca tentunya yang berkaitan dekat dengan kata membaca ini adalah buku. Apalagi di zaman sekarang sebuah buku amatlah penting dalam kehidupan kita, karena dengan sebuah buku kita bisa mengerti apa yang tak pernah kita ketahui dan tak salah jika pernah ada pepatah yang mengetakan jika ‘Buku adalah sebuah jendela dunia’,” terang Ustad Syarif Hidayatullah kepada Aktual.com, Jumat (22/04), di Jakarta.

Lantas adakah kriteria buku yang baik atau bagus untuk keluarga Muslim, khususnya diperuntukkan untuk anak-anak?.

“Jika membicarakan buku untuk anak tentunya kita sebagai orang tua ingin memberikan bacaan yang baik kepada anak, dan bagi keluarga muslim mungkin bisa saja memberikan buku cerita tentang perjuangan para Nabi-nabi terdahulu. Mengapa demikian, karena untuk anak biasanya mereka lebih suka terhadap sebuah cerita dan lagi saat ini amat disayangkan bahwasannya anak-anak saaat ini lebih hafal akan cerita kartun-kartun dan sinetron dibandingkan dengan kisah para Nabi dan sahabatnya,” katanya lagi.

“Oleh karena itu seharusnya sejak dinilah kita sebagai orang tua harus berusaha agar anak lebih senang membaca dari pada bermain atau menonton televisi akan tetapi jangan memakai kekerasan untuk menyuruh anak untuk membaca buku, karena biasanya bagi permulaan anak-anak akan merasa jenuh dengan membaca oleh karena itu untuk awalnya berikan anak kisah perjuangan nabi dan para sahabat dalam membela agama Allah SWT, dengan demikian Insya Allah sang anak akan merasa semakin penarasaran dan mereka akan mencari buku-buku lain untuk mereka baca,” papar ia menambahkan.

Masih dari Ustad Syarif, alangkah baiknya kebiasaan membaca buku pada anak dilatih saat ia berusia enam bulan. Walaupun mereka belum bisa membaca dan berbicara. Namun, kita sebagai orang tua cukup membacakan buku tersebut kepada anak karena hal ini telah terbukti bermanfaat dari riset penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dunia. Bersambung……

()