Jakarta, Aktual.com — Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad menyebut, kasus warga negara asing (WNA) asal China yang melakukan pengeboran ilegal di Halim Perdanakusuma untuk pembangunan kereta cepat harus dianggap serius oleh pemerintah.

Pasalnya, hal itu menjadi pertaruhan wibawa bangsa di mata internasional. Meski saat ini memang, di mata dia, lima WNA China itu sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM.

“Penetapan tersangka terhadap lima WNA China itu memang patut diapresiasi. Tapi memang wibawa bangsa tetap harus ditegakkan,” ujar Dasco di Jakarta, Senin (9/5).

Dasco juga menegaskan, proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung memang cukup kontroversial dan menyita perhatian publik. Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mendukungnya.

Sehingga semula dengan adanya penangkapan lima WNA, publik sempat khawatir, jangan-jangan akan ada intervensi terhadap Ditjen Imigrasi itu.

“Tapi dengan penetapan tersangaka tersebut telah memupus keraguan publik yang sempat khawatir akan adanya intervensi dari pihak-pihak tertentu kepada Ditjen Imigrasi,” tandas dia.

Pasalnya, bukan apa-apa, proyek kereta cepat itu dianggap mereka proyek bergengsi dan akan menelan investasi yang mencapai Rp80 triliun.

“Jadi ketegasan Ditjen Imigrasi itu sebagai bentuk penegakan wibawa bangsa Indonesia di dunia internasional. Mengingat pengeboran tersebut terkait dengan proyek kereta cepat yang nilai investasinya sangat besar,” papar Dasco.

Sehingga, lanjut dia, dengan penetapan tersangka ini, pesan yang disampaikan adalah siapapun termasuk WNA China tidak boleh main-main dengan negara Indonesia.

“Karena kita tidak akan pernah mentolerir setiap bentuk pelanggaran hukum dan perundang-undangan,” tegas dia.

Lebih jauh ia menegaskan, dalam konteks ini pihak Imigrasi relatif bekerja cepat. Ini tentu sebuah keteladanan dalam hal transparansi. Soalnya, selama ini informasi yang disampaikan kepada publik melalui media massa sangat jelas dan detail.

“Sehingga tidak ada ruang untuk munculnya spekulasi dan praduga yang tidak pas,” pungkas Dasco.

()