Suasana jual beli sapi berlangsung di Pasar Hewan Pon, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/9). Harga sapi setempat mengalami kenaikan antara Rp2 juta hingga Rp3 juta selama dua pekan terakhir dan diperkirakan harganya meningkat saat semakin dekat dengan Hari Raya Idul Adha. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz/15.

Bogor, Aktual.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat diimbau selektif memilih hewan qurban dengan memperhatikan kondisinya harus memenuhi standar ASUH (aman, sehat, utuh dan halal), juga kondisi kandang atau tempat pemeliharaan hewan kurban sapi maupun domba atau kambing.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB Ardilasunu Wicaksono, mengatakan kondisi kandang atau tempat penjualan hewan yang kurang terawat seperti pedagang yang berjualan di pinggir jalan, akan mempengaruhi kondisi kesehatan hewan kurban.

“Kondisi tempat penjualan hewan khususnya di tepi jalan, ini kurang memperhatikan kesehatan hewan. Karena kalau ada kotoran di sekitarnya akan berpengaruh pada kesehatan hewannya,” katanya di Bogor, Minggu (6/9).

Ardilasunu mengatakan, sejak tahun 1983 Fakultas Kedokteran IPB memberikan pendampingan pemeriksaan kesehatan hewan dan daging kurban di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan beberapa daerah lainnya. Dari hasil pendampingan itu beberapa kasus ditemukan diantaranya penyakit cacing hati pada hewan sapi kurban.

Menurut dia, penyakit cacing hati hewan kerap dijumpai pada hewan sapi lokal dan sangat jarang ditemui pada sapi impor. Hal ini berkaitan dengan manajemen penangkaran atau pemeliharaan sapi lokal yang masih tradisional.

“Pola penangkaran sapi lokal masih tradisional, dibebaskan berkeliaran di luar. Ini berpeluang membuat sapi memakan makanan yang asal-asalan, yang memicu masuknya cacing kedalam tubuh sapi. Berbeda dengan penangkaran sapi impor yang sudah steril dalam kandang, makan dan kualitas pakannya terjamin,” katanya.

Dia mengatakan, manajemen penangkaran sapi impor dapat jadi pembelajaran yang bisa diterapkan oleh pemilik sapi lokal. Karena bagaimanapun kualitas daging yang dimiliki sapi lokal jauh lebih bagus dari sampi impor. Hanya saja buruknya pemeliharaan membuat sapi mudah terserang penyakit.

Tidak hanya itu, sistem transportasi pengiriman hewan kurban juga kurang memperhatikan kesejahteraan hewan. Kondisi ini dapat memicu sapi atau domba stres, bila hewan stres akan berpengaruh pada kesehatan yang berdampak pada kualitas dagingnya.

“Pemerintah harusnya mengawasi tempat-tempat penjual hewan kurban, apakah sudah memperhatikan standar kebersihan dan kesehatan hewannya. Seperti di Jakarta sudah dilarang berjualan hewan kurban di pinggir jalan, ini bukan karena alasan kebersihan, tetapi ini berpengaruh juga pada kesehatan hewannya,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk memilih hewan kurban yang bagus, selain memperhatikan lokasi penjualannya, juga memenuhi standar ASUH. Konsumen dapat memilih dengan memperhatikan kondisi fisik hewan haruslah sehat. Hewan yang sehat dapat dilihat dari kelincahannya, tidak menyendiri. Untuk hewan jantan yang sehat suka melakukan aktivitas alamiahnya seperti saling menaiki, memiliki mata yang cerah, kulit tidak kusam, anusnya tidak ada diare.

“Yang penting tidak hanya sehat, tetapi kelayakan umur juga mencukupi, agar hewan kurban halal,” katanya.

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat adalah sebelum melakukan penyembelihan, harusnya hewan kurban dipuasakan sehari sebelumnya. Tujuannya memudahkan pembersihan, aliran darah lancar.

“Puasa makan selama 12 jam, tetapi tetap diberi minum,” katanya.

(Ant)

()