Semarang, Aktual.com – Meski divonis mengidap HIV/AIDS, Wijianto (33) justru bertekad keliling Nusantara. Tidak main-main, dia lakukan niatannya dengan berjalan kaki.

Alasannya sederhana saja. Pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur 7 November 1982 itu ingin membuktikan dirinya tetap bahagia dan kuat. Meski mengidap virus mematikan yang belum ada obatnya.

Berjalan kaki dari Jakarta sejak 7 November 2015, Senin (14/12) malam Wijianto tiba di Semarang. Memakai topi dan kaos oblong warna putih, tepat saat Semarang sedang diguyur hujan lebat sejak siang.

Dalam penuturannya, sejumlah kota dilalui selama perjalanan Jakarta-Semarang. Yakni: Bogor – Ciawi- Sukabumi-Cianjur – Cimahi – Bandung – Sumedang – Majalengka – Cirebon – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Batang dan Kendal.

“Berjalan kaki di Semarang sudah lima belas hari hari saya berjalan. Start perjalanan keliling Indonesia pada tanggal kelahiran saya. Saya ingin membuktikan, meski mengidap HIV/AIDS tetap bisa jalan dan beraktifitas,” ujar dia, saat jadi pembicara masalah HIV/AIDS di Semarang Utara, Selasa (15/12).

Bermodalkan semangat, Wijianto mengaku selalu memberi motivasi kepada sesama pengidap HIV/AIDS di tiap kota yang disinggahi. “Saya ingin patahkan pendapat bahwa ODHA itu terpuruk dan lemas. Buktinya saya bisa kuat, kita masih berbuat lebih,” tegas bapak satu anak ini.

Saat menuturkan kisah hidupnya, perasaan haru menyeruak. Cerita dia, awal mula terjangkit penyakit HIV/AIDS di tahun 2011. Pergaulan menyimpang saat bekerja di Surabaya, diakuinya membuat dirinya terkena penyakit itu. Bersama teman-temannya, dia kerap mengkonsumsi narkoba jenis putaw menggunakan jarum suntik selama tiga tahun, di tahun 2002-2005.

“Dulu kenal cewek disuruh coba-coba narkoba. Saya ikut-ikutan dan pada 2011 lalu sakit parah. Ternyata setelah dites HIV positif, ” kata dia.

Mengetahui terinfeksi HIV/AIDS, Wijianto mengaku saat itu sangat terpukul dan sempat terpuruk. Apalagi hal itu setelah dia menikah dan memiliki satu orang anak. “Tapi alhamdulillah, isteri dan putri kesayangan kami negatif HIV/AIDS,” ujar pria yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat itu.

Penderitaan Wijianto tak berhenti di situ. Karena penyakit yang diidapnya, pria yang akrab disapa Gareng itu harus berpisah dengan isteri dan anaknya. Meski hancur, dalam keyakinannya Wijianto masih memiliki harapan untuk terus bertahan. Hingga akhirnya ia masih terus “survive” sampai saat ini.

Rencananya, Wijianto singgah di Semarang selama dua hari. Beberapa kali dia jadi pembicara di berbagai forum di Semarang. Seperti di forum warga, kampus hingga bertemu dengan para penyandang ODHA. Besok, Kamis, dia akan lanjut jalan kaki ke Magelang dan Yogyakarta. “Setelah itu baru ke luar pulau Jawa, ” kata dia.

()