Jakarta, Aktual.co — Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan investasi menjadi harapan untuk dapat keluar dari perlambatan ekonomi global dunia.
“Kita mengupayakan agar tahun 2015 kita bisa keluar dari tren perlambatan pertumbuhan global ini. Caranya, kalau konsumsi tidak bisa diharapkan terlalu banyak demikian juga ekspor, satu-satunya harapan adalah mendorong investasi,” kata menteri dalam Seminar “Strategi Mewujudkan Arsitektur Sistem Keuangan dan Perbankan Nasional yang Tangguh”, Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (13/5).
Ia mengatakan investasi yang juga memiliki peranan penting adalah peranan pemerintah dalam pembiayaan infrastruktur. “Salah satu bagian dari investasi adalah investasi dari pemerintah sendiri terutama melalui belanja pemerintah termasuk belanja infrastruktur,” ujarnya.
Pemerintah memperoleh pembiayaan infrastruktur dari berbagai instrumen misalnya surat berharga rupiah dan non rupiah sebagai pelengkap. Kemudian, pemerintah juga berupaya memperluas basis investor, melakukan manajemen portofolio yang aktif dan memperkuat peran badan usaha milik negara misalnya melalui penyertaan modal negara. “Dan kita selalu menjaga hubungan dengan investor,” ujarnya.
Ia mengatakan sumber keuangan untuk pembiayaan pembangunan itu sebenarnya tersedia hanya bagaimana menjaga kepercayaan investor baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ia mengatakan pentingnya peningkatan dana pihak ketiga baik di perbankan maupun pasar modal untuk menjaga kontribusi aktif masyarakat terhadap perekonomian nasional.
Ia mengatakan di tengah kinerja sektor keuangan Indonesia yang masih positif ada berbagai tantangan yang perlu diperhatikan seperti perlambatan ekonomi dunia.
Ia mengatakan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) juga telah mengubah prediksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen berdasarakan World Economic Outlook IMF 2015. “Ini sudah menurun dibandingkan prediksi sebelumnya pada awal Januari 2015 masih di sekitar 5,6 persen. hal yang memang tidak mudah,” ujarnya.
Ia mengatakan beberapa negara dengan perekonomian besar juga mengalami perlambatan seperti Tiongkok, perkiraan untuk Tiongkok 2014 itu masih 7,4 persen terealisasi tetapi 2015 diperkirakan hanya 6,8 persen.”Prediksi 6,8-7 persen di Tiongkok lebih masuk akal yang mana biasanya dulu di atas 10 persen dalam jangka waktu yang begitu lama,”katanya.
Selain perlambatan ekonomi global, ada juga risiko global yang dikenal sebagai normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. “Memang proses ‘recovery’ (pemulihan) ekonomi di Amerika Serikat sudah berjalan sudah dianggap ada hasilnya tetapi banyak pihak di Amerika sendiri masih menganggap itu belum stabil, stabil dalam konteks penciptaan lapangan kerja pengurangan pengangguran,” tuturnya.
Selain itu kekhawatiran itu, satu hal yang menjadi pusat perhatian di Amerika Serikat adalah gejala super dolar. “Mulai banyak pihak di Amerika Serikat khawatir super dolar ini nanti malah menjadi penghambat dari proses ‘recovery’ Amerika Serikat, karena dolar ini mahal yang mempengaruhi daya saing ekspor,” ujarnya.
Ia mengatakan Amerika Serikat juga harus bersaing dengan banyak negara dalam kegiatan ekspor. Ia mengatakan gejala super dolar itu tidak hanya berdampak pada negara-negara lain dengan efek pelemahan mata uang namun juga pada Amerika Serikat sendiri.
Pelemahan mata uang itu tentu dirasakan oleh negara-negara yang berkembang seperti Indonesia, ujarnya. Belum lagi tantangan lainnya dengan harga minyak dunia yang turun telah menyebabkan harga komoditas menurun. Padahal, katanya, pasar Indonesia masih tergantung pada komoditas.

Artikel ini ditulis oleh: