Menteri Sosial Juliari Pieter Batubara.
Menteri Sosial Juliari Pieter Batubara.

Jakarta, aktual.com – Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara meminta kepada keluarga dan masyarakat secara luas untuk memberikan perhatian lebih dan pemahaman yang baik kepada anak guna menghindari kemungkinan anak menjadi pelaku dari perilaku yang menyimpang atau menjadi korban kekerasan.

“Yang utama adalah keluarga. Keluarga itu kan unit terkecil. Orang tuanya harus mengawasi dengan baik dan memberikan pelajaran hidup (yang baik pula),” kata Menteri Sosial Juliari Batubara dalam acara kunjungan ke Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Handayani Jakarta, Rabu (15/1).

Perhatian khusus dan pelajaran hidup yang baik dari keluarga tersebut, menurut dia, sangat dibutuhkan oleh anak sehingga mereka dapat memiliki landasan hidup yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh perilaku yang menyimpang.

Selain itu, dengan memberikan pelajaran dan pemahaman yang penting kepada anak, anak dapat memahami cara melindungi diri dari perlakuan keras atau perilaku sosial yang menyimpang yang dapat saja muncul di tengah masyarakat.

“Makanya pertama orang tua harus terus kasih masukan ke anaknya, bimbing,” katanya.

“Jadi bukan hanya sekadar pelajaran matematika. Kalau itu di sekolah saja. Tapi kalau di rumah orang tua perlu diberikan┬ápelajaran hidup. Kamu itu (harus) begini kalau anak perempuan. Kamu itu (harus) begini kalau anak laki-laki. Itu saja belum tentu berhasil. Begitu dia keluar, salah bergaul, ya jadi,” tambahnya.

Ia mengatakan dalam upaya rehabilitasi untuk anak, Kementerian Sosial telah menerima banyak anak yang memerlukan perlindungan khusus yang tergolong dalam kelompok kasus yang berbeda-beda, antara lain anak dalam situasi darurat, berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, korban eksploitasi ekonomi dan atau seksual, serta anak korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Kemudian, anak terkena HIV/AIDS, anak korban pornografi, penculikan atau perdagangan, kejahatan seksual, jaringan terorisme, penelantaran, stigmatisasi, penyandang disabilitas dan anak dengan perilaku sosial menyimpang lain juga diberikan penanganan di balai rehabilitasi tersebut.

Dalam prosesnya, balai tersebut melakukan upaya optimal dengan mehabilitasi, melindungi dan mengupayakan pemulihan trauma terhadap anak-anak tersebut, baik anak sebagai korban, pelaku maupun sebagai saksi.

Mensos berharap anak-anak yang sudah kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat tidak kembali terjerumus ke dalam persoalan sosial yang sama dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun demikian, Mensos tetap meminta kepada keluarga untuk terus memberikan perlindungan dan perhatian lebih baik kepada anak sehingga kemungkinan terkena paparan radikalisme dan perilaku menyimpang lain dapat dicegah.

(Eko Priyanto)