Jakarta, Aktual.com — Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasangan suami istri, di mana diibaratkan sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Dan, setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang soleh dan soleha. Karena Anak soleh dan soleha merupakan harta yang paling berharga bagi kedua orang tua. Untuk mendapatkan semua itu tentu harus ada upaya keras dari orang tua dalam mendidik sang buah hati.

Menanamkan rasa cinta Al Quran memang seharusnya berawal dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan sebagai suri tauldan bagi anak dan dalam keluargalah semua bermula. Dengan semakin berkembangnya usia anak, maka pendidikan anak pun akan berkembang. Tidak hanya berasal dari rumah akan tetapi bertambah yakni di sekolah. Dan, disinilah anak akan bertambah segala pengalamannnya baik secara akademik maupun non akademik.

Ketahuilah jika kemampuan anak yang kecil untuk menghafal tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena berdasarkan realitas anak kecil mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk merekam sekaligus menghafal melebihi kemampuan orang dewasa. Apabila usia anak lebih dari dua tahun atau mendekati usia tiga tahun, maka saatnya orang tua mulai gencar mendidik anak untuk menghafal Al Quran. Dalam situasi seperti ini, orang tua bisa memulainya dengan surat-surat pendek.

Ada beberapa metode dalam menghafal Al Quran pada fase anak-anak, di antaranya sebagai berikut:

1. Merekam Suara Anak

Karena hati manusia cenderung senang mendengarkan suara yang indah dan terbawa pada alunan suaranya. Orang yang mendengarkan suara indah tidak seperti mendengarkan suaranya sendiri, oleh karena itu anak akan merasa senang mendengarkan suaranya sendiri.

2. Menggunakan Video

Ini merupakan sarana pendidikan yang hasilnya paling baik bagi anak. Apabila digunakan secara baik dan benar. Dengan cara orang tua merekam bacaan Al Quran anak dan kemudian hasilnya diperlihatkan padanya. Dengan metode ini anak akan merasa senang dan menirukan apa yang dibaca, baik itu dilihat sendiri atau bersama teman-temannya.

3. Isyarat Tangan

Dalam metode ini, orang tua memperagakan perilaku sehari-hari yang ada kaitannya dengan Al Quran. Sebagai contoh,

“Wa”….(sambil mengucapkan kata wa, tangan diayunkan setengah lingkaran, membentuk isyarat kata wa, yang artinya dan)

“Laahu”, jari telunjuk menunjuk ke atas (yang bermakna Allah, Tuhan)

“Yuhibbu”, kedua tangan seolah-olah memeluk sesuatu (bermakna mencintai)

“Muthahhirin”, kedua tangannya memperagakan gerakan orang yang sedang mandi atau mencuci

Sehingga lengkaplah ayat yang dimaksud yakni, “Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bersih.”

4. Metode Permainan

Metode ini diterapkan sesuai dengan permainan yang disukai anak. Sebagai contoh, permainan yang mengajarkan konsep sebab akibat dari makna ayat yang dimaksud. Misalnya, ketika mengajarkan ayat “Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”, anak diajari bermain kotor-kotoran, lalu mandi, sehingga anak mengerti bahwa mandi itu perlu karena kalau tidak mandi badannya terasa gatal.

5. Metode Cerita

Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar antara lain adalah metode cerita atau kisah. Metode cerita merupakan salah satu dari metode-metode mengajar lainnya yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Pendidikan dengan metode cerita mempunyai daya tarik tersendiri. Karena menghafal ayat Al Quran yang disertai penceritaan kisah dan hikmah yang terkandung dalam ayat atau surat tersebut melalui gaya naratif yang mempesonakan anak atau bisa juga melalui kisah-kisah dalam cerita bergambar. Dengan begitu makna ayat akan terpatri dalam jiwa anak.

6. Metode Sima’i

Sima’i artinya mendengar. Yaitu, mendengarkan sesuatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat extra, terutama bagi penghafal yang tuna netra atau anak-anak yang masih di bawah umur yang belum mengenal baca tulis Al Quran. Cara ini bisa mendengar dari orang tua, guru atau mendengar melalui kaset.

Dan perlu diketahui pula jika ada sebuah kunci keberhasilan dalam mengajarkan anak dalam menghafal Al Quran yaitu, Dalam keadaan suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama, dengan demikian anak akan berinteraksi dengan Al Quran dengan perasaan cinta dan keterikatan terhadap Al Quran.

Apabila anak-anak berada pada kondisi yang menyenangkan dan bahagia, anak akan terbantu untuk untuk mengingat hafalannya dalam waktu yang lama. Sehingga diharapkan setiap hafalan yang sudah diajarkan bisa masuk ke dalam memori anak hingga dewasa, namun tak luput dari murojaah dari kedua pihak yakni keluarga dan juga sekolah.

(Sumber: Said Muhammad Maulany, Mendidik Generasi Islami, (Jogjakarta:’Izzan Pustaka, 2002), terjemahan Ghazali Mukri; Yahya bin Muhammad Abdurazzaq, Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004); Dina Y Sulaeman, Op.Cit., hlm.121; M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996); Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), terjemahan Shihabuddin)

()

()