Jakarta, Aktual.com – Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri memperkirakan laju inflasi tahun ini akan lebih tinggi seiring dengan kemungkinan kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices). Chatib memperkirakan inflasi bisa lebih dari 5 persen.

“Inflasi di 2016 itu kan 3,02 persen. Tapi tahun hati-hati bisa lebih tinggi. Karena ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia yang sudah pasti akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (ВВМ),” ungkap Chatib di sela-sela acara Investor Gathering 2017, di Jakarta, Selasa (7/2).

Menurut Chatib, saat menyusun APBN 2017 pergerakan minyak dunia masih di angka US$40 per barrel. Dan saat ini, sekitar US$55 per barrel. Artinya ada selisih US$15 atau sekitar 30 persen.

“Sehingga kalau kemudian exchange rate-nya itu melemah, pemerintah harus jaga-jaga BBM di naikkan tahun ini. Tapi mesti dilakukan secara gradual. Kalau tidak, PT Pertamina (Persero) gak akan tahan,” tandas dia.

Namun demikian, ditanya kapan saat tepat menaikkan harga ВВМ itu, Chatib enggan berkomentar banyak.

“Saya enggak tahu (kapan BBM naik). Saya enggak bilang pemerintah akan menaikan BBM. Tapi kemungkinannya kalau harga minyak naik pasti ВВМ juga akan naik,” jelas ekonom senior ini.

Meski menyebut belum berani memprediksi kenaikan BBM, tapi Chatib memperkirakan laju inflasi bakal sangat tinggi di 2017.

“Kalau tahun ini kemungkinan bisa mencapai 5 persen laju inflasinya. Itu yang harus diwaspadai pemerintah,” pungkas dia.

Laju inflasi di tahun ini memang diprediksi banyak pihak bakal melonjak tinggi. Pasalnya, kenaikan administered prices seperti kenaikan tarif dasar listrik, tarif pengurusan administrasi STNK, tarif BBM, dan kemungkinan kenaikan tarif LPG 3 kg akan memicu kenaikan inflasi.

(Laporan: Busthomi)

(Eka)