Petugas Dinas Perikanan Kabupaten Mukomuko bersama masyarakat nelayan menangkap anak ikan mikih untuk dipelihara dalam aquarium dan kolam di Balai Benih Ikan (BBI).(Foto Istimewa)
Petugas Dinas Perikanan Kabupaten Mukomuko bersama masyarakat nelayan menangkap anak ikan mikih untuk dipelihara dalam aquarium dan kolam di Balai Benih Ikan (BBI).(Foto Istimewa)

Mukomuko, aktual.com – Dinas Perikanan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mulai mengujicoba budi daya ikan mikih, sejenis ikan liar yang hidup di sejumlah sungai di daerah itu, agar keberadaannya tidak sampai punah.

“Kami telah menangkap ribuan anak ikan mikih dari Sungai Air Dikit, selanjutnya anak-anak ikan ini dipelihara dan dilepas setelah ikan ini besar. Sebagian ikan ini dibesarkan hingga dewasa untuk percobaan pengawinan,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mukomuko Eddy Apriyanto didampingi Kabid Budidaya Azbas Novyan dalam keterangannya di Mukomuko, Rabu (5/2).

Dinas Perikanan setempat pada 2020 terpaksa mengeluarkan biaya secara swadaya untuk melakukan domestikasi atau proses membudidayakan ikan mikih, sejenis ikan liar, karena tidak ada anggaran untuk kegiatan itu di APBD 2020.

Ia mengatakan, selanjutnya sebagian anak ikan mikih masih berukuran satu centimer yang ditangkap dari Sungai Air Dikit akan dipelihara dulu di dalam aquarium instansi tersebut dan sebagian anak ikan mikih akan dibesarkan di Balai Benih Ikan (BBI) Lubuk Pinang.

Eddy menjelaskan, instansinya bersama dengan masyarakat nelayan setempat menangkap anak ikan mikih, selain untuk keperluan uji coba budi daya dan untuk menyelamatkan anak ikan ini dari hewan pemangsa, seperti ikan besar.

Menurut dia, siklus hidup ikan mikih ini besar di hulu sungai dan bertelur di muara sungai. Setelah telur ikan ini menetas di muara sungai, anak ikan mikih berenang menuju hulu sungai dan saat perjalanan menuju habitatnya di hulu sungai anak ikan ini rawan dimangsa ikan besar.

Apalagi kalau ada oknum warga setempat yang menangkap ikan di hulu sungai ini menggunakan setrum sehingga membuat anak ikan ini mati sebelum sampai ke habitatnya.

Ia memperkirakan, dari ribuan anak ikan mikin yang menetas di hulu sungai di daerah itu, tidak sampai sekitar 100 anak ikan mikih ini yang bisa selamat sampai hulu sungai.

Menurutnya, kondisi ini yang menjadi penghambat perkembangan ikan yang merupakan endemik di daerah tersebut. Untuk itu instansinya menyiasati dengan cara membudidayakan ikan tersebut.

(Eko Priyanto)