Jujur 

Direktur RSUD Atma Husada Mahakam Samarinda dr. H. Jaya M. Munawwar Al Badri SpKJ yang pernah bersama Muhammad Qasim di Lahore, beberapa hari pada Februari 2022, mengatakan sosok itu jujur, hidup sederhana, dan tidak menginginkan popularitas.

Ia semula belum yakin benar dengan mimpi Muhammad Qasim. Tetapi setelah bertemu langsung, berdialog empat mata, dan beberapa hari mengamati perilakunya, keraguannya hilang.

“Kalau saat itu Muhammad Qasim menjawab apa yang dialaminya ada di alam sadar, maka saya anggap beliau hanya halusinasi. Tetapi beliau mengatakan semua itu terjadi saat dia tidur dan bermimpi, saya jadi makin yakin,” kata psikiater khusus mimpi itu.

Ia juga sering menangani pasien yang sering berhalusinasi atau melihat penampakan dalam alam sadarnya.

Dalam suatu dialog, Muhammad Qasim bahkan tidak ingin dirinya menjadi subjek dalam mimpi itu.

“Saya ini orang biasa sama seperti yang lain,” kata Jaya menirukan ucapan Muhammad Qasim.

Ia yakin Muhammad Qasim bukan tipe manusia pembohong dan pencari popularitas karena tidak berusaha mengorganisasi pengikut atau membuat majelis dakwah.

“Dia pemalu dan hidupnya sederhana,” katanya yang saat ini menjadi Dewan Penasihat GAZA.

Menurut Jaya, kemunculan Al Mahdi saat ini, kondisinya sama seperti kemunculan nabi akhir zaman Muhammad SAW, yaitu banyak yang mengingkari kehadirannya.

Saat itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani, terutama yang benar-benar mempelajari Taurat dan Injil, sejatinya telah mengetahui Muhammad bin Abdullah adalah benar-benar utusan Allah.

Hanya saja, karena kedengkian hati dan kesombongan, mereka tak mau beriman kepada Rasulullah. Orang-orang Yahudi dan Nasrani sangatlah jelas mengenal Rasulullah, mengenal ciri, karakter, dan sifat dari nabi akhir zaman yang dijanjikan sesuai dalam kitab Taurat dan Injil.

Saat ini, menurut dia, sejarah kembali terulang karena belum sempat bertabayun langsung bahkan belum mempelajari mimpi-mimpinya sudah menganggap Muhammad Qasim sebagai pendusta, bahkan yang miris lagi ada yang menganggap sebagai Dajjal.

Memang banyak kalangan Muslim yang menganggap aneh sebuah mimpi sebagai patokan untuk percaya, padahal banyak hal yang terlihat dan terdengar saat ini, asalnya juga dari mimpi. Apa itu ?

Suara azan yang kita dengar setiap masuk waktu shalat fardu, syairnya juga berasal dari mimpi sahabat nabi. Demikian juga sumur zamzam yang sempat terkubur, kembali ditemukan setelah mimpi yang diterima Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW.

Bahkan, menurut Habib Rafi dari Al Rabitah Al Alawiyyah, bendera merah putih yang menjadi bendera kebangsaan Indonesia asal muasalnya juga dari mimpi.

Habib Idrus Salim Al Jufri dari Al-Khairat, Palu yang juga adik kelas K.H. Hasyim Ashari, mengaku pernah bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad SAW yang menyampaikan pesan kalau Indonesia merdeka agar berbendera merah putih.

Pada Muktamar NU 1937, atas pesan Habib Idrus Salim Al Jufri, K.H. Hasyim Ashari mengusulkan bendera Indonesia adalah merah putih.

Usul yang kemudian diterima dan setiap apel Senin pagi, sang merah putih selalu mendapat penghormatan.

(Wisnu)