Medan, Aktual.com — Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia meminta Negara-negara Barat segera menghentikan campur tangan dalam kekejian pembantaian terhadap anak-anak, dan perempuan di dunia Islam yang terus terjadi di berbagai belahan negeri.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah dalam pernyataan di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan, Sabtu (19/3).

Menurut dia, ratusan ribu perempuan dan anak-anak muslim tewas dibantai sejak pendudukan zionis Yahudi Israel, yang tak lepas dari peran Negara-negara Barat.

“Penangkapan keji dan penyiksaan terhadap sedikitnya 7.500 anak di Palestina sejak tahun 2000 juga menjadi laporan resmi organisasi Pembela Hak Anak Dunia,” ujar Rochmah.

Dia menyebutkan, lebih dari 10.000 anak di Suriah tewas sejak berkobar revolusi tahun 2011. Bahkan, operasi pembantaian yang tak kalah mematikan adalah “tajwi” (membiarkan kelaparan) sehingga mengorbankan 4,5 juta anak dan perempuan di negara tersebut yang kemudian mati.

Tak kalah mengenaskan kondisi perempuan dan anak-anak muslim Rohingya yang menjadi korban politik penghapusan etnis (ethnic cleansing) oleh rezim Budha Myanmar yang bengis terhadap Islam, ujar Rochmah.

Setelah membakar seluruh desa, perkosaan sistematis terhadap kaum muslimah telah menjadi senjata penganiayaan oleh pasukan keamanan. Ratusan ribu muslimah lainnya diusir dari negerinya sendiri, hidup terkatung-katung di tengah lautan dan tidak memiliki negara (stateless).

“Sudah seharusnya bencana kemanusian ini membuka mata kesadaran umat untuk segera menghentikannya, karena bangsa yang hina yang membiarkan kaum perempuan dan anak-anak teraniaya,” ucapnya.

Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan, penderitaan anak-anak dan perempuana di dunia Islam adalah dampak dari permusuhan dan kebencian orang-orang kafir khususnya Barat terhadap umat ini untuk menghalangi laju kebangkitan Islam.

Campur tangan Barat dalam krisis Timur Tengah menunjukkan bahwa mereka tidak membiarkan revolusi rakyat di Suriah dan semangat perlawanan muslim Palestina terhadap pendudukan Yahudi Israel mengarah pada upaya menghadirkan kembali sistem Islam dalam kehidupan mereka.

Lemahnya dunia internasional dalam menyikapi rezim Budha Myanmar yang membantai ribuan muslim Rohingya mengisyaratkan dukungan PBB dan negara-negara Barat terhadap kekejian ini.

Sikap diam mereka menyaksikan pembantaian yang terjadi semakin membuktikan bahwa karakter asli demokrasi dan HAM tidak pernah berpihak pada kepentingan umat Islam.

Untuk itu, menurut dia, hentikan sikap mencoba menutup mata dan telinga atas kejahatan dan kerusakan yang dilakukan Barat di dunia Islam.

“Saatnya kaum muslim dan khususnya para intelektual muslimah menyatukan suara dan menyeru setop pembantaian terhadap perempuan dan anak-anak di negeri-negeri muslim di manapun. Kembalikan perisaia hakiki mereka dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah,” tegas Rochmah.

(Antara)

(Nebby)