Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi saat melakukan kunjungan kerja di desa Malangsari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Senin (21/2). Foto: Aktual/Hilmi
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi saat melakukan kunjungan kerja di desa Malangsari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Senin (21/2). Foto: Aktual/Hilmi

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2022 mengalami kenaikan tinggi yakni 108,83 atau naik sebesar 0,15 persen. Kenaikan ini dikarenakan indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,26 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,11 persen.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi mengapresiasi capaian positif tersebut. Menurutnya, kesejahteraan petani memperlihatkan peningkatan yang baik. Hal ini diketahui dari meningkatnya daya beli petani yang tercermin dari indeks NTP.

“Tren nilai tukar petani (NTP) yang terus mengalami peningkatan merupakan sesuatu hal yang positif. Ini menunjukkan kesejahteraan petani kita secara perlahan mulai membaik,” kata Wamentan Harvick dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (2/3).

Sebagai informasi, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Berdasarkan data BPS, bahwa sektor hortikultura mengalami peningkatan nilai tukar petani (NTP) tertinggi pada Februari 2022 yaitu naik 2,08 persen.

Adapun komoditas yang dominan memengaruhi indeks yang diterima petani hortikultura adalah bawang merah dan cabai merah.

“Pencapaian NTP ini harus terus dijaga dan tentunya akan didukung dengan berbagai kebijakan dan program yang relevan. Supaya tren pertumbuhan ini tetap stabil dan bahkan bisa meningkat lagi,” tuturnya.

Wamentan Harvick mengatakan bahwa saat ini pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi situasi krisis akibat pandemi.

“Saat ini sektor pertanian memang menjadi sektor yang paling tangguh di era pandemi dibanding sektor ekonomi lainnya. Sektor ini juga sekaligus paling tahan banting dari berbagai ancaman gejolak dan krisis yang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setyanto mengungkapkan potensi luas panen di sepanjang bulan Januari sampai April 2022 mendatang mencapai 4,81 juta hektare atau meningkat 8,58 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

“Angka tersebut kami hitung berdasarkan pengamatan KSA (kerangka sample area.red). Hasilnya ada peningkatan potensi luas panen 0,38 juta hektare atau setara 8,58 persen,” ungkap dia pada Selasa (1/3) kemarin.

Kenaikan potensi luas panen itu juga berdampak pada peningkatan produksi. BPS mencatat, produksi padi Januari – April 2022 mencapai 25,4 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah ini meningkat 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 23,58 juta ton GKG.

(A. Hilmi)