Jakarta, Aktual.com – Ahli Hukum Tata Negara yang juga mantan Komisaris Utama PT Jasa Marga Tbk (Persero), Refly Harun mengatakan, keberanian Ahok mengkritik internal Pertamina karena dia punya cantolan atau senderan langsung ke Presiden Joko Widodo.

Bahkan, lanjut dia, mantan Gubernur DKI Jakarta ini menunjukkan secara gamblang melawan Erick Thohir yang juga dekat dengan Jokowi, dengan pernyataannya yang meminta Kementerian BUMN dibubarkan.

“Makanya orang seperti Ahok, dia berani petangtang-petengteng,” kata Refly, Kamis (17/9).

Lebih jauh, Refly menilai, tingkat percaya diri Ahok yang tinggi memang tidak terlepas dari sejarah panjang kedekatan dengan Presiden Joko Widodo.

Kendati demikian, lanjut dia, kritik Ahok kepada Direktur Pertamina memang ada benarnya, lantaran pria kelahiran Bangka Belitung tersebut tidak dianggap dalam pembuatan keputusan strategis.

“Komisaris BUMN merupakan perpanjangan tangan dari pemegang saham mayoritas yaitu pemerintah dan pemegang saham publik. Tapi, dalam keseharian, para direksi kerap potong kompas langsung berkomunikasi ke menteri,” tandasnya.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membuka aib manajemen Pertamina. Berbagai permasalahan Ahok buka dari mulai melobi menteri hingga persoalan gaji direksi.

Dia memisalkan jabatan direktur utama anak perusahaan Pertamina dengan gaji Rp100 juta lebih dicopot, namun gajinya tetap tidak berubah meski jabatan yang barunya hanya Rp75 juta.

“Alasannya karena orang lama. Ya harusnya gaji mengikuti jabatan Anda kan. Tapi mereka bikin gaji pokok gede semua. Jadi bayangin gaji sekian tahun gaji pokok bisa Rp75 juta. Dicopot, gak ada kerjaan pun dibayar segitu. Gila aja nih,” kata Ahok dalam YouTube POIN yang dikutip, Rabu (16/9).

Ahok mengakui sistem tersebut yang akan dia ubah di Pertamina. Selain itu, dia pun akan memotong birokrasi soal pangkat. Menurutnya, nantinya sistem pangkat akan melalui jalur lelang terbuka.(RRI)

(Warto'i)