1 Januari 2026
Beranda blog Halaman 229

Optimalkan Pungutan Pajak PHR, Ketua DPRD Klungkung Dorong Pemungutan Jemput Bola

Ketua DPRD Klungkung AA Gde Anom. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Masih adanya pengusaha hotel dan restaurant yang belum melunasi pajak mendapat perhatian dari Ketua DPRD Klungkung AA Gde Anom. Politikus PDIP itu menegaskan pentingnya optimalisasi pungutan Pajak Hotel dan Restoran (PHR), khususnya di wilayah Nusa Penida.

Untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sektor tersebut, pihaknya mendorong Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) untuk lebih gencar melakukan pemungutan.

“Masih cukup banyak hotel dan restoran di Nusa Penida yang belum melunasi PHR. Karena itu, petugas dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) harus aktif jemput bola agar pungutan pajak lebih maksimal,” ujar Gde Anom, dalam keterangan tertulisnya Kamis (6/11).

Untuk mendukung langkah tersebut, DPRD Klungkung menambah anggaran sebesar Rp 200 juta bagi BPKAD. Dana tambahan ini akan digunakan untuk biaya operasional petugas di lapangan, agar dapat lebih optimal melakukan penagihan secara langsung kepada wajib pajak.

“Dengan petugas yang turun langsung jemput bola terkait PHR ini, imbasnya tentu akan berdampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tegasnya.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kinerja pemerintah daerah dalam menggali potensi pajak serta memastikan kontribusi sektor pariwisata berjalan optimal bagi pembangunan Kabupaten Klungkung.

Sebagai informasi, target PHR Kabupaten Klungkung tahun 2025 mencapai Rp100,2 miliar, sementara realisasi tahun 2024 tercatat sekitar Rp94,6 miliar lebih.

APBD Riau Minus Triliunan, Gubernur Abdul Wahid Justru Minta Uang ke Bawahan

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Gubernur Riau, Abdul Wahid (AW), yang dilakukan beberapa waktu lalu. Dalam proses penyelidikan, KPK menemukan sejumlah fakta terkait kondisi keuangan daerah yang memprihatinkan dan ada dugaan penyalahgunaan kewenangan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

Pelaksana Tugas Deputi Penindakan KPK, Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima informasi dari para kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) terkait adanya permintaan uang di tengah situasi keuangan daerah yang sulit. “Informasi yang kami terima dari para kepala UPT bahwa mereka uangnya itu pinjam. Ada yang pakai uang sendiri,” ujarnya.

Asep menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena terjadi saat keuangan daerah sedang defisit berat. Ia menyinggung adanya pernyataan dari Gubernur Riau, Abdul Wahid, pada Maret 2025 yang menyebut bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Riau tengah berada dalam posisi minus.

“Bahwa APBD Riau itu defisit. Defisit Rp1,3 triliun. Kemudian yang perundaan bayar itu Rp2,2 triliun kalau tidak salah. Sehingga defisitnya Rp3,5 triliun,” katanya.

Menurut Asep, defisit tersebut berdampak besar terhadap belanja daerah, terutama pada tiga komponen utama yaitu belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Ia menjelaskan bahwa pembayaran gaji biasanya menjadi prioritas utama, sementara belanja barang dan belanja modal seperti pembangunan fisik sering tertunda.

“Dengan Rp2,5 triliun defisit, artinya sebetulnya semuanya itu berpotensi terganggu. Ketiga hal ini, belanja-belanjanya ini akan terganggu. Uangnya enggak ada,” ucapnya.

Dalam situasi sulit itu, Asep menegaskan bahwa seharusnya tidak ada permintaan uang dari atasan kepada bawahannya. “Seharusnya dengan tidak adanya uang, orang kan ini lagi susah nih, enggak ada uang. Jangan dong minta itu. Jangan membebani pegawainya. Jangan membebani bawahannya. Tapi ini kan ironi. Di saat defisit, anggaran belanjanya terganggu karena defisit itu, sementara malah minta sejumlah uang,” ujarnya.

Asep juga mengaitkan kasus ini dengan pola korupsi yang sering ditemui KPK dalam sejumlah perkara sebelumnya. Biasanya, kata dia, pemotongan dana proyek dilakukan setelah proyek berjalan.

Namun kali ini, karena anggaran defisit dan proyek belum dilaksanakan, para pejabat di bawah justru terdesak untuk mencari uang dengan cara lain. “Ini kan karena anggarannya defisit, proyek itu kan belum dilaksanakan. Akhirnya mereka, karena belum ada uangnya, ya tadi pinjam. Ini keterangan dari para kepala UPT. Pinjam, ada yang gadaikan sertifikat dan lain-lain,” ungkapnya.

KPK menilai, situasi ini menunjukkan adanya tekanan struktural terhadap para pejabat di lapangan yang akhirnya terpaksa mencari dana pribadi atau berutang demi memenuhi permintaan atasan. Praktik seperti ini, menurut Asep, bukan hanya merugikan keuangan daerah tetapi juga mencerminkan buruknya tata kelola anggaran di tengah kondisi fiskal yang kritis.

OTT terhadap Gubernur Abdul Wahid menambah daftar panjang kepala daerah di Riau yang terjerat kasus korupsi. Sebelumnya, dua mantan gubernur Riau juga ditangkap KPK dalam kasus serupa, menegaskan bahwa praktik penyalahgunaan kekuasaan di tingkat daerah masih menjadi persoalan serius dalam pemerintahan provinsi tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Kemenag Berharap OMI Bisa Lahirkan Saintis Muda dari Madrasah

Konferensi pers penguatan kehumasan dan sinergi dengan media yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, di Lampung, Kamis (6/11/2025). ANTARA/Asep Firmansyah
Konferensi pers penguatan kehumasan dan sinergi dengan media yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, di Lampung, Kamis (6/11/2025). ANTARA/Asep Firmansyah

Jakarta, aktual.com – Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Arskal Salim menegaskan pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) menjadi ajang penting dalam mendorong madrasah menjadi lumbung pencetak calon saintis muda.

“Melalui OMI, kita ingin menunjukkan bahwa madrasah memiliki banyak talenta yang berpotensi menjadi saintis di masa depan. Ini merupakan proses penemuan bibit unggul yang diharapkan bisa terus berkembang,” kata Arskal di Lampung, Kamis (6/11).

OMI 2025 adalah olimpiade yang sebelumnya bernama Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang berlangsung sejak 2012, dan Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) yang dimulai pada 2018. OMI 2025 mengusung tema “Islam dan Teknologi Digital: Inovasi Sains Untuk Generasi Indonesia Maju dan Berdaya Saing Global”.

Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada 10 hingga 13 November 2025 di Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Ia menjelaskan OMI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan berkelanjutan bagi siswa madrasah untuk mengembangkan minatnya di bidang sains dan teknologi.

Menurut Arskal, Kemenag berharap OMI dapat memperkuat semangat generasi muda madrasah untuk berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Kita berharap suatu saat lahir pemenang Nobel dari Indonesia yang berasal dari madrasah,” katanya.

Ia mengatakan peserta OMI berasal dari berbagai provinsi, termasuk madrasah-madrasah unggulan seperti MAN Insan Cendekia dan MAN model di kota-kota besar.

“Kita harapkan setiap provinsi mengirimkan wakil terbaiknya. Nanti yang lolos adalah mereka yang telah melewati seleksi ketat,” ujarnya.

Arskal juga mengungkapkan Kemenag tengah menjajaki pemberian beasiswa bagi para pemenang OMI sebagai bentuk apresiasi dan dukungan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Beasiswa ini penting agar para juara bisa melanjutkan kuliah sesuai bidang minat dan bakatnya, tanpa terkendala kondisi ekonomi,” kata Arskal.

Ia berharap kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dapat terus diperluas untuk mengakomodasi pengembangan para talenta muda madrasah tersebut.

“Intinya, kami ingin memastikan bahwa anak-anak madrasah yang berprestasi memiliki masa depan yang terjamin dan bisa terus berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia,” kata Arskal.

Selain OMI, Ditjen Pendidikan Islam juga telah menggelar berbagai ajang pengembangan kompetensi seperti kompetisi robotika.

Menurut Arskal, hal itu membuktikan lembaga pendidikan keagamaan di bawah Kemenag tidak hanya fokus pada bidang agama, tetapi juga bidang sains dan teknologi.

“Seluruh kegiatan ini memperlihatkan bahwa madrasah punya kontribusi besar bagi bangsa, terutama dalam mempersiapkan generasi muda yang religius sekaligus berilmu,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

MPR Dorong Rekrutmen Mahasiswa Timur Tengah Jadi Petugas Haji dan Perbaikan Sistem Kartu Nusuk

Wakil Ketua MPR RI yang juga anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW). ANTARA/Melalusa Suathira K/am.
Wakil Ketua MPR RI yang juga anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW). ANTARA/Melalusa Suathira K/am.

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), mendorong peningkatan kualitas layanan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap penambahan kuota petugas haji yang berasal dari kalangan mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.

Menurut HNW, mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Timur Tengah memiliki kemampuan bahasa Arab, memahami tata cara berhaji, serta mengenal budaya Arab Saudi dengan baik. Selain itu, mereka juga memiliki kondisi fisik yang kuat untuk membantu jamaah secara optimal.

“Saya minta Menteri Haji mempertimbangkan aspirasi para mahasiswa di Timur Tengah itu dengan melakukan recruiting mahasiswa Indonesia di Timur Tengah sebagai tenaga musim yang mendampingi para jemaah haji. Karena selain soal profesionalitas mereka, juga bahwa pelibatan mereka sangat bermanfaat mendukung urusan keberlangsungan pendidikan mereka sebagai kader ulama penerus bangsa,” ujar HNW dalam keterangannya, Kamis (6/11/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan HNW dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI terkait Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji pada Rabu (5/11). Ia menilai kebijakan ini perlu diperjuangkan untuk meningkatkan mutu layanan haji, sekaligus menindaklanjuti aspirasi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah yang banyak disampaikan kepadanya.

Usulan HNW itu pun diterima dan disepakati dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kementerian Haji dan Umrah. Dalam hasil rapat disimpulkan bahwa Kementerian Haji dan Umrah perlu meningkatkan rekrutmen petugas haji dari kalangan mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.

“Alhamdulillah, semoga hal ini benar-benar bisa diimplementasikan dengan baik. Dan kepada para mahasiswa Timur Tengah yang nantinya menjadi tenaga pendukung haji agar juga melaksanakan amanah ini dengan yang terbaik, melayani jemaah haji Indonesia sepenuh hati,” lanjutnya.

Selain itu, HNW juga menyoroti persoalan kartu Nusuk yang sebelumnya menyulitkan jamaah haji Indonesia. Ia menegaskan agar permasalahan serupa tidak terjadi kembali dan meminta agar kartu tersebut dibagikan sejak jamaah masih berada di embarkasi di Indonesia.

Diketahui, pada musim haji 2025, banyak jamaah yang mengalami kesulitan masuk ke Mekkah maupun Masjidil Haram karena keterlambatan distribusi kartu Nusuk akibat miskoordinasi antara pemerintah Indonesia dan pihak syarikah.

“Pada haji tahun depan, Kemenhaj harus memastikan agar tidak terjadi lagi permasalahan dengan syarikah seperti yang terjadi pada tahun yang lalu. Maka pada rapat tadi disepakati agar Kemenhaj mengupayakan pembagian kartu Nusuk bagi jemaah haji dilakukan sejak mereka berada di embarkasi di Indonesia, dan agar syarikah betul memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaah haji. Hal yang disepakati menjadi keputusan rapat yang mengikat, dan karenanya harus dilaksanakan oleh Kementerian Haji dan Umrah,” pungkas HNW.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Pemkot Bekasi Jelaskan Informasi Pembangunan Rumah Dinas Wakil Wali Kota Bekasi

Kota Bekasi, aktual.com – Menanggapi pemberitaan di media mengenai pembangunan rumah dinas Wakil Wali Kota Bekasi yang disebut berdiri di atas lahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) Perumahan Villa Meutia Kirana, Pemerintah Kota Bekasi memberikan penjelasan resmi untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.

Pemerintah Kota Bekasi menegaskan pembangunan rumah dinas Wakil Wali Kota tidak melanggar ketentuan pemanfaatan lahan PSU, karena lahan yang digunakan merupakan bagian dari sarana, bukan prasarana umum (seperti jalan/drainase) maupun Ruang Terbuka Hijau, taman, polder, atau tampungan air.

Kepala BPKAD Kota Bekasi, Yudianto mengungkapkan bahwa Lahan tersebut merupakan lahan PSU milik Pemerintah Kota Bekasi yang telah diserahkan oleh pengembang Perumahan Villa Meutia Kirana kepada Pemerintah Kota Bekasi pada tahun 2009 dan tertuang dalam Berita Serah Terima (BAST) tanggal 30 Desember 2009.

Sejak saat itu, lahan tersebut tercatat sebagai aset milik Pemerintah Kota Bekasi dan tercatat dalam neraca daerah. Oleh karena itu, tidak diperlukan izin penggunaan lahan dari Pemerintah Kota kepada pihak lain, karena pembangunan tersebut dilakukan langsung oleh Pemerintah Kota diatas tanah milik Pemerintah Kota sendiri.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bekasi, Widayat Subroto mengatakan Pemerintah Kota Bekasi telah mengikuti ketentuan peraturan perundangan terkait perizinan bangunan gedung, dengan melengkapi seluruh dokumen perizinan teknis seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses pemenuhan dokumen teknis saat ini sedang berjalan melalui koordinasi antarperangkat daerah terkait.

Selanjutnya, Kepala Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, Arif Maulana menuturkan bahwa Pembangunan rumah dinas Wakil Wali Kota Bekasi juga dilakukan dengan pertimbangan tata ruang dan kepentingan pelayanan publik, karena rumah dinas tersebut merupakan bagian dari sarana pendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Dalam konteks tata ruang, rumah dinas termasuk dalam kategori sarana penunjang kegiatan pemerintahan, sehingga pemanfaatan lahan PSU dengan peruntukan ‘sarana’ dapat digunakan untuk keperluan tersebut.

Pemerintah Kota Bekasi berkomitmen untuk menjalankan seluruh kegiatan pembangunan secara transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, serta memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berorientasi pada kepentingan pelayanan publik dan kemaslahatan masyarakat Kota Bekasi. (ADV)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain