16 April 2026
Beranda blog Halaman 300

IPPW Menilai Pengajuan Adies Kadir ke MK sebagai Sinyal Konsolidasi Politik Terkait Agenda Pilkada DPRD

Jakarta, aktual.com — Indonesian Political Party Watch (IPPW) menilai pengajuan Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK) oleh Partai Golkar tidak bisa dibaca sebagai peristiwa tunggal yang berdiri sendiri.

Di tengah menguatnya kembali wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD, langkah ini justru memunculkan kekhawatiran serius mengenai arah konsolidasi kekuasaan politik dan masa depan independensi lembaga konstitusi.

Direktur Eksekutif IPPW, Ikhsan Tualeka, menyebut bahwa penempatan figur aktif partai politik ke kursi hakim MK patut dibaca sebagai political warming up—sebuah kuda-kuda politik untuk mengantisipasi dinamika konstitusional ke depan, khususnya jika skema pilkada lewat DPRD benar-benar disahkan DPR dan kemudian diuji melalui mekanisme judicial review.

“Kecurigaan ini makin relevan jika melihat fakta bahwa Golkar adalah partai pertama dan paling getol mewacanakan pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Artinya, ada benang merah yang jelas antara agenda legislasi, kepentingan politik partai, dan upaya memperkuat posisi di lembaga pengawal konstitusi,” ujar Ikhsan.

Menurut IPPW, Mahkamah Konstitusi sejatinya adalah benteng terakhir demokrasi konstitusional—terutama dalam menjaga hak politik warga negara. Namun ketika komposisi hakim MK semakin kental dengan latar belakang elite partai, maka risiko konflik kepentingan menjadi tidak terhindarkan, baik secara faktual maupun dalam persepsi publik.

Ikhsan menegaskan, meskipun secara formal Adies Kadir kemudian mengundurkan diri dari kepengurusan partai, hubungan ideologis, historis, dan loyalitas politik tidak serta-merta hilang.

Dalam praktik demokrasi modern, independensi peradilan bukan hanya soal status administratif, tetapi juga soal jarak yang tegas dari kekuasaan politik yang berkepentingan langsung terhadap produk legislasi.

IPPW menilai bahwa wacana pilkada melalui DPRD bukan sekadar perubahan teknis tata kelola pemilu, melainkan pergeseran besar dalam relasi antara rakyat dan kekuasaan.
Pemilihan tidak langsung berpotensi memusatkan kembali kekuasaan pada elite partai di parlemen daerah, sekaligus menghilangkan ruang partisipasi langsung rakyat yang selama ini menjadi ciri utama demokrasi elektoral pascareformasi.

“Jika undang-undang pilkada DPRD disahkan, hampir pasti akan diajukan uji materi ke MK. Di titik inilah komposisi hakim menjadi krusial. Publik wajar mempertanyakan apakah MK masih sepenuhnya berdiri sebagai wasit konstitusi atau justru telah menjadi bagian dari arena politik itu sendiri,” lanjut Ikhsan.

IPPW mengingatkan bahwa pelemahan independensi MK akan berdampak luas, bukan hanya pada isu pilkada, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap demokrasi dan supremasi hukum secara keseluruhan. Ketika lembaga pengawal konstitusi dipersepsikan sebagai perpanjangan tangan kepentingan politik tertentu, legitimasi putusan-putusan MK berpotensi terus dipersoalkan.

Atas dasar itu, IPPW menyerukan agar DPR dan partai politik menghentikan normalisasi politisasi lembaga peradilan. Proses pengisian hakim MK harus benar-benar menjunjung prinsip independensi, integritas, dan kepentingan konstitusi—bukan semata kalkulasi kekuasaan jangka pendek.

“Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia terkikis perlahan melalui keputusan-keputusan yang tampak sah secara prosedural, tetapi bermasalah secara etika dan konstitusional. Pengajuan Adies Kadir ke MK harus dibaca sebagai alarm dini bagi masa depan demokrasi Indonesia,” pungkas Ikhsan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Thomas Djiwandono Terpilih Deputi Gubernur, Ekonom: Jadi Ujian Kredibilitas BI

DPR Setujui, Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia

Jakarta, aktual.com – Pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 27 Januari 2026 melalui sidang paripurna DPR RI menjadi perhatian luas pelaku pasar, investor, dan publik.

Terpilihnya Thomas menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026 pun disebut sebagai ujian kredibilitas bagi bank sentral Indonesia.

Analis ekonomi politik Kusfiardi menyampaikan, usai pengangkatan Thomas, respons pasar dalam jangka sangat pendek terpantau relatif stabil. Rupiah menguat tipis ke kisaran Rp16.768–16.780 per dolar AS pada 26–27 Januari 2026, sementara IHSG menunjukkan pergerakan fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas (dibuka di 8.967,73 dan sempat menyentuh level 9.028 pada perdagangan siang).

“Namun, penguatan ini bersifat temporer dan spekulatif, lebih mencerminkan ekspektasi umum terhadap komitmen stabilisasi BI, termasuk sinyal intervensi dari Gubernur BI Perry Warjiyo, serta pengaruh faktor global. Respons pasar tersebut bukan reaksi fundamental terhadap pengangkatan Thomas itu sendiri,” paparnya.

Co-Founder FINE Institute ini menjelaskan, pada titik inilah risiko utama muncul, yakni persepsi independensi BI. Menurutnya, dalam sistem keuangan modern, pasar bekerja berbasis ekspektasi. Nah, ketika jarak institusional antara bank sentral dan kekuasaan eksekutif dipersepsikan menyempit, respons pasar tidak selalu hadir dalam bentuk gejolak instan.

“Respons pasar akan seperti “bola liar” yang dapat memicu volatilitas jangka menengah, baik melalui tekanan nilai tukar, kenaikan premi risiko surat utang negara, maupun perubahan arah arus modal asing,” ucap Kusfiardi.

Dalam konteks ini, katanya, risiko fiscal dominance tidak selalu hadir sebagai kebijakan eksplisit, melainkan sebagai ekspektasi pasar yang terbentuk dari sinyal politik dan kedekatan institusional.

“Bahkan ketika independensi BI secara hukum tetap terjaga, persepsi negatif yang dibiarkan tumbuh dapat menimbulkan biaya kredibilitas yang mahal,” jelasnya.

Menurut Kusfiardi, risiko ini menjadi semakin relevan apabila stabilisasi jangka pendek bergantung pada intervensi agresif di pasar valas yang berpotensi menggerus cadangan devisa, yang per akhir Desember 2025 berada di kisaran USD156 miliar.

“Karenanya, pengangkatan ini seharusnya dipahami bukan sebagai penutup polemik, melainkan sebagai awal pengujian kredibilitas institusional BI,” kata Kusfiardi.

Kusfiardi pun menyampaikan, diperlukan langkah-langkah konkrit dan terukur untuk memitigasi risiko tersebut. Ia menyebut ada lima langkah yang harus dilakukan. Pertama, komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten.

“Gubernur BI dan Deputi Gubernur yang baru perlu menyampaikan forward guidance yang jelas dan berbasis data, dengan penekanan bahwa sinergi fiskal–moneter tidak mengorbankan independensi operasional dan instrumen moneter BI,” jelasnya.

Kedua, pembuktian melalui kinerja awal yang disiplin. Menurutnya, sikap kebijakan yang prudent, termasuk respons tegas terhadap risiko inflasi, stabilisasi nilai tukar yang terukur, serta publikasi rutin indikator kunci seperti inflasi inti dan cadangan devisa, akan menjadi ujian nyata dalam 3–6 bulan pertama untuk membentuk ulang persepsi pasar.

“Ketiga, penguatan tata kelola dan transparansi kelembagaan. Peningkatan kualitas publikasi notulen RDG, penguatan chinese walls antara kebijakan fiskal dan moneter, serta keterbukaan terhadap evaluasi eksternal independen merupakan sinyal penting bagi pasar bahwa independensi BI tidak hanya normatif, tetapi operasional,” ujar Kusfiardi.

Keempat, peran pemerintah dan DPR yang proporsional. Pemerintah, katanya, perlu menghindari narasi “sinkronisasi total” yang berlebihan, dan secara konsisten menegaskan independensi BI sebagai pilar stabilitas makroekonomi.

“Sementara itu, DPR dapat menjalankan fungsi pengawasan pasca-pengangkatan berbasis indikator kinerja moneter dan stabilitas sistem keuangan, bukan preferensi atau kalkulasi politik jangka pendek,” ucapnya.

Kelima, manajemen sentimen dan respons cepat. Pemantauan aktif terhadap sentimen investor dan narasi media perlu diikuti dengan respons berbasis data dan fakta, guna mencegah rumor berkembang menjadi ketidakpastian yang merugikan.

Kusfiardi juga menyampaikan, pengangkatan Deputi Gubernur BI kali ini menempatkan bank sentral Indonesia di bawah sorotan yang lebih tajam, bukan karena individu semata, melainkan karena konteks institusional dan tantangan global yang sedang dihadapi.

“Dengan aksi kebijakan yang konsisten dan komunikasi yang kredibel, persepsi negatif dapat diredam. Namun tanpa itu, “bola liar” persepsi pasar berpotensi berubah menjadi tekanan nyata bagi stabilitas ekonomi nasional,” tegasnya.

Di luar lima langkah tersebut, katanya, pengawasan publik, media, akademisi, dan pelaku pasar menjadi elemen penting untuk memastikan independensi BI tetap terjaga sebagai benteng terakhir stabilitas makroekonomi Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Jadi Deputi BI, Thomas Djiwandono Bantah Intervensi Presiden Prabowo

Jakarta, Aktual.com – Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menegaskan dirinya tidak pernah membahas penunjukan jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dengan Presiden Prabowo Subianto, meskipun memiliki hubungan keluarga sebagai keponakan. Penegasan tersebut disampaikan Thomas merespons sorotan publik atas penetapannya sebagai Deputi Gubernur BI periode 2026–2031.

Menurut Thomas, komunikasi terakhirnya dengan Prabowo hanya berkaitan dengan permohonan waktu untuk berpamitan dari Kabinet Merah Putih.

“Tidak ada pembahasan apa pun soal jabatan di Bank Indonesia. Saya jelaskan betul-betul, tidak ada diskusi saya dan Presiden mengenai pencalonan atau penunjukan ini,” kata Thomas saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Thomas juga menepis anggapan bahwa pengunduran dirinya dari Partai Gerindra berkaitan dengan proses pencalonan sebagai Deputi Gubernur BI. Ia menyebut keputusan mundur sejak 31 Desember 2025 telah diambil jauh hari untuk fokus bekerja di Kementerian Keuangan.

Terkait proses penunjukan, pejabat yang akrab disapa Tommy itu menjelaskan seluruh tahapan telah dilalui sesuai mekanisme yang berlaku tanpa pelanggaran prosedur. Ia menekankan penetapannya sebagai Deputi Gubernur BI dilakukan melalui uji kelayakan dan kepatutan yang sah.

“Saya ditunjuk melalui proses dan mekanisme yang sudah ada. Tidak ada satu pun tahapan yang dilewati, dilanggar, atau dibelokkan,” tuturnya.

Setelah resmi menjabat, Thomas menyatakan akan memprioritaskan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi riil.

“Yang saya tekankan ke depan adalah bagaimana transmisi kebijakan ini bisa lebih efektif, terutama dari suku bunga perbankan ke sektor riil,” lanjutnya.

Meski mengakui tidak memiliki latar belakang moneter murni, Thomas optimistis pengalamannya di bidang fiskal dapat melengkapi jajaran Dewan Gubernur BI. Ia meminta publik menilai penugasannya secara berimbang berdasarkan rekam jejak kinerja.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Kontribusi Manufaktur RI Turun ke 17 Persen, Danantara Dorong Intervensi Industri

Jakarta, Aktual.com – Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa, menyatakan kontribusi sektor manufaktur Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) turun menjadi sekitar 17 persen dan mengalami penurunan cepat dalam dua dekade terakhir. Penurunan tersebut, ungkapnya, dipicu oleh dangkalnya struktur manufaktur yang masih terkonsentrasi pada eksploitasi bahan mentah dan kegiatan perakitan.

“Dulu kontribusi manufaktur kita pernah di atas 30 persen, sekarang tinggal 17–18 persen, dan ini harus dihentikan,” ujar Sigit dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Melalui Danantara, strategi intervensi industri diarahkan untuk memperdalam struktur manufaktur agar Indonesia tidak terus berada di ujung hilir rantai pasok global.

“Kita tidak bisa lagi hanya menjadi tukang jahit atau perakit. Industri harus digerakkan oleh teknologi,” lanjutnya.

Pendalaman manufaktur tersebut dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni pengembangan industri berbasis teknologi, dukungan regulasi jangka panjang, serta keselarasan kebijakan dan pendanaan. Menurut Sigit, tanpa kepastian hukum dan peta jalan industri yang konsisten, upaya hilirisasi berisiko berhenti pada level paling dasar.

Selain itu, Danantara memprioritaskan penguatan rantai pasok serta pembangunan ekosistem manufaktur lanjutan untuk mengisi celah antara sektor hulu dan hilir. Langkah ini dinilai penting agar pengembangan produk dan proses produksi bernilai tambah dapat tumbuh di dalam negeri.

Berdasarkan simulasi ekonomi internal, tambahan investasi besar disebut belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi apabila struktur industri tidak mengalami perubahan. Sigit menegaskan pendalaman manufaktur menjadi prasyarat utama untuk melampaui pertumbuhan ekonomi di kisaran 5–6 persen.

Sementara itu, analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai strategi intervensi industri Danantara perlu diimbangi dengan tata kelola yang kuat serta komunikasi publik yang transparan. Ia mengingatkan konsolidasi aset dan kebijakan industri harus tetap berpihak pada kepentingan nasional dan pemerataan antardaerah.

Tanpa mekanisme distribusi manfaat yang adil, kata Hendri, kebijakan Danantara berpotensi dipersepsikan sebagai proyek elite ekonomi. “Publik membutuhkan bukti konkret dan rasa keadilan agar kebijakan sebesar ini memperoleh kepercayaan,” tuturnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Lakukan Trading Halt di Sesi II Perdagangan

Layar menampilkan pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (14/12/2021). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Jakarta, aktual.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), setelah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen.

Pada perdagangan sesi II pukul 13.43 WIB di Jakarta, Rabu (28/01), IHSG tercatat melemah 718,44 poin atau 8,00 persen ke posisi 8.261,78. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 67,70 poin atau 7,73 persen ke posisi 808,41.

Adapun, perdagangan akan dilanjutkan sekitar pukul 14:13.00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.

Ketentuan trading halt saat ini sebagai berikut:

Dalam hal terjadi penurunan IHSG dalam satu hari Bursa yang sama, Bursa melakukan tindakan sebagai berikut:

1. Trading halt selama 30 menit apabila IHSG mengalami penurunan hingga lebih dari 8 persen.

2. Trading halt selama 30 menit apabila IHSG mengalami penurunan lanjutan hingga lebih dari 15 persen.

3. Trading suspend apabila IHSG mengalami penurunan lanjutan hingga lebih dari 20 persen dengan ketentuan sebagai berikut : Sampai akhir sesi perdagangan; atau lebih dari 1 (satu) sesi perdagangan setelah mendapat persetujuan atau perintah OJK.

Penyesuaian ketentuan pelaksanaan trading halt dilakukan sebagai upaya BEI untuk memberikan ruang likuiditas yang lebih luas bagi investor dalam menentukan strategi investasi dengan mempertimbangkan informasi yang ada.

Ketentuan pelaksanaan trading halt tertuang pada Surat Keputusan Direksi tanggal 8 April 2025 Nomor: Kep-00002/BEI/04-2025 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat dan Nomor Kep-00003/BEI/04-2025 perihal Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

BI Optimistis Ekonomi RI Tancap Gas di 2027, Pertumbuhan Tembus 5,9%

Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia melaju lebih cepat pada 2027 dengan pertumbuhan di kisaran 5,1–5,9 persen. Proyeksi tersebut disampaikan dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan proyeksi tersebut sebagai ajakan kepada pelaku ekonomi untuk menangkap momentum pemulihan serta memperkuat kepercayaan pasar.

“Dan tahun 2026 ini kami perkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 4,9 sampai 5,7 persen, dengan titik tengah 5,3 persen. Akan meningkat lagi menjadi 5,1 sampai 5,9 persen pada tahun 2027,” ujar Perry.

Menurutnya, percepatan ekonomi hanya dapat tercapai apabila pelaku usaha dan pasar berani mengambil keputusan serta tidak terjebak dalam sikap menunggu.

“Jadi, berhentilah wait and see,” tegasnya.

Otoritas moneter menegaskan akselerasi ekonomi tersebut akan tetap dibarengi dengan pengendalian harga agar stabilitas makroekonomi terjaga. Inflasi diperkirakan berada dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen pada periode 2026–2027 melalui koordinasi kebijakan BI dan pemerintah.

Selain menjaga inflasi, BI mendorong intermediasi perbankan agar lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor riil sebagai bahan bakar ekspansi ekonomi. Pada 2026, kredit diperkirakan tumbuh 8–12 persen, sementara pada 2027 didorong meningkat menjadi 9–13 persen, dengan dukungan kebijakan likuiditas agar ruang pembiayaan tetap longgar.

Di ranah moneter, BI menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama kebijakan.

“Khusus nilai tukar, kami akan menjaga stabilitasnya dan terus mendorong agar rupiah menguat,” kata Perry.

Pada sektor sistem pembayaran, BI mempercepat digitalisasi sebagai penopang produktivitas ekonomi nasional. Target 17 miliar transaksi digital pada 2026 didukung sekitar 60 juta pengguna QRIS, termasuk 45 juta pelaku UMKM, serta perluasan penggunaan QRIS lintas negara.

Lebih lanjut, Perry menekankan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan agar momentum pertumbuhan tidak terputus.

“Bauran kebijakan BI akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” tuturnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain