15 April 2026
Beranda blog Halaman 35840

Isu Beras Plastik, Bukti Swasembada Pangan Jokowi-JK Gagal

Jakarta, Aktual.co — Beberapa hari ini masyarakat kembali dikejutkan dengan sebuah fenomena, kali ini yang  muncul adalah fenomena beras plastik. Teror beras plastik sangat meresahkan masyarakat  melebihi isu “begal” beberapa waktu silam lalu. Bahkan dalam perkembangannya beras  plastik ini sudah sempat dikonsumsi di beberapa daerah seperti Bekasi, Depok, dan  Tangerang. 
Berbeda dengan beras pada umumnya, beras plastik terbuat dari bahan-bahan  kimia yang dapat membahayakan kesehatan yang mengkonsumsinya.  Hasil penelitian dari Laboratorium yang disampaikan secara luas kepada masyarakat mendapatkan bahwa beras  palsu yang ditemukan di Bekasi tersebut memang mengandung bahan pembuat plastik yaitu Benzyl Butyl Phthalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl Phthalate (DEHP) dan Diisononyl Phthalate (DNIP). 
Bahan-bahan dasar ini tentunya bukan merupakan bahan yang dapat untuk dikonsumsi oleh tubuh manusia, bahkan dapat menimbulkan keracunan dan kondisi kesehatan yang buruk. Secara akut bisa saja terjadi gangguan langsung pada sistim pencernaan. Makanan yang mengandung plastik akan butuh waktu yang lama berada di  dalam lambung. Hal ini akan menimbulkan perut serasa penuh dan cepat kenyang.  Gangguan yang terjadi selanjutnya bisa juga mengalami mual-mual dan muntah.
Ciri-ciri beras plastik atau palsu mencakup empat bentuk. Pertama, dari bentuknya, tampilan beras asli memiliki guratan dari bekas sekam padi, sedangkan beras plastik tidak terlihat guratan pada bulirnya dan bentuknya agak lonjong. Kedua, dari ujung-ujung bulir beras, pada beras asli terdapat warna putih di setiap ujungnya, warna tersebut merupakan zat kapur yang mengandung karbohidrat. Sedang beras bercampur plastik tidak ada warna putihnya. Ketiga, jika beras asli direndam dalam air maka akan berubah warna menjadi lebih putih, sedangkan beras plastik hasilnya tidak akan menyatu dan airnya tidak akan berubah menjadi putih. Keempat, jika beras palsu ditaruh di atas kertas maka terlihat beras tidak natural, berbentuk lengkung, tidak ada patahan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan ternyata ada unsur phthalate dalam kompenen beras palsu dari Bekasi tersebut. Phthalate bisa diserap oleh usus kita, masuk kedalam darah dan sampai di hati. Zat ini akan merusak liver sehingga sistim pencernaan akan terganggu lebih lanjut. Pada penelitian binatang paparan phthalat pada liver akan menyebabkan berkembangnya kanker liver. 
Namun yang menjadi pertanyaan yang paling mendasar yang harus dapat dijawab adalah dari mengapa muncul beras berbahan plastik dan siapa yang bertanggung jawab atas beras plastik ini?
Akar Masalah Munculnya Beras Plastik Hingga Saat ini 
Berbagai asumsi telah berkembang demi membuktikan dari mana datanganya beras plastik. Ada dua asumsi yang sering mengemuka, yaitu beras plastik datang dari luar negeri dan ada yang mengasumsikan datang dari dalam negeri. Terlepas dari asumsi tersebut, kemunculan beras plastik adalah bukti nyata kegagalan pemerintah dalam memperhatikan swasembada pangan dalam negeri di Indonesia. Selama ini pemerintah hanya mampu memenuhi ketahanan pangan di Indonesia dengan meningkat Impor beras dari luar negeri. Akan tetapi, permasalahan swasembada pangan yang tidak  kunjung terealisasikan di Indonesia dikarenakan masih terus berlanjutnya praktek monopoli dan perampasan tanah yang semakin meluas di Indonesia. 
Sementara keberadaan beras plastik di pasaran tentunya erat kaitanya dengan bagaimana dengan kondisi perekonomian dan pangan di Indonesia. Kontrol yang lemah dan kebijakan  ekonomi neoliberal imperialisme AS yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK, menyebabkan  terus melonjaknya kebutuhan pokok rakyat Indonesia, terutama harga beras. Melonjaknya harga beras tentunya merupakan pukulan yang dahsyat yang diterima oleh rakyat Indonesia, artinya rakyat Indonesia semakin dipersulit untuk mampu memenuhi kehidupan pangannya sehari-hari. 
Persoalan ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari orientasi rejim Jokowi-JK dalam hal pangan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, pemerintah  melakukan dan menjalankan kebijakan impor beras besar-besaran dari negara seperti  Thailand, Vietnam, Pakistan, Malaysia, dan Tiongkok. 
Pada periode Februari 2015 saja,  pemerintah mengimpor beras sebanyak 7.912 ton atau senilai dengan US$ 3,1 juta. Dengan  komposisi impor, Thailand 1.030 ton atau US$ 615.000, Vietnam 550 ton atau US$ 219.000, Pakistan 6.000 ton atau US$ 2,1 juta, Tiongkok 32 ton atau US$ 121.000, Malaysia 300 ton atau US$ 28.000. Kebijakan ini sungguh ironi, di tengah mayoritas masyarakat Indonesia adalah petani dan bekerja di sektor pertanian, justru negara tidak mampu mengelolanya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Sementara itu, Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah tetap saja melanggengkan skema impor beras untuk memenuhi kebutuhan nasional dan tentunya tidak berpihak pada kehidupan petani Indonesia. 
Jokowi yang pernah berjanji menghentikan impor beras, ternyata hingga saat ini Jokowi masih tetap menjalankan impor beras secara besar-besar terutama dari Vietnam dan Tiongkok. Hal ini menunjukkan, watak asli pemerintah sebagai pelayan dari para pengusaha besar baik asing maupun dalam negeri, yang terus saja melakukan penaikan harga beras di pasar. Saat ini harga beras rata-rata yang beredar di pasaran berkisar antara Rp 7.500 sampai Rp 10.000.
Sedangkan Bulog sebagai lembaga yang mengurusi secara langsung ketahanan pangan dan pendistribusian beras kepada masyarakat, masih pula gagal untuk melayani masyarakat Indonesia. Malah di saat beras mahal, Bulog hanya mempunyai solusi untuk membuka pasar murah dengan menjual beras miskin yang berkutu kepada rakyat Indonesia. Maka teror beras plastik yang menyebar ke masyarakat adalah kegagalan dan tanggung jawab Jokowi-JK beserta lembaga Bulognya.
Swasembada pangan dan Reforma Agraria Jokowi-JK adalah Isapan Jempol Belaka
Beredarnya teror beras plastik di tengah masyarakat Indonesia yang menimbulkan keresahan, adalah bentuk kegagalan jokowi-JK untuk memenuhi janjinya menjalankan swasembaa pangan di Indonesia. Kegagalan swasembada pangan disebkan tidak terlaksananya reforma agraria sejati di Indonesia masa Jokowi-JK. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa rencana program reforma agraria ala rejim Jokowi-JK adalah sebuah simbol dan bahkan prakteknya menjadi skema melanjutkan perampasan dan monopoli tanah di Indonesia. Karena buktinya reforma agraria Jokowi-JK tidak mendistribusikan tanah kepada petani maupun rakyat Indonesia. 
Demikian pula penguasaan sumber daya alam yang saat ini masih diberikan untuk dikelola borjuasi besar komprador, tuan tanah besar dan imperialisme khususnya AS. Pada perkembangannya, tanah-tanah pertanian, khususnya sawah di Indonesia mayoritas telah dikuasai oleh korporasi besar milik imperialis dan tuan tanah besar. Sebagai contoh, tanah seluas 2,8 juta hektar di wilayah Merauke, Papua dijadikan wilayah Food Estate dan diperuntukan bagi perusahaan asing, dimana Bin Laden Group yang sahamnya mayoritas dipegang imperialis AS. 
Proyek tersebut bukan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, namun berorientasi memonopoli pangan di pasar internasional dan Indonesia untuk meraup keuntungan. Selain itu, perusahaan korporasi asing seperti mosanto, cargil, nestle, dan perusahan dalam negeri Indofod, Sucofindo, Sinar mas menjadi perusahaan yang secara nyata menguasai dan memonopoli ketahanan pangan di Indonesia 
Lanjutnya dalam rangka menanggapi kemunculan beras plastik, pemerintah Jokowi-JK melalui kementerian perdagangan malah mengumumkan rencana pengaturan Merek beras yang beredar. Tujuannya ini adalah menjadikan momentum teror beras plastik untuk mengatur dan menentukan merek beras yang beredar di Indonesia, yang pasti akan semakin memberikan keleluasaan kepada perusahaan-perusahaan besar tadi untuk semakin menguasai ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa pemerintah akan memastikan monopoli perdagangan beras pada para perusahaan berskala besar saja. 
Sehingga para petani Indonesia dan para pengusaha kecil produsen beras tidak dapat lagi menjual dan memasarkan beras-beras mereka. Jika demikian yang terjadi, maka pemerintah rejim Jokowi-JK semakin nyata memperlihatkan wataknya sebagai rejim yang anti kepada rakyat, khususnya kaum tani dan menjadi pelayan yang setia bagi para tuan imperialis dan borjuasi besar, serta tuan tanah besar. Itu yang menegaskan kegagalan pemerintahan Jokowi-JK untuk menyelenggarakan swasembada pangan dan reformasi agraria sejati di Indonesia.
Oleh: Rachmad F Panjaitan Ketua Pengurus Pusat Front Mahasiswa Nasional

Artikel ini ditulis oleh:

Minim Sentimen, IHSG Turun Tujuh Poin ke Level 5.230,315

Jakarta, Aktual.co — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi ini bergerak di zona merah. Pada perdagangan preopening, IHSG melemah tipis 7,086 poin (0,14%) ke level 5.230,315. Sedangkan Indeks LQ45 turun tipis 1,805 poin (0,16%) ke level 908,800.

Mengawali perdagangan akhir pekan, Jumat (28/5/2015), IHSG dibuka menipis 4,447 poin (0,08%) ke level 5.232,954. Indeks LQ45 dibuka berkurang 1,406 poin (0,15%) ke level 908,851. Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG terpangkas 3,330 poin (0,06%) ke level 5.234,071. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 1,157 poin (0,13%) ke level 908,946.

Pada perdagangan jelang akhir pekan ini, kepala riset Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya memperkirakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak menguat pada kisaran 5.228 – 5.347.

“IHSG kembali mengalami fase konsolidasi, minimnya sentimen baik positif maupun negatif ditambah pelemahan global. Potensi kenaikan masih akan terlihat pada IHSG terkait penantian rilis data ekonomi,” kata William dalam risetnya, Jumat (29/5).

Menurutnya, IHSG yang kembali mengalami fase konsolidasi akubat sentimen baik positif maupun negatif serta ditambah pelemahan global tersebut memberikan pengaruh dalam pergerakan IHSG. Meski begitu, William menilai potensi kenaikan masih tetap terlihat.

Adapun sejumlah saham yang direkomendasikan hari ini adalah AKRA, KLBF, BBNI, UNVR,  ASGR, dan ROTI.

“Potensi kenaikan masih akan terlihat pada IHSG terkait penantian rilis data ekonomi pada awal pekan depan yang merupakan awal bulan juga,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Cara Jitu Jaksa Agung Hindari Gugatan Praperadilan

Jakarta, Aktual.co — Para penyidik diharapkan berhati-hati dalam menangani satu kasus. Kehati-hatian itu untuk menghindarkan dari gugatan praperadilan yang dilayangkan para tersangka. 
“Fenomena baru seperti itu, kita tidak bisa menentukan pilihan lain selain hati-hati. Lebih profesional,” kata Jaksa Agung Prasetyo di Jakarta, Jumat (29/5).
Selain kehati-hatian, lanjut Prasetyo, penyidik juga harus lebih cermat dalam mengusut suatu perkara tindak pidana korupsi. “Lengkapi dulu buktibuktinya. Sehingga dengan demikian ada gugatan apapun harus bisa dihadapi.”
Diketahui, pasca putusan hakim Sarpin Rizaldi mengabulkan gugatan praperadilan Komjen Pol Budi Gunawan terhadap KPK banyak para tersangka korupsi lainnya juga melakukan hal serupa.  Seperti tersangka Sutan Bhatoegana, Suryadharma Ali, Ilham Arif dan Hadi Poernomo ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Namun demikian, tiga orang saja yang lolos dari jeratan KPK lewat praperadilan. Ketiganya yakni, Budi Gunawan, Ilham Arif dan belakangan ini Hadi Poernomo.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Rupiah Menguat 30 Poin ke Level Rp13.193

Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (29/5) pagi bergerak menguat sebesar 30 poin menjadi Rp13.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.223 per dolar AS.

“Meski sentimen dari the Fed (Bank Sentral AS)mengenai kenaikan suku bunga pada tahun ini masih cukup kuat, kenaikannya diperkirakan tidak akan terlalu ekstrim sehingga membuat laju dolar AS menjadi terbatas dengan potensi pelemahan,” kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (29/5).

Di sisi lain, lanjut Reza, sebagian pelaku pasar mengharapkann bahwa masalah utang Yunani akan segera terselesaikan seiring dengan akan dibuatnya konsep atau draft perjanjian untuk bantuan kepada Yunani, situasi itu memberikan amunisi yang cukup positif bagi laju mata uang euro sehingga berdampak pada rupiah.

“Laju rupiah mampu memanfaatkan sentimen yang ada untuk bergerak naik. Diharapkan penguatan rupiah ini dapat berlanjut,” kata Reza.

Dari dalam negeri, lanjut dia, beberapa proyek infrastruktur telah melakukan “ground breaking” (peletakan batu pertama), situasi itu dapat mendorong perekonomian tumbuh dan dapat menjadi salah satu penopang mata uang rupiah.

Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan data klaim pengangguran Amerika Serikat yang menunjukkan jumlah klaim bertambah menjadi salah satu penekan mata uang dolar AS.

“Kenaikan jumlah klaim pengangguran itu berpotensi mendorong mundur ekspektasi waktu kenaikan suku bunga oleh the Fed,” kata Ariston.

Artikel ini ditulis oleh:

Ini Pesan Jaksa Agung untuk KPK Pasca Kalah di Praperadilan

Jakarta, Aktual.co — Jaksa Agung Prasetyo berharap, semua institusi hukum lebih berhati-hati dalam bertindak, khususnya saat menetapkan seseorang sebagai tersangka. Pendapat Prasetyo itu, terkait dengan kekalahan Komisi Pemberantasan Korupsi lewat praperadilan melawan Hadi Poernomo.
“Kita harus hati-hati dan lebih profesional lagi. Penyidik harus cermat dalam menangani setiap perkara, terutama dalam mengumpulkan bukti-bukti. Dengan begitu, gugatan apapun bisa dihadapi,” ujar dia di Kejagung, Jumat (29/5).
Dia mengatakan, dalam mengusut kasus tersebut, KPK pun masih halal melakukan penyidikan kembali. Namun demikian, harus berhati-hati dan harus memiliki bukti kuat. “Jika punya bukti yang cukup dan kuat, penyidikan baru masih bisa dilakukan, apalagi kasus BCA belum ke pengadilan. Jangan karena merasa kalah, lalu tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan praperadilan,” kata Prasetyo.
Wakil Ketua KPK Zulkarnaen menyatakan pihaknya belum dapat menentukan langkah hukum yang akan ditempuh, termasuk membuka penyidikan baru kasus mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan itu.
Sejauh ini komisi antirasuah masih fokus mempelajari salinan putusan dari PN Jaksel. “Kita belum sampai ke situ. Saat ini masih fokus pada putusan praperadilan,” kata Zulkarnaen.
Dia berpendapat, perlu adanya batasan bagi para hakim saat mengambil keputusan, sehingga penagak hukum tidak salah memultitafsir Undang-undang.
Terlebih, sambung dia, hakim secara personal harus dapat memaknai KUHAP dan UU lain yang mempunyai makna berbeda. “Saya kira perlu ada batasan seperti dari undang-undang, jurisprudensi, dan etika profesi,” kata dia.
Hakim, ujar dia, bisa mengartikannya secara parsial dan subjektif. Dengan begitu, putusan yang dikeluarkan akan berbeda dengan putusan hakim lainnya. Terkait hal itu, Zul meminta Komisi Yudisial membuat batasan agar terobosan hukum yang dibuat hakim tidak meluas.
“Masalahnya person yang membaca dan memahami bisa berbeda. Karena itu perlu diberi batasan, agar putusan yang diambil tidak menimbulkan kontroversi,” ujar dia.
Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejagung Tony Tribagus Spontana menyatakan, Korps Adhyaksa tidak terpengaruh atas putusan hakim Haswandi. Menurut dia, bukan hanya pihak Kepolisian yang berwenang jadi penyelidik dan penyidik, melainkan juga jaksa. 
“Dalam KUHAP memang Polisi yang berwenang menjadi penyelidik dan penyidik, namun pada kasus tertentu jaksa juga demikian,” ujar Tony.
Dalam KUHAP dijelaskan penyelidik dan penyidik adalah Polisi atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Polri. Namun hal itu berlaku bagi tindak pidana umum, sedangkan untuk pidana khusus, wewenang penyidikan diberikan kepada penyidik tertentu, seperti jaksa dan PPNS. 
“Itu berdasarkan undang-undang,” katanya.
Menurutnya, kewenangan jaksa melakukan penyelidikan dan penyidikan dalam kasus korupsi diatur sesuai Pasal 30 UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI. Selain itu, jaksa juga berwenang atas penyidikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, berdasarkan UU Nomor 26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Mangkir, Pemeriksaan Bekas Dirut Pertamina Dijadwalkan Ulang

Jakarta, Aktual.co — Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri tengah mengusut kasus dugaan korupsi proyek cetak sawah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Tengah tahun 2012-2014. 
Dalam kasus tersebut, penyidik telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan dan Dirut Perusahaan Gas Nasional Hendi Priyosantoso sebagai saksi pada, Kamis (28/5). 
Namun, menurut Dirpidkor Bareskrim Polri Brigjen Ahmad Wiyagus, keduanya mangkir dari panggilan penyidik. Kendati demikian, lanjut Wiyagus, pihaknya kembali agendakan panggilan terhadap keduanya. 
“Mereka akan dipanggil kembali,” ujar Direktur Tipikor Bareskrim Brigjen Wiyagus, di Mabes Polri.
Proyek yang dipelopori oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan melibatkan beberapa perusahaan plat merah seperti, BNI, Askes, Pertamina, Pelindo, Hutama Karya, BRI, dan PGN.
Proyek tersebut senilai Rp 317.031.739.738. Para BUMN itu mempercayakan penggarapan cetak sawah kepada PT Sang Hyang Seri. Namun, Sang Hyang Seri melempar kembali proyek tersebut kepada PT Hutama Karya, PT Indra Karya, PT Brantas Abipraya, PT Yodya Karya. Namun, pada kenyataanya proyek tersebut diduga fiktif.
Bareskrim sudah melakukan penyelidikan sejak April 2015. Sebanyak 21 saksi diperiksa, termasuk 6 orang camat, kepala desa, Ketua RT, dan Petani Kecamatan Hilir Utara.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain