21 April 2026
Beranda blog Halaman 36047

SBY Merasa Difitnah, Kadernya Protes Keras

Jakarta, Aktual.co  —Ketua Harian Jaringan Nasional, Jimmy Setiawan, mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah rezim yang paling banyak menebar isue dan menyalahkan rezim sebelumnya, sejak berjalannya roda pemerintahan Jokowi enam bulan lalu. Mulai dari kesalahan Presiden Jokowi yang mengatakan Indonesia masih berutang pada IMF. Padahal utang Indonesia kepada IMF telah lunas sejak tahun 2006.

Sangat disayangkan, setelah itu keluar lagi isu dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said bahwa mantan menteri ESDM Dahlan Iskan pernah merekomendasikan kepada mantan Presiden SBY untuk membubarkan Petral. Ini  dianggap oleh kelompok pembela SBY sebagai fitnah.

“Sudirman said harus bertanggung jawab, yang dalam hal ini saya katakan sebagai fitnah,” kata Jimmy di Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5).

Selain itu, dikatakan oleh Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Sudirman Said adalah  menteri yang paling rajin menyalahkan kebijakan-kebijakan rezim sebelumnya. Itulah sebabnya muncul protes keras dari para loyalis SBY.

“Sudah kita melakukan protes keras, teman dari kader pembela SBY juga melakukan aksi, yang saya dengar. Semua kader Partai Demokrat juga bereaksi dengan pernyataannya,” ungkapnya.

Dia pun menegaskan, jika protes keras yang muncul tidak juga didengar anggota kabinet Presiden Jokowi ini, maka pihaknya akan melanjutkan pada jalur hukum.

Artikel ini ditulis oleh:

Dansatgas Indobatt Unamid Gelar Pertemuan dengan Dubes RI untuk Sudan

Komandan Satgas (Dansatgas) Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda XXXV-A/Unamid (United Nations Mission In Darfur) atau Indonesian Battalion (Indobatt) Letkol Inf M. Herry Subagyo didampingi dua orang stafnya, menggelar pertemuan dengan Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Sudan, Burhanuddin Badruzzaman, di Khartoum Ibu Kota Sudan, Afrika, Jum’at (22/5/2015). PUSPEN TNI

Bila Salahkan SBY, Seharusnya Sudirman Said Salahkan Megawati Juga

Jakarta, Aktual.co — Menteri ESDM Sudirman Said merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peranan Petral, sehingga apa yang disampaikannya terkait dengan tudingannya kepada SBY sebagai sikap penistaan.

Demikian disampaikan mantan juru bicara Demokrat, Rachland Nashidik dalam acara konfrensi persnya, di Jakarta, Sabtu (23/5).

“Sudirman Said sendiri pada kenyataannya adalah bagian yang tidak dipisahkan dari sejarah Petral dan tata kelola minyak yang saat ini dikecam dengan hebat,” ujarnya.

Dikatakan Rachland, Petral yang berdiri pada tahun 1970-an, yakni pada masa Presiden Soeharto itu, faktanya tidak dibubarkan oleh presiden-presiden sesudahnya yakni BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan SBY.

“Maka bila Sudirman bermaksud cuci tangan dan melemparkan kesalahan, ia harus bukan hanya menuding SBY, namun sekurang-kurangnya juga menyalahkan Megawati,” seru dia.

Oleh karena itu, sambung dia, Presiden Jokowi perlu secara terbuka menjelaskan sikapnya terkait pernyataan pembantunya itu.  Lantaran hal harus dilakukan presiden untuk membebaskan dari spekulasi di tengah masyarakat.

“Bagaimanapun juga seorang pemimpin harus mengambil tanggung jawab atas kesalahan anak buahnya,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang
Eka

Didi Irawadi: Minim Kinerja, Sudirman Said Salahkan SBY

Jakarta, Aktual.co —Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin menilai  kenerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said seperti peribahasa “buruk muka cermin dibelah.” Pernyataan ini dilontarkan Didi menanggapi Menteri ESDM, yang mengatakan bahwa usul pembubaran Petral dulu selalu terhambat di meja mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dikatakan Didi, sejak berjalannya pemerintahan Joko Widodo sudah banyak masalah terjadi. Misalnya, di awal kepemimpinan Jokowi, di mana saat harga minyak dunia sedang turun, namun pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kemudian setelah itu naiknya harga tarif listrik, yang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Menurutnya, hal itu didasari kinerja yang minim sehingga Sudirman Said melemparkan isu menyalahkan orang lain, seperti peribahasa “buruk muka cermin dibelah.”

“Dia pikir dengan memfitnah SBY, rakyat lupa dengan segala persoalan. Harga-harga melambung, mau lebaran bayar kebutuhan mahal,” kata Didi di Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5).

Diungkapkan Didi, sikap Sudirman Said sebagai seorang anggota kabinet juga seperti ingin menjadi pahlawan, dengan melempar isu yang dianggap tidak penting. Padahal masih ada isu yang lebih penting dan menyedihkan. “Seperti beras plastik ada di mana-mana. Saya pikir lebih penting itu. Saya berharap bukan cara seperti ini yang dilakukan seorang menteri. Jangan karena prestasi minim, membuat isue-isue, memfitnah,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Demokrat: Dahlan Iskan Tidak Pernah Berikan Studi Soal Pembubaran Petral

Jakarta, Aktual.co — Tudingan Menteri ESDM Sudirman Said kepada Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal pembubaran Petral dan pemberantasan mafia migas sering terhenti di meja istana ketika menjadi presiden. Pernyataan itu pun terus mendapat tanggapan serius dari kader partai bintang mercy tersebut.

Sekretaris Departemen Politik, Hukum dan Keamanan DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik mengingatkan agar Presiden Jokowi untuk bijak dengan tidak menyalahkan kebijakan yang ada pada rezim sebelumnya.

“Kami tunduk pada etika demokrasi bahwa pemerintah pemenang pemilu berhak mendapat keleluasaan untuk membuat kebijakan baru, termasuk membubarkan Petral. Kami tidak pernah mengambil posisi untuk menghalangi atau apalagi menggagalkan kebijakan tersebut,” klaim Rachland dalam konfrensi persnya, di kawasan Epicentrum, Jakarta, Sabtu (23/5).

Lebih lanjut, ia menjelaskan terkait dengan peryataan Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika itu untuk membubarkan Petral yang direspon oleh SBY agar untuk melakukan pembenahan terhadap Pertamina. Bahkan, sambung dia, Presiden RI ke IV itu juga meminta Dahlan Iskan memintanya melihat kemungkinan agar pertamina dapat mengimpor langsung tanpa perantara.

“Artinya dengan kata lain, harus digaris bawahi, bila pada saat itu Dahlan Iskan membangun wacana pembubaran Petral, itu adalah rangka perintah Presiden SBY, ” sebut dia.

“Namun pada kenyataannya hingga berakhir masa jabatannya di kabinet, Dahlan Iskan tidak pernah sampai pada kesimpulan untuk membubarkan Petral. Tidak pernah melakukan studi untuk menilai Petral dalam kompleks tata kelola minyak dan gas bumi pada saat itu,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang
Eka

Indonesia Harus Bisa Manfaatkan MEA

Jakarta, Aktual.co — Menghadapi berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),Indonesia harus bisa memanfaatkannya. Untuk bisa memanfaatkan MEA, Indonesiaharus siap menghadapi konteks internasional baru, yang berupa masyarakat globalyang berbasis pengetahuan (knowledge-based global society). 

Demikian dikatakan diplomat senior Prof. Dr. MakarimWibisono, dalam acara University Partners Gathering di Universitas Sampoerna,Jakarta, pekan ini. Acara itu bertema “Membangun Daya Saing Dalam MenghadapiMasyarakat Ekonomi ASEAN.”

“Kalau Indonesia tidak siap, maka kita akan ketinggalandalam gerakan masyarakat global tersebut,” ujar Makarim, yang meraih doktornyadi Ohio State University, Amerika. Hadir pada acara itu Rektor UniversitasSampoerna, Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah, para dosen, mahasiswa, danundangan lain.

Makarim pada kesempatan itu mengungkapkan potensi ASEAN yangsangat besar. Jumlah pendudukASEAN mencapai 591 juta orang, yang berarti 8,8 persen dari populasi dunia. Gabunganproduk domestik bruto (GDP) ASEAN mencapai 3,4 triliun dollar AS. Sedangkanluas wilayahnya mencapai 4,46 juta kilometer persegi.

Membandingkan pembentukan ASEAN dengan Uni Eropa, Makarimmengatakan, kalau di Uni Eropa proses pembentukannya terjadi dari bawah ke atas(bottom up). Sedangkan proses pembentukan ASEAN adalah dari atas ke bawah,yakni dari inisiatif para pemimpin ASEAN pada waktu itu, seperti antara lain PresidenSoeharto, PM Malaysia Mahathir Mohamad, dan PM Singapura Lee Kuan Yew.  

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain