21 April 2026
Beranda blog Halaman 36285

Menag: Pemerintah Tak Intervensi Muktamar NU

Jakarta, Aktual.co — Perhelatan Muktamar ke-33 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Agustus mendatang. Namun beberapa nama sudah muncul sebagai kandidat Ketua Umum.
Menanggapi hal itu, Kementerian Agama mengatakan tidak akan ikut campur dan dukung mendukung kontestasi Rais ‘Aam dan Ketua Umum. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin langsung menyampaikan komitmen indepedensi. 
“Muktamar NU itu miliknya Nahdlatul Ulama. Pemerintah tidak akan masuk ke area itu,” ujar Menteri Lukman.
Menteri yang juga politisi PPP ini mengatakan banyak pejabat di Kementerian Agama, baik di tingkat pusat maupun daerah merupakan aktifis, kader, dan pimpinan NU. Tetapi keterlibatan mereka di NU bersifat personal dan merupakan hak pribadi sebagai muktamirin.
“Figur-figur tersebut bukan datang mewakili Kementerian Agama. Jadi saya tegaskan lagi, bukan menjadi domain kami (Kementerian Agama) terlibat dalam menentukan siapa pimpinan NU mendatang,” ujar Lukman.
Perlu diketahui, Muktamar NU tahun ini merupakan yang ke-33. Rencananya akan diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, pada 1 – 5 Agustus 2015.

Artikel ini ditulis oleh:

Dik Doank: Alm Didi Petet Itu Teman dan Guru Saya

Jakarta, Aktual.co — Lewat pesan berantai, Blackberry Messenger (BBM) Raden Rizki Mulyawan Kertanegara atau akrab disapa Dik Doank mengetahui kabar  meninggalnya Alm Didi Petet.

“Saya bangun Subuh dapat broadcast, lalu lihat di TV. Saya tetangga, hanya beberapa kilo jadi saya datang ke sini,” ungkapnya, di rumah duka, kawasan Bambu Apus Ciputat Tangerang Selatan, Jumat (15/5).

Menurut pemilik sekolah sepakbola ‘Kandank Jurank’ ini, sosok Almarhum merupakan sosok guru baginya. Tak jarang, dalam setiap kesempatan Almarhum selalu menyambangi markas Kandank Jurank.

“Sebelum Kandank Jurank Doank ada, dia menjadi teman dan guru bagi saya,” bebernya dengan nada sedih.

“Dia (almarhum) selalu ada untuk teman-teman di Kandank Jurank. Mas Didi mau datang dan melengkapi itu semua. Kita belajar seni peran, belajarnya bareng orang kampung dan selalu bertukar pikiran,” ujarnya menutup pembicaraan.

Artikel ini ditulis oleh:

Terkejut Didi Petet Wafat, Ini Kenangan Istimewa Dwiki Dharmawan kepada Almarhum

Jakarta, Aktual.co — Hadir di tengah pelayat Musisi Senior Dwiki Dharmawan terkejut pertama kali mendengar sahabatnya, Alm Didi Petet meninggal dunia. Bahkan, saat Almarhum berada di Eropa untuk melangsungkan tugasnya menyampaikan misi budaya, komunikasi dengan Didi Petet dianggapnya pertemuan terakhir yang pernah dilakukan suami Ita Purnamasari tersebut.

“Saya sempat berkomunikasi ketika beliau di Eropa. Itu komunikasi terakhir saya dengan Almarhum. Makanya, begitu mendengar beliau meninggal saya sempat kaget. Kali pertama saya dengar kabar ini dari anak saya Nanda. Pagi dibangunin, karena semalam baru pulang dari Bandung, ” jelas Dwiki Dharmawan kepada Aktual.co, ditemui di jalan Bambu Apus, kawasan Ciputat, Tangerang Jumat (15/).

“Saya sebetulnya sedang bareng kuliah sama Almarhum ambil kuliah Master of Research Art di IKJ. Beliau pernah jadi Dekan di IKJ dan bisa menyelesaikan. Itu yang bikin saya makin dekat dengan Almarhum,” sambungnya.

Tak hanya itu, kenangan yang paling diingat oleh dia yaitu kerjasama seni dengan Almarhum.

“Di antaranya saya pernah menggagas operet bareng, untuk HUT Bhyangkari. Tahun 2010. Saya banyak terlibat dalam berkesenian, dengan beliau. Saya sebagai penata musik dan Almarhum sebagai aktornya. Banyak kerjasama yang saya lakukan sama Almarhum, ” kenang Dwiki Dharmawan.

“Bagi saya, beliau orang yang berdedikasi sekali terutama dalam dunia seni dan maupun kehidupannya, ” tuntasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Mengenang Bencana Geopolitik di Balik Lepasnya Indosat

Jakarta, Aktual.co —Menteri BUMN Rini Soemarno dan Komisi VI DPR baiknya pelajari kembali skema perang asimetris asing dalam melumpuhkan Indonesia melalui sarana-sarana non militer. Seperti lepasnya kepemilikan saham mayoritas Indosat ke tangan Temasek Holding, Singapore.

Ada yang mengkhawatirkan di balik kesepakatan bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara(BUMN) dan Komisi VI DPR untuk menjalankan program privatisasi BUMN melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Kesepakatan  tetap berbahaya  meski  mayoritas fraksi di DPR mendesak pemerintah agar berupaya menghentikan adanya kepemilikan saham asing di perusahaan BUMN yang melantai di bursa saham.  Karena skema privatisasi BUMN, bagaimanapun juga berakar pada skema Liberalisasi Ekonomi yang digariskan oleh Bank Dunia dan Dana  Moneter Internasional (IMF). 

Selain itu, kesepakatan Kementerian BUMN dan Komisi VI ini tetap harus dibaca sebaga “Lonceng Tanda Bahaya” mengingat ketiga BUMN yang menjadi sasaran privatisasi merupakan sektor strategis (PT Antam Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Waskita Karya Tbk). Karena bagaimanapun juga, privatisasi BUMN pada perkembangannya akan jadi pintu masuk penguasaan swasta asing terhadap mayoritas kepemilikan saham BUMN kita.

Mari kita kembali tumpukan berita lama, terkait cerita masuknya kepemilikan saham asing terhadap PT Indonesia Satelite Corporation Tbk (INDOSAT). Pada 13 Desember 2002, dari 4 calon investor yang ada, kemudian mengerucut pada 2 investor yang memasukkan penawaran akhir (final bid) penawaran pembelian saham Indosat. Kedua penawar tersebut adalah Singapore Technologies Telemedia (STT) dan Telekom Malaysia Bhd. Sedangkan beberapa kandidat lainnya, Desa Mahir Sdn, Bhd (Malaysia) dan Gilbert Global Equity Partner (dari Hongkong), dipastikan gugur.

Melalui proses ini terungkap betapa pengaruh asing sedari awal ikut bermain melalui keterlibatan Gita Wirjawan yang kala itu bekerja untuk Goldman Sach (sebuah perusahaan hedgefund dari Amerika Serikat) sekaligus sebagai penasehat keuangan STT. Memang ketika proses pembelian Indosat ini terjadi di era pemerintahan Megawati Sukarnoputri, Gita Wirjawan belum masuk jajaran kabinet, namun nampak jelas bahwa alumni ITB ini sudah memainkan peran yang cukup strategis meski dari belakang layar.

Sejak keberhasilannya membantu Temasek Holding memenangkan tender pembelian Indosat, maka Gita Wirjawan tercatat reputasinya sebagai salah satu spesialis jual beli aset negara. Tak heran jika pada perkembangannya kemudian, terutama di periode kedua pemerintahan Presiden SBY, Amerika Serikat sangat berkepentingan menempatkan “sang spesialis” dalam struktur pemerintahan Indonesia. Maka, Gita kemudian ditunjuk SBY sebagai menteri perdagangan.

Sekarang, pemerintahan Megawati dan SBY sudah berlalu, dan sosok Gita pun prospek poliitiknya tak secerah era-era sebelumnya. Namun, masih banyak Gita-Gita Wirjawan lain di negeri kita yang memainkan peran sebagai ‘spesialis” jual beli aset negara dengan gaji yang menggiurkan.

Komprador-komprador dengan tipologi macam Gita Wirjawan ini nampaknya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa urusan jual beli aset negara kepada swasta asing seperti dalam kasus Temasek Singapore membeli Indosat, sejatinya bukan sekadar urusan ekonomi-bisnis belaka. Melainkan telah masuk dalam pendekatan skema perang asimetris yang dilancarkan oleh pihak asing.

Berarti, yang paling fatal dengan dilepaskannya mayoritas kepemilikan saham Indosat kepada Temasek adalah telah terjadinya bencana geopolitik di tanah air, bukan sekadar lepasnya kendali ekonomi atas Indosat. Betapa tidak. Selama ini Geopolitik seringkali hanya dimaknai sekadar sebagai tata cara dalam rangkap pemetaan (mapping) wilayah atau kawasan yang kaya akan sumberdaya alam(SDA). Padahal sesungguhnya bukan itu saja. Dalam lingkup yang lebih luas, elemen-elemen geopolitik ternyata selain meliputi SDA, geografi, demografi (Trigatra), juga meliputi Ideologi, Politik,  ekonomi,Sosial- Budaya dan Hankam (Panca Gatra).

Namun oleh karena perkembangan waktu, ada dua aspek lain yang tak kalah penting terkait geopolitik sebagai Ilmunya Ketahanan Nasional. Yaitu Telekomunikasi /Komunikasi dan Transportasi.

Pada tataran ini, Indosat  seharusnya sebelum diputuskan boleh tidaknya dijual mayoritas sahamnya kepada asing, disadari oleh para pemangku kebijakan luar negeri dan ekonomi bahwa telekomunikasi merupakan salah satu lingkup strategis dari Ketahanan Nasional bangsa Indonesia.

Ketika Presiden Suharto memutuskan untuk membangun “Stasiun Bumi” di Jatiluhur, Jawa Barat, sebagai infrastruktur pendukung satelit yang kemudian kita kenal sebagai Satelit Palapa, sejatinya didasari gagasan yang visioner dan jauh ke depan. Betapa dalam pandangan Suharto yang visioner dan jauh ke depan, abad 21 merupakan  abad ruang angkasa dengan teknologi satelit sebagai tulang punggungnya.

Satelit telah menjadi teknologi strategis karena memiliki fungsi sebagai indera pendengaran, indera komunikasi, juga penglihatan, bahkan bisa menjadi kaki dan tangan sebuah negara-bangsa. Bahkan di era pemerintahan Ronald Reagan ketika meluncurkan program Star Wars alias Perang Bintang melawan Uni Soviet, satelit dipandang sebagai aset strategis melalui pengembangannya sebagai teknologi militer dan alat utama sistem persenjataan yang cukup mematikan.

Bukti nyata bahwa satelit sebagai tulang punggungnya penguasaan negeri kita melaui ruang angkasa adalah dengan diberinya nama “Satelit Palapa”. Melalui pemberian nama Palapa, Suharto ketika itu seakan mau memparalelkan aspek maritim di era Kerajaan Majapahit dan Ruang Angkasa di era abad 21, sebagai sama-sama sebagai simbol kekuatan negara dalam menyatukan seluruh wilayah nusantara. Melalui sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada pada abad ke-14, melalui angkatan laut yang kuat, Majapahit berhasil menjadikan Nusantara sebagai “poros maritim” dunia sebagaimana Kerajaan Sriwjijaya pada abad ke-7.

Bagi Suharto, penguasaan lautan pada zaman Majapahit sama strategisnya dengan penguasaan angkasa pada abad 21. Ketika Indonesia belum mampu menggarap secara maksimal potensi ekonomis kekayaan angkasanya, melalui teknologi komunikasi yang bernama Satelit Palapa, wilayah udara Indonesia menjadi “jalan tol” lalu lintas saluran TV, telepon, dan Internet bagi milyaran akses dan transaksi antar manusia, perusahaan maupun negara setiap tahunnya. Belum lagi lalu lintas pesawat-pesawat udara komersial yang lalu lalang melintas. Bayangkan berapa nilai rupiahnya dalam setahun.

Ketika Indosat dengan begitu saja dilepas mayoritas kepemilikan sahamnya kepada Temasek, para “pemangku kepentingan” kita di bidang telekomunikasi dan komunikasi  tidak menyadari bahwa satelit adalah ibarat sebuah pulau di angkasa, sehingga satelit adalah aset negara yang strategis. Satelit telah menjadi bagian dari hajat hidup orang banyak, sehingga harus dikuasai oleh negara.

Kenyataan bahwa satelit merupakan teknologi yang terintegrasi dengan teknologi komunikasi dan teleskop, berarti satelit merupakan pancaindera suatu negara. Satelit bisa digunakan untuk meramalkan iklim, memetakan daratan, memotret lokasi, mengindera sumberdaya alam dan menjadi alat navigasi seperti GPS dan lain sebagainya.

Pihak asing, dalam hal ini Singapore yang kita tahu masih dalam rentang kendali Inggris melalui Common Wealth (Perhimpunan Negara-Negara Persemakmuran) yang terdiri dari eks negara-negara koloni Inggris, menyadari betapa strategisnya Satelit Palapa. Sehingga melalui Perang Asimetris yang sejatinya merupakan upaya melumpuhkan kekuatan strategis sebuah negara melalui sarana-sarana non militer, maka misi pokok yang kemudian dtetapkan adalah: Rebut Satelit Palapa Untuk Lumpuhkan Indonesia.

 Dalam perhitungan pihak asing, dalam hal ini Singapore dan Inggris, tanpa adanya satelit, maka Indonesia akan menjadi buta dan tuli. Bukan itu saja. Bahkan privasi kita sebagai bangsa diketahui oleh orang lain. Bayangkan. Seluruh komunikasi, transaksi perbankan  bahkan rahasia negara kita bisa dimonitor secara transparan oleh kekuatan asing. Jadi untuk memata-matai Indonesia tidak perlu repot-repot mengadakan penyadapan dan operasi intelijen. Karena Indonesia memang sudah “telanjang bulat” termasuk dalam sistem pertahanan dan keamanan negara.

Inilah yang saya singgung di awal tulisan tadi. Pengambil-alihan kepemilikan saham BUMN yang bernama Indosat, akhirnya menciptakan bencana geopolitik. Bukan sekadar hilangnya hak milik ekonomi.

Di sinilah sejarah kelam Gita Wirjawan sudah selayaknya terdokumentasi sebagai konsultan Temasek Singapure yang berhasil mengatur penjualan aset strategis tersebut dengan mulus. Sehingga beralih tanganlah INDOSAT dengan harga murah.

Sejak penjualan itu, Indonesia menjadi ajang penyadapan antek-antek asing. Dan pemilik baru Indosat meraup untung milyaran dolar.

Perlu diingat, masih banyak Gita Wirjawan-Gita Wirjawan lain di negeri kita, yang siap membantu pihak asing untuk lumpuhkan Indonesia di semua sektor strategis.  
     
Oleh: Hendrajit, Redaktur Senior Aktual

Maradona Kritik Pedas Presiden FIFA (2), Minta ke Allah untuk Depak Blatter

Jakarta, Aktual.co — Diberitakan Aktual.co sebelumnya, Presiden FIFA, Sepp Blatter pada 2011 terpilih usai pesaingnya yang paling vokal, Mohammed bin Hammam dari Qatar mengundurkan diri sebelum pemungutan suara.

Satu bulan kemudian, Qatar dilarang dari semua kegiatan sepakbola seumur hidup oleh sebuah panel FIFA.

Blatter menyatakan, bahwa ia tidak akan mencalonkan diri lagi setelah 2011, tetapi berubah pikiran. Dia adalah pelopor kuat ketika 209 anggota FIFA pergi ke tempat pemungutan suara pada 29 Mei.

FIFA tidak segera bersedia untuk komentar ketika dihubungi untuk memberikan respon terhadap wawancara Diego Maradona, tapi awal tahun ini, menanggapi kritik dari masa jabatannya, Blatter mengatakan kepada CNN, “Kau tahu tidak mungkin untuk membuat semua orang senang.”

“Jika saya akan hanya dapat masukan positif maka tidak akan baik. Dan, saya suka kritik selama kritik tersebut adil,” kata Blatter.

“Saya suka diskusi. Tapi dengar, saya hanya ingin menyelesaikan itu,” tambahnya.

Kritik Maradona ‘mengkristal’ mengarah ke Blatter: “Saya hanya meminta Allah, dan ibu saya yang ada di langit, bahwa saya bisa memiliki kesempatan untuk mendepak pria ini keluar dari FIFA dan memberikan orang yang layak.”

Sementara itu, FIFA menjelaskan klaim yang dibuat oleh dokumenter film ESPN, dimana menyebut Blatter menghindari berpergian ke AS karena investigasi FBI ke Piala Dunia di dalam proses penawaran 2018 dan 2022 sebagai “hal yang tidak benar.”

“FIFA telah pernah menerima permintaan dari penegak hukum Amerika,” kata sebuah pernyataan FIFA kepada CNN.

“Selama periode mandatnya, kemungkinan Presiden FIFA mencoba untuk mengunjungi 209 Asosiasi anggota.”

“Sebagai Presiden perjalanan secara ekstensif, kita perlu memeriksa tepatnya ketika ia terakhir mengunjungi AS, tetapi perjalanannya tidak dibatasi terkait kecurigaan dugaan tersebut.”

Artikel ini ditulis oleh:

Pelayat ‘Membludak’, Alm Didi Petet Dimakamkan Bersebelahan dengan Bung Hatta

Jakarta, Aktual.co — Usai jenazah aktor senior Didi Petet disalatkan di Masjid Baitul Karim,  pelayat yang ingin mendoakan, terus berdatangan baik di rumah duka maupun di lokasi Masjid.

“Bagi para pelayat yang ingin mensalatkan bisa langsung menuju Masjid,” kata panitia melalui pengeras suara di rumah duka, kawasan Batu Apus, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (15/5).

Selain warga sekitar, Musisi, artis hingga pelaku seni terus memenuhi kediaman  Almarhum Didi Petet. Jumlah pelayat yang membludak mengakibatkan sejumlah akses jalan menuju rumah duka mengalami kemacetan total. 

Sementara itu, di rumah duka sendiri terlihat beberapa artis dan Musisi seperti Dik Doang, Mat Solar, Mathias Muchus, pengamat musik Bens Leo, dan lain-lain.  

Sekedar informasi, jenazah Didi Petet menurut rencana akan dikebumikan usai salat di tempat pemakaman umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pusara Didi kabarnya persis bersebelahan dengan makam proklamator Bung Hatta.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain