18 April 2026
Beranda blog Halaman 36296

BNN Sita 20 Kg Shabu Asal Malaysia

Jakarta, Aktual.co — Badan Narkotika Nasional (BNN) menyita narkoba jenis shabu-shabu sebanyak 20 kilogram dan 580.000 butir ekstasi yang berasal dari Malaysia

Siaran pers BNN, di Jakarta, Kamis (14/5), menjelaskan kronologi penyitaan itu. Pada 8 dan 9 Mei 2015, petugas BNN menahan tujuh orang laki-laki warga Aceh Timur yang diduga terlibat peredaran narkoba. Mereka berinisial Zu (31) yang berperan sebagai checker dan koordinator pengiriman narkoba, Su alias Ba (38/kurir), AI (39) – sopir bus, AJ (37) kenek bus, TNS (23/kurir), Am (32/sopir truk), dan ER (28/kenek truk). 
Mereka ditangkap di Medan, Sumatera Utara, sesaat setelah transaksi shabu-shabu sebanyak 20 kg dan 580.000 butir ekstasi. Dari hasil penyelidikan terhadap sindikat narkoba jaringan Sumatera Utara-Aceh-Malaysia, diketahui ada upaya penyelundupan shabu-shabu dan ekstasi dari Malaysia menuju Indonesia.

Pada 5 Mei 2015, sebanyak 20 kg shabu-shabu dan 580.000 butir ekstasi dari Malaysia masuk ke Tanjung Balai, Sumatera Utara, melalui jalur laut. Setiba di Tanjung Balai, shabu-shabu dan ekstasi itu diterima TNS (kurir) dan kemudian dibawa ke Medan untuk diserahkan kepada Zu (checker dan koordinator pengiriman).

Selanjutnya, narkotika tersebut dibawa Zu ke gudang di Aceh. Di gudang tersebut, shabu-shabu dan ekstasi dipecah menjadi dua paket dan dibawa kembali ke Medan oleh Zu dan Su alias Ba (kurir).

Di Medan, pengaturan pengiriman paket dirancang kembali oleh Zu. Pada 8 Mei 2015, paket pertama yang berisi 20 kg sabu dan 100.000 butir ekstasi rencananya akan dibawa dalam bus umum antarkota antarprovinsi yang dikemudikan AI (sopir bus) dan AJ (kernet bus).

Namun aksi ini digagalkan petugas BNN, ketika Zu dan Su alias Ba tengah memindahkan paket itu ke dalam bus.Pada saat itu petugas menahan empat orang tersangka, yaitu Zu, Su alias Ba, AI, dan AJ.

Artikel ini ditulis oleh:

Gila, Pria Ini Pakai Bahan Bakar LPG Melon Untuk Mobilnya

Semarang, Aktual.co —  Suritno (42), warga RT 1 RW 1 Desa Api-api kecamatan Wonokerto kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah ini begitu inovatif dan menantang. Kegilaan ide pria yang setiap hari berkeliling jualan gas elpiji 3 kilogram di tiap-tiap kampung itu merakit bahan bakar mobil merk Carry 1.5 bernopol G-1763-NB dari BBM jenis premium dirubah menjadi gas.

Tanpa alat pengaman apapun, tabung gas melon diletakkan di sebelah kursi mobilnya ketika mendistribusikan barang dagannya memakai mobil. Sebaliknya, jika dirinya berkeliling memakai sepeda motor, hanya menaruh tabung gas di belakangnya dengan diikat.

Latar belakang ide inovatif itu muncul, ketika pemerintah menenaikan harga BBM subsidi jenis premium dari Rp4500 menjadi Rp6000 saat itu. Pria yang tidak memiliki keahllian di bidang otomotif maupun perbengkelan itu hanya nekad bermodal otodidak merubah bakan bakar premium menjadi gas. Dimana, sebelumnya belum pernah dilakukan oleh otomotif di beberapa negara, khususnya pabrik perakitan kendaraan bermotor.

“Saya tidak belajar dari siapa-siapa atau dari mbah google, tapi saya memahami cara kerja pembakaran mesin. Ya, sebelumnya memang pernah ada pengganti premium dengan gas, tapi belum terwujud sampai sekarang,” ujar dia kepada Aktual.co di temui di kediamannya, Kamis (14/5).

Orang awalnya mengira tidak percaya kalau ide gila Suritno tidak bisa terwujud dan menantang. Bahkan sempat dianggap suatu hal aneh oleh beberapa orang.

Tapi, dirinya mampu membuktikan kepada semua orang bahwa bakar kendaraan yang memakai premium bisa diganti memakai gas elpiji. Karena, sifat gas menghasilkan uap yang tak jauh beda dengan pembakaran premium.

“Bengkel-bengkel mobil itu meremehkan dan tidak mungkin bensin dapat diganti pakai gas. Setiap kali melintas ke pelanggan dan orang yang melihat ada tabung gas di dalam mobil dianggap lelucon,” beber dia.

Konversi bahan bakar itu sudah digunakan selama sepuluh tahun lebih, sejak kenaikan BBM saat ini hingga sekarang. Dirinya tak pernah membeli premium untuk angkutan kendarannya. Cukup dengan memakai gas elpiji yang dirakit dengan alat tambahan sederhana memakai regulator high presure, yakni sebuah jarum dipakai untuk kompor gas para penjual nasi goreng dan mie ayam.

Alat bantu itu ternyata mudah diperoleh dan didapatkan di berbagai toko kompor gas elpiji. Disamping itu, harga terjangkau lebih murah Rp70 ribu, dibandingkan converter kit mobil Rp7juta yang harus dipesan di Jakarta terlebih dulu, sebagai pengganti premium.

Artikel ini ditulis oleh:

Internet di Ambang “Keruntuhan Kapasitas”

Jakarta, Aktual.co —Internet sedang mengarah ke “keruntuhan kapasitas” manakala ia gagal memenuhi tuntutan kita bagi akses data yang lebih cepat. Demikian diperingatkan oleh para ilmuwan, sebagaimana dilaporkan “Daily Mail,” Mei 2015.
Melimpahnya televisi internet, layanan streaming, dan komputer yang jauh lebih bertenaga telah meningkatkan tegangan terhadap infrastruktur komunikasi.
Dalam waktu hanya 20 tahun, jika tingkat penggunaan yang ada sekarang terus berlanjut, seluruh suplai tenaga listrik Inggris dapat dikonsumsi habis hanya oleh penggunaan internet.
Kabel dan serat optik yang mengirim informasi ke laptop, smartphone, dan tablet akan mencapai titik batasnya dalam waktu delapan tahun, para pakar memperingatkan.
Sejauh ini para insinyur telah mengupayakan begitu rupa untuk tetap berada di depan, mendahului kebutuhan, dengan peningkatan kecepatan internet 50 kali lipat dalam dasawarsa terakhir ini saja.
Pada 2005, internet pita lebar (broadband) memiliki kecepatan maksimum 2 Megabit/detik. Hari ini kecepatan download 100 Mb/detik sudah tersedia di banyak bagian Inggris. Namun para pakar mengingatkan, sains telah mencapai batasnya. Serat optik tidak bisa lagi menangani data lebih banyak. (rio)

Artikel ini ditulis oleh:

IMES: Likuidasi Petral langkah Tepat Namun Harus Waspada

Jakarta, Aktual.co —PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk memulai proses likuidasi Petral Group dan perusahaan-perusahaan yang ada dalamnya yakni Petral-PES dan Zambesi. Likuidasi ini terhitung sejak kemarin, Rabu 13 Mei 2015.

Langkah-langkah tersebut akan didahului dengan financial dan legal due diligence serta audit investigasi yang diakhiri dengan audit forensik.

Indonesia Mining and Energy Studies (IMES) menilai pembubaran Petral Group oleh pemerintah adalah langkah yang tepat. Pasalnya, pertama, sejak lama Petral menjadi sarang mafia migas dan bancakan elit politik.

“Reformasi sektor migas, salah satunya mesti dimulai dengan pembubaran disertai audit investigatif atas kinerja Petral selama beroperasi. Jika ada temuan pidana segera diproses hukum,” ujar Direktur Eksekutif IMES Erwin Usman.

Kedua, sambungnya, putaran uang di sektor migas ini mencapai Rp300-500 triliun per tahun. “Membiarkan tata kelola dan kontrol atas perniagaan migas di tangan satu badan yang sulit dikontrol seperti Petral sama dengan memelihara mafia migas dan racun korupsi tumbuh subur dalam industri migas nasional,” jelasnya.

Ia melanjutkan, ketiga, hal ini sesuai dengan janji Jokowi dalam Nawacita untuk mewujudkan tata kelola migas yang adil, transparan dan disertai penegakan hukum yang tegas, termasuk pemberantasan mafia.

“Keempat, mesti diwaspadai fungsi Petral yang diserahkan ke badan bernama ISC Pertamina. Menteri ESDM Sudirman, sebelum jadi menteri, dahulu pernah bertugas di badan ini sebelum diberhentikan,” tandasnya.

Perlu diketahui, saat ini fungsi pengadaan minyak dan produk BBM yang dulu diperankan oleh Petral.

Artikel ini ditulis oleh:

Kemhan RI Belum Tenderkan Pengganti Pesawat F-5

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Pertahanan Republik Indonesia hingga Kamis (14/5) ini belum juga melakukan tender, untuk memilih pesawat tempur baru untuk pengganti armada pesawat F-5E/F Tiger II milik TNI Angkatan Udara yang sudah semakin tua.
Para pengamat militer menyebutkan, ada beberapa pesawat tempur canggih yang ditawarkan untuk mengganti F-5E/F. Pesawat-pesawat itu adalah pesawat generasi 4+++, yang mampu menjalankan berbagai misi tempur, mulai dari intersepsi, serangan darat, dan pengintaian.
Kandidat pengganti F-5E/F itu antara lain: pesawat  tempur Saab JAS 39 Gripen, Sukhoi Su-35BM, F-16 Block 60, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale. Ada yang bermesin tunggal (Gripen dan F-16), dan ada juga yang bermesin ganda (Su-35BM, Typhoon, dan Rafale).
Pesawat Gripen mampu lepas landas dan mendarat di jalan raya biasa sepanjang 800 meter dan lebar 9 meter. Selain itu, cara perawatannya juga sederhana dan mudah, seperti F-5E/F. Sedangkan biaya bahan bakarnya cuma 4.700 dollar AS per jam terbang.
Sementara itu, pesawat Su-35BM dipandang memiliki daya gentar yang tinggi, karena jarak tempuhnya yang jauh dan mampu mengangkut berbagai persenjataan. F-16 Block 60 adalah varian F-16 yang tercanggih, di mana TNI-AU saat ini sudah menggunakan F-16A/B dan F-16 setara Block 52.
Terakhir pesawat Typhoon dan Rafale adalah pesawat yang sangat canggih, dan sudah memenuhi persyaratan standar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Keduanya menggunakan radar canggih yang bisa melacak semua sasaran seketika. (rio)

Artikel ini ditulis oleh:

Saksi Kasus Kondensat Masih Tutup Mulut

Jakarta, Aktual.co —Bareskrim Mabes Polri terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait kasus terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang dengan pokok perkara korupsi penjualan Kondensat milik negara yang melibatkan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI).

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Brigadir Jenderal Polisi Victor Edi Simanjuntak, mengungkapkan para saksi yang telah diperiksa belum terbuka soal kasus dugaan mega korupsi tersebut.

Beberapa saksi yang telah diperiksa oleh penyidik Bareskrim pada Senin dan Selasa lalu, antara lain berasal dari unsur PT TPPI, SKK Migas, dan Kementerian Keuangan.

“Rata-rata masih belum terbuka masih memberikan keterangan normatif, ada yang lupa, capek dan singkat,” kata Victor kepada wartawan, Kamis (14/5).

Victor mengakui butuh kesabaran dan penguasaan data yang lebih matang menghadapi para saksi yang tertutup itu. Karenanya, pada pemeriksaan berikut penyidik akan menyiapkan pertanyaan dan data yang lebih matang. Sehingga dengan begitu dapat diperoleh keterangan penting terkait pengembangan kasus korupsi tersebut.

“Tentu kita butuh kesabaran, dalam pemeriksaan lanjutan pertanyaan akan tajam,” ujarnya.

Selain itu, kata Victor, pihaknya juga harus menguasai data awal yang sudah dikantongi penyidik mengenai dugaan korupsi yang merugikan negara hingga Rp22 triliun ini.

Data awal itu, lanjut Victor, nantinya akan menjadi ‘amunisi’ penyidik mengorek keterangan para saksi lebih dalam. “Dokumen itu kita tunjukan ke saksi, kita tanyakan,” ungkapnya.

Saat diisinggung apakah saksi yang tertutup kemungkinan mendapat intimidasi dari pihak lain, Victor enggan berandai-andai menanggapinya. “Itu perlu dibuktikan,” katanya.

Dalam kasus dugaan mega korupsi PT TPPI ini, penyidik sudah menetapkan tiga tersangka. Diantaranya Djoko Harsono (DH), Honggo Wendratno (HW), dan Raden Prijono (RP). Demi pengembangan kasus, ketiganya bahkan sudah dicekal berpergian ke luar negeri.

Kendati demikian, ketiga tersangka itu belum diagendakan pemeriksaan sebagai tersangka, karena penyidik akan berfokus pada pemeriksaan sejumlah saksi terlebih dahulu.

Bareskrim menduga korupsi kondensat dan pencucian uang tersebut bernilai sekitar US156 juta atau sekitar Rp2 triliun. Kasus terjadi ketika adanya penjualan kondensat bagian negara oleh SKK Migas kepada PT TPPI pada kurun waktu 2009 hingga 2010 dengan penunjukan langsung.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain