14 Mei 2026
Beranda blog Halaman 38855

Demokrasi dan Nomokrasi (bagian 4)

Negara Lemah
Apa yang dulikiskan di atas memberi kita keprihatinan yang mendalam bahwa arus globalisasi dan demokratisasi di Indonesia mengandung potensi-potensi dekstruktif bagi perkembangan negara-bangsa ke depan yang ditimbulkan oleh lemahnya kapasitas dan otoritas negara.

Di masa Orde Baru, luasnya cakupan kendali negara (state scope) masih bisa diimbangi oleh kapasitas negara (state capacity) untuk melakukan enforcement—kendati dalam beberapa segi tidak selalu taat asas dengan prinsip-prinsip demokrasi. Di era Reformasi, cakupan negara tetap luas—untuk tidak mengatakan kian meluas karena terjadinya pelipatgandaan institusi negara dan perluasan kewenangan daerah. Namun demikian, terjadi penurunan dalam kapasitas negara untuk melakukan penegakkan aturan-aturan tersebut, akibat kekaburan otoritas, persebaran penentu keputusan (veto players), serta kelemahan-kelemahan internal pada aparatur negara itu sendiri.

Gejala terakhir dikenal sebagai tanda ”negara lemah” (weak state). Pelbagai kelembagaan dan peraturan dibuat dengan fungsi dan penegakkan yang kabur dan lemah, namun telah cukup menimbulkan kekusutan dan ketidakpastian bagi pelaksanaan administrasi negara dan bagi pelaku ekonomi-politik yang terkait.

Negara yang lemah tidak akan mampu menegakkan kedaulatan negara ke luar dan ke dalam. Kedaulatan keluar ditandai oleh kemampuan negara untuk melindungi kepentingan bangsa dalam pergaulan antarbangsa dalam posisi terhormat. Kedaulatan ke dalam ditunjukkan oleh kemampuan negara untuk memelihara hukum dan ketertiban.  Dalam ketidakmampuan menegakkan kedaulatan tersebut, tujuan nasional menjadi sulit diwujudkan.

Perlunya Kepemimpinan Kuat
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kita tidak cukup berpesta demokrasi. Taruhan kita ada pada kemampuan untuk memperbaiki tata kelola negara. Berkaca dari keberhasilan reformasi birokrasi di negara-negara Korea Selatan, China dan Thailand ditemukan tiga faktor kunci (critical success factors) dalam reformasi tata kelola negara, yaitu: (1) adanya kepemimpinan yang kuat; (2) adanya komitmen dan kesepahaman bersama yang kuat; dan (3) adanya agenda reformasi yang jelas, bertahap dan terukur.

Pada kesempatan ini, karena keterbatasan waktu, marilah kita bicarkan faktor pertama saja, karena merupakan kunci pembuka kotak pandora, bagi perbaikan faktor-faktor lainnya.

Dalam kaitan ini perlu diingatkan bahwa  demokrasi yang bermaksud memuliakan kedaulatan rakyat menghendaki kepemimpinan yang ”kuat”; yakni kepemimpinan berbasis hukum (nomokrasi) dengan menjalankan amanat konstitusi. Di sini, pemimpin negara mesti sadar bahwa demokrasi tak bisa dipisahkan dari konstitusi seperti  tercermin dalam istilah ”demokrasi konstitusional” (constitusional democrasy). Istilah ini mengandung makna bahwa demokrasi merupakan suatu fenomena politik yang tujuan ideologis dan teleologisnya adalah pembentukan dan pemenuhan konstitusi.

Dengan kata lain, demokrasi yang dijalankan tidak bisa bersifat generik yang bisa diambil begitu saja dari pengalaman negara lain, betapa pun majunya negara tersebut. Demokrasi harus disesuikan dengan falsafah dasar  dan amanat konstitusi, yang merupakan abstraksi dari kesadaran dan jatidiri bangsa.

Dalam menjalankan demokrasi konstitusional tersebut, tentu saja hal pertama yang harus dibereskan adalah konstitusi itu sendiri. Kelemahan dan kerancuan hasil empat kali amandemen memerlukan pemeriksaan ulang secara seksama. Secara prinsip, kalaupun amandemen dilakukan, keseluruhan pasal berikut ayat-ayatnya harus selaras dengan semangat dan prinsip-prinsip negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Kedua, amandemen harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap dengan mempertimbangkan segala implikasi dan konsekuensinya. Ketiga, penyusunannya harus sistematik dan koheren, tidak terkesan tambal sulam dan diorientasikan bagi kepentingan sesaat.

Selanjutan, dalam usaha melaksanakan konstitusi ini, diperlukan keteladanan kepemimpinan. Dengan kepemimpinan yang committed terhadap konstitusi, ketaatan warga negara pada otoritas bukan sebagai ekspresi dari loyalitas dan ketakutan personal yang bersifat adhoc, melainkan sebagai ekspresi dari kesadaran hukum untuk kemaslahatan bersama yang bersifat permanen.

Menyangkut keteladanan kepemimpinan ini, presiden   (dalam sistem presidensialisme) menempati posisi sentral. Sebagai satu-satunya pejabat negara yang dipilih langsung (secara teoritis) oleh seluruh rakyat, Presiden melambangkan harapan masyarakat bahwa amanat konstitusi itu akan diterjemahkan ke dalam kerangka kebijakan dan dijalankan oleh administrasi pemerintahan secara rasional.

Komitmen utama konstitusi dan kepemimpinan negara berkhidmat pada upaya untuk mengamankan dan mencari keseimbangan dalam pemenuhan tiga pokok kemaslahatan publik (public goods). Hal ini berkisar pada persoalan legitimasi demokrasi, kesejahteraan ekonomi, dan identitas kolektif.    

Basis legitimasi dari institusi-institusi demokrasi berangkat dari asumsi bahwa institusi-institusi tersebut merepresentasikan kepentingan dan aspirasi seluruh rakyat secara imparsial. Klaim ini bisa dipenuhi jika segala keputusan politik yang diambil secara prinsip terbuka bagi proses-proses perdebatan publik (public deliberation) secara bebas, setara dan rasional. Hanya dengan penghormatan terhap prosedur-prosedur public deliberation seperti itulah, peraturan dan keputusan yang diambil memiliki legitimasi demokratis yang mengikat semua warga, dan pemerintah bisa melaksanakannya secara benar (right) dan tanpa ragu (strong).

Kenyataan menunjukkan bahwa keputusan Presiden/Wakil Presiden acapkali tak sejalan dengan legitimasi demokratis. Adakalanya mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan proses-proses public deliberation; dan seringkali pula tak menjalankan kebijakan yang diamanatkan oleh hasil public deliberation.

Setelah basis legitimasi diperjuangkan, kemaslahatan publik selanjutnya adalah kesejahteraan ekonomi. Demokrasi politik tak bisa berjalan baik tanpa demokratisasi di bidang ekonomi. Pancasila sendiri mengisyaratkan, bahwa ujung pencapaian nilai-nilai ideal kebangsaan harus bermuara pada ”keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Negara kesejahteraan menjadi pertaruhan dari kesaktian Pancasila.

Dalam 9 tahun terakhir, praktik demokrasi di Indonesia telah mencapai kemajuan yang berarti dalam pemenuhan hak-hak sipil dan politik. Namun demikian, capaian-capaian ini seringkali dimentahkan oleh keterpurukan dan kesenjangan ekonomi. Dalam hal ini, Joseph E. Stiglitz (2005) punya pandangan yang menarik. “Di Indonesia orang kerap merasakan adanya konflik yang lebih intens: konflik antara kewajiban untuk bersikap adil dan tidak pilih kasih dalam sebuah sistem yang didasarkan pada aturan, dengan kewajiban moral untuk membantu kerabat dan anggota komunitas di sebuah negara yang ditandai oleh tingginya angka pengangguran, kemiskinan akut, dan ketimpangan yang mencolok. Ekonomi pasar hanya berjalan baik dalam sebuah sistem yang dipijakkan pada aturan. Dan dalam sistem yang berjalan mulus dengan kesempatan kerja penuh dan rasa keadilan sosial yang luas, kebutuhan untuk ‘membantu’ kerabat sangat bisa dikurangi. Masalahnya, mereka yang berada di negara berkembang diminta untuk meninggalkan ‘jaring pengaman’ dalam ikatan kekeluargaan dan komunal ini, padahal jaring pengaman sosial (dari rejim kesejahteraan) itu sendiri belum tercipta.”

Menciptakan kesejahteraan ekonomi di negara seperti ini, Stiglitz merekomendasikan perlunya keseimbangan antara peran pemerintah dan pasar. Dalam hal ini, negara-negara berkembang harus lebih bebas dan leluasa menentukan pilihan-pilihan kebijakan ekonomi mereka. Tidak ada cara tunggal dan sistem yang sempurna, seperti yang sering dikhotbahkan oleh para arsitek ekonomi di World Bank dan IMF. Seturut dengan itu, pemimpin negara harus memiliki keberanian untuk menjalankan amanat konstitusi dalam penguasaan bumi, air, udara dan kekayaan alam bagi kesejahteraan rakyat. Pemimpin negara, sebagai mata-hati dan mata-nalar rakyat, harus berani mengambil sikap pro-rakyat dalam kasus eksplorasi kekayaan alam yang merugikan bangsa dan negara.

Semuanya itu merupakan prakondisi bagi terpeliharanya kebajikan ketiga: yakni identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia. Kemunculan Indonesia sebagai perwujudan dari civic nationalism (yang berbasis demokrasi konstitusional), dengan Pancasila sebagai titik-temu solidaritas kolektif-nya, mulai mendapatkan ancaman dari meruyaknya aspirasi politik identitas yang bersemangat partikularistik.

Fungsi pemimpin negara sebagai kekuatan moderasi di antara ekstrimitas masyarakat benar-benar sedang diuji. Betapapun mereka tampil karena dukungan partai atau kelompok tertentu, sekali mereka terpilih anasir-anasir partikularistik harus dikesampingkan demi kemaslahatan bersama. Presiden/Wakil Presiden kerapkali terkesan melakukan endorsement secara sengaja atau tidak terhadap keberadaan kelompok-kelompok tertentu yang membahayakan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlalu mahal harganya, jika demi mobilisasi dukungan bagi pemilihan mendatang, hal-hal mendasar dari prinsip demokrasi konstitusional dikorbankan.

Bersambung

Oleh: Yudi Latif, Chairman Aktual

Artikel ini ditulis oleh:

Mantan Wali Kota New York : Obama tak Mencintai Amerika

Jakarta, Aktual.co —Mantan Wali Kota New York Rudy Giuliani membuat gempar Amerika dengan pernyataannya yang menyerang Presiden Barack Obama. Ia mengatakan Obama “tak mencintai” Amerika, seperti yang dilansir Al Jazeera. Anggota Partai Republik ini membuat pernyataan pada Rabu lalu (18/2) saat sedang makan malam eksklusif bersama sejumlah pejabat termasuk Gubernur Wisconsin Scott Walker, yang kabarnya akan menjadi kandidat pemilihan presiden Amerika 2016 mendatang.

“Saya tak yakin, dan saya tahu ini adalah sesuatu yang sulit untuk saya sampaikan. Tapi saya tak yakin, presiden mencintai Amerika,” kata Giuliani saat makan malam di New York sebagaimana dikutip Politico. Giuliani mengkritik posisi Obama saat berurusan dengan kelompok militan. Menurut Giuliani, presiden telah meremehkan ancaman jihad dan menolak untuk “berdiri dan mengatakan ada bagian dari Islam yang sakit.” Giuliani juga mengkritik masa lalu Obama yang memiliki ayah seorang muslim.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Eric Schultz mengatakan Gedung Putih tak akan mengomentari pernyataan Giulani tersebut. “Ini memang hal yang mengerikan untuk dikatakan,” kata Schulzt menirukan ucapan Giuliani.

NU: ISIS Bikin Kacau Dunia

Jakarta, Aktual.co —Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mengecam keras aksi kelompok Islamic State (ISIS). Mereka menilai ISIS kian meresahkan masyarakat dunia. Tindakan brutal terakhir adalah diduga militan ISIS melakukan genosida dengan membunuh 21 warga  Kristen Mesir di Libya. Ketua PBNU KH.

Maksum Machfoedz menyebutkan, kelompok ISIS telah menistakan semua nilai kemanusiaan. Mereka telah melakukan kejahatan paling keji baik kepada orang Syiah, Sunni, Kristen, Turkmen, Shabak ataupun Yazidi.
 
“Ini adalah kejahatan genosida yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Internasional,” kata Maksum, Jumat (20/2). Tindakan brutal lain yang disoroti oleh Maksum adalah eksekusi seorang warga Jepang, Haruna Yukawa serta Kenji Goto dan membakar pilot Angkatan Udara Yordania, Muath al Kassasbeh.
 
“PBNU mengutuk keras perbuatan ISIS.  Pemerintah Indonesia didorong ikut dalam gerakan melawan gerakan radikal itu. Tokoh agama, ormas, pemuda maupun masyarakat untuk bersama-sama menolak ISIS masuk ke Indonesia,” tegasnya. “Indonesia diharapkan negara terdepan yang paling anti ISIS. Itu kita dukung,” kata dia.
 
Lebih lanjut, Maksum berharap agar pemerintah lebih mewaspadai usaha ISIS mencari anggota-anggota dari Indonesia. Dalam usaha membendung pengaruh ISIS, dia menegaskan NU akan membantu pemerintah. “NU harus di depan membangun Islam yang berakhlak, berbudaya, dan berperadaban,” tutup Maksum

PBB: Hentikan Pengepungan Suriah

Jakarta, Aktual.co —Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyeru anggota Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan pengepungan terhadap warga sipil Suriah. Ia juga meminta semua pihak mengakhiri serangan menggunakan bom barrel di negara tersebut, seperti yang dikutip BBC.

Ban mengajukan seruan tersebut dalam sebuah laporan kepada DK PBB yang sedang berusaha meningkatkan urgensi pencapaian solusi politik dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung hampir empat tahun.

Kemudian Ban juga menyebutkan lima prioritas yang harus dilakukan, seperti penghentian pengepungan terhadap 212.000 jiwa di Suriah, memastikan akses terhadap bantuan medis, dan membangun kembali sistem pendidikan. Dia juga mengatakan kepada 15 anggota dewan untuk menghentikan serangan bom barrel terhadap warga sipil.

Laporan itu merupakan ke-12 kalinya yang sudah diajukan ke DK PBB terkait Suriah. Sekitar 210.000 orang tewas sementara 12 juta lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik.

Tentara AS Sering Berbohong

Jakarta, Aktual.co —Sebuah studi yang dilakukan oleh US Army War College menunjukkan bahwa tentara Angkatan Darat AS sering “berdalih dan menipu”, dan semua orang di Pentagon mengetahui hal itu. “Dengan kata lain, dalam kinerja rutin tugas mereka sebagai pemimpin dan komandan, perwira Angkatan Darat AS berbohong,” kata studi yang dilakukan oleh Institut Studi Strategis di War College.

Laporan 33 halaman yang disusun menyusul wawancara dengan petugas di Angkatan Darat, menyimpulkan bahwa budaya Angkatan Darat ini penuh dengan “ketidakjujuran dan penipuan” di semua tingkatan lembaga—dari anggota yang paling junior hingga ke pejabat senior Angkatan Darat.

CNN melansir, Hasil studi keluar setelah Menteri Pertahanan Chuck Hagel—yang secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (17/2)—menyatakan kekhawatiran terkait etika dalam militer. Laksamana John Kirby, sekretaris pers Pentagon, mengatakan dua pekan lalu bahwa Hagel “sangat terganggu” atas serentetan investigasi soal etika di militer.

“Saya pikir dia secara umum khawatir bahwa mungkin pada tingkat tertentu gangguan perilaku etis dan dalam demonstrasi keberanian moral,” kata Kirby soal Hagel. Ahad lalu, beberapa hari sebelum Menteri Pertahanan Ash Carter menggantikannya, Hagel menulis sebuah memo kepada para pemimpin paling senior militer AS yang menekankan perlunya peningkatan akuntabilitas dan standar yang lebih tinggi untuk perilaku etis—termasuk mereka yang menjadi para pemimpin senior militer.

“Sebagian besar pemimpin senior kami adalah laki-laki dan perempuan yang telah mendapatkan kepercayaan dan keyakinan khusus yang diberikan oleh rakyat Amerika. Namun, ketika para pemimpin senior menyalahgunakan kepercayaan ini melalui perilaku tidak profesional, tidak etis atau moral yang dipertanyakan, tindakan mereka menyebabkan efek negatif yang sangat besar pada profesi,” tulis Hagel.

Para pejabat senior yang menerima memo itu kemungkinan tidak mengindahkan pesan Hagel, karena studi War College yang dipublikasikan pekan ini menunjukkan bahwa para pemimpin senior—baik sipil maupun berseragam—juga termasuk dari mereka yang memiliki perilaku tidak jujur dan etis, atau setidaknya menyadari bahwa perilaku itu berkembang.

Studi ini menjelaskan “budaya di mana menipu diterima dan dianggap biasa”. Para perwira dihadapkan pada lingkaran birokrasi, dan untuk menghindari hal itu, kebanyakan dari mereka akhirnya merasionalisasi jawaban mereka. Hasilnya? “Para perwira menjadi mati rasa,” kata Leonard Wong, profesor riset di Institut Studi Strategis dan pensiunan Angkatan Darat. Penelitian ini juga muncul setelah serangkaian skandal yang melibatkan personel tingkat tinggi di militer AS, diantaranya adalah yang melibatkan petugas rudal nuklir serta satu kasus korupsi besar yang di tubuh Angkatan Laut AS.

Jet Inggris Intersepsi Jet Rusia

Jakarta, Aktual.co —Dua jet tempur Angkatan Udara Kerajaan Inggris, RAF, diturunkan untuk mengintersepsi dua jet tempur Rusia yang mencoba memasuki wilayah mereka pekan ini. Peristiwa kali ini menambah daftar panjang upaya London mempertahankan wilayah udara dari armada tempur Moskow.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris pada Kamis (19/2) mengatakan dua jet tempur Typhoon berhasil mengintersepsi dan mengusir jet Rusia di perairan dekat Cornwall, wilayah baratdaya Rusia. “Jet Rusia dikawal oleh armada RAF sampai mereka keluar dari wilayah Inggris,” ujar juru bicara Kemhan Inggris, dikutip CNN.

Namun Kemhan Inggris tidak menyebutkan secara rinci tipe pesawat Rusia dalam insiden tersebut. Ini bukan kali pertama Rusia mencoba memasuki wilayah Inggris. Kemhan Inggris mengatakan, tahun lalu mereka sudah lebih dari 100 kali mengintersepsi jet Rusia. November lalu, NATO mengatakan telah mengintersepsi jet Moskow yang mencoba memasuki wilayah negara anggota mereka lebih dari 400 kali pada 2014, jumlah ini meningkat 50 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg saat itu, tindakan ini persis seperti yang dilakukan Rusia di era Perang Dingin. Jaringan Pemimpin Eropa, ELN, mencatat lebih dari 40 insiden militer yang hampir pecah antara Rusia dan Barat dalam delapan bulan di bulan Maret dan Oktober tahun lalu. Tiga di antaranya masuk dalam kategori “berisiko tinggi” yang bisa berujung pada konfrontasi militer Rusia dan Barat. Salah satunya adalah saat jet tempur Rusia dan pesawat penumpang Swedia yang mebawa 132 orang hampir bertabrakan.

Berita Lain