9 Mei 2026
Beranda blog Halaman 38885

Presiden Obama: Perang Melawan Ekstremisme Berbeda Perang Dengan Islam

Washington, Aktual.co — Presiden AS Barack Obama pada Rabu (18/2) mengatakan perang melawan ekstremisme penuh kekerasan tak berarti itu adalah perang melawan Islam dan dunia mesti menentang pemberian keabsahan religius bagi kelompok teror.

“Kami tidak berperang melawan Islam,” kata Obama selama pidato utama pada hari kedua Pertemuan Puncak Gedung Putih mengenai “Countering Violent Extremism”. 
“Kami berperang melawan orang yang telah menyesatkan Islam” Obama menegaskan penting untuk tidak menganggap buruk satu masyarakat cuma karena kepercayaan mereka, dan menyeru para pemimpin Muslim agar berbicara keras dalam memerangi fanatisme dengan kekerasan, demikian laporan Xinhua , Kamis (19/2). 
“Tak ada agama yang bertanggung-jawab atas terorisme, orang bertanggung-jawab atas kekerasan dan aksi teror,” kata Obama.

Saat acara tiga-hari tersebut memasuki hari keduanya, Obama dan Wakil Presiden Joe Biden berbicara panjang untuk tidak mengatakan bahwa itu adalah pertemuan puncak mengenai fanatisme Islam.

Selama pidato setengah-jam, Obama berbicara mengenai tantangan lain dalam menghadapi sikap keras, termasuk penanganan kesulitan politik dan ekonomi yang dimanfaatkan oleh pelaku teror. Ia menambahkan masyarakat juga memainkan peran penting dalam memerangi fanatis yang melibatkan kekerasan.

Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest pada Rabu pagi mengatakan meskipun Gedung Putih mengakui bahwa rangakan ideologi yang sangat rumit telah berusaha mencerburkan diri ke dalam masyarakat Muslim, bentuk lain ekstremisme juga telah mendorong orang lain untuk melakukan aksi kekerasan.

“Ekstremisme telah berlangsung dalam berbagai bentuk di negeri ini, dengan cara yang telah menyebarkan kerusuhan,” kata Earnest.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Pernyataan Turunkan Pasukan Dalam Konflik KPK-Polri, Hasanuddin : Itu Terlalu Dini

Jakarta, Aktual.co — Pernyataan Panglima TNI Moeldoko yang akan mengerahkan pasukan jika konflik KPK-Polri memasuki level high intensity, mendapat tanggapan dari politisi di Senayan.
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin berpendapat pernyataan itu terlalu dini. Sebab, konflik itu dipastikan tidak sampai pada taraf benturan fisik.
“Konflik KPK-Polri diyakini tidak akan meningkat sampai terjadi konflik sosial atau benturan fisik,” ucap Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (19/2).
Dikatakan Ketua DPD PDIP Jawa Barat itu, berdasarkan UU No.7 tahun 2012 pasal 1 tentang penanganan konflik sosial menyatakan bahwa konflik sosial adalah perseteruan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas, yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.
“Saya meyakini konflik KPK vs Polri bukan konflik horizontal dan jauh dari kemungkinan benturan fisik, serta melibatkan kelompok masyarakat,” ujarnya.
Oleh karena itu, keputusan menurunkan pasukan TNI justru akan kontraproduktif dan hanya akan menambah kegaduhan politik, bahkan akan menciptakan kemungkinan terjadinya konflik aparat bersenjata dengan aparat bersenjata. Selain itu, pengerahan pasukan dalam konflik sosial tetap harus di bawah koordinasi Polri (sesuai dengan pasal 41 ayat 1, Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial).
“Jika TNI di bawah koordinasi Polri, maka KPK akan berhadapan dengan Polri dan TNI. Konflik KPK-Polri sebaiknya kita serahkan kepada Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah. Biarkan Presiden mengambil keputusan secara komprehensif,” tandas Mayjen TNI Purnawirawan itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang
Andy Abdul Hamid

Kemendagri Belum Terima Draf RAPBD, Sekda Klaim Sudah Kirim

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengaku belum menerima draf revisi APBD dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzar Moenek menegaskan pihaknya baru menerima draf APBD tertanggal 4 Februari atau pasca paripurna.
“Itu keliru, belum, tidak ada dokumen yang dikirim pak sekda pasca dikembalikan,” kata Moenek di DPRD DKI Jakarta, Rabu (18/2).
Setelah itu, Kemendagri juga sudah mempelajari dan mengevaluasi, serta sudah mengembalikan kepada pemprov dengan beberapa catatan untuk diperbaiki.
“Tentunya untuk mendapatkan perbaikan ada muatan substansi yang harus mendapatkan persamaan persepsi. Ini rumah tangga daerah,” ungkap Moenek.
Pernyataan Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri ini bertolak belakang dengan pernyataan Sekretaris Daerah Saefullah, yang mengatakan sudah kembali mengirimkan draf RAPBD pasca dilakukan perbaikan.
“Hari ini dikirim,” kata Sekda pada tanggal 16 Februari lalu.
Perbaikan seperti nomer rekening yang kurang lengkap, lampiran KUA (Kebijakan Umum APBD)- PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara) serta rekomendasi hibah yang menjadi catatan Kemendagri sudah dilengkapi pihak pemprov, sehingga Sekda mengklaim tidak ada masalah lagi.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Sedia Payung di Perayaan Imlek Karena Jakarta Bakal Diguyur Hujan

Jakarta, Aktual.co — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (19/2) akan diguyur hujan lebat saat perayaan Tahun Baru Imlek 2015.
Dalam lamannya BMKG memprakirakan kalau wilayah DKI Jakarta akan hujan lebat dari pagi hingga siang hari. 
Tak hanya di Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Tangerang juga akan mengalami hal serupa seperti di Jakarta yakni hujan ringan hingga lebat. Untuk malam harinya wilayah DKI Jakarta akan mengalami cuaca berawan . Namun tidak di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Kedua wilayah Jakarta tersebut akan diguyur hujan dengan intensitas ringan. 
Untuk suhu sendiri pada hari Kamis (19/2) ini berada di antara 23-31 derajat celsius dengan kelembaban mencapai 95 persen.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Kemendagri Siap ‘Tengahi’ Kemelut Gubernur dan DPRD Soal APBD

Jakarta, Aktual.co — Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzar Moenek mengaku sudah mengirim tim dari Kemendagri untuk menjalin komunikasi antara Gubernur DKI dengan DPRD DKI Jakarta. Komunikasi tersebut guna mencari jalan tengah terkait APBD 2015 milik Pemprov DKI Jakarta yang tak kunjung selesai.
“Saya akan membangun dialog dengan Gubernur dan DPRD, kami akan memfasilitasi,” kata Reydonnyzar atau biasa dipanggil Donny usai menghadiri acara diskusi di DPRD DKI Jakarta, Rabu (18/2).
Donny optimis, masalah silang pendapat antara eksekutif dan legislatif soal APBD akan segera berakhir. Sebab menurut draf yang sampai ke mejanya dan telah dievaluasi, tinggal satu masalah yang masih mengganjal.
“Format struktur sudah tidak ada masalah, tinggal sedikit lagi aja. Satu lagi ada substansi RAPBD yang beum ada persamaan persepsi Gubernur dan DPRD,” ungkapnya.
Soal format e-budgeting yang disebut-sebut menjadi batu sandungan, Donny menampik. Kemendagri kata Donny, sudah mencarikan solusi agar sistem e-budgeting tetap masuk tanpa menyalahi aturan.
“Format sudah dicarikan solusi, e-budgeting sudah bisa dicarikan solusi. Format sudah sesuai, itu bentuk asistensi kami, tinggal satu lagi saja,” bebernya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

ICW Menilai Keputusan Presiden Jokowi Soal Pembatalan Kapolri Belum Menggembirakan

Jakarta, Aktual.co —  Indonesia Corruption Watch menilai langkah Presiden Joko Widodo membatalkan pencalonan Komjen Polisi Budi Gunawan sebagai kepala Polri dan memberhentikan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai hal yang melegakan tetapi belum menggembirakan.

“ICW menilai meski lamban, langkah Presiden tersebut merupakan langkah kompromi untuk menjawab polemik yang terjadi. Meskipun melegakan namun belum cukup menggembirakan,” kata Koordinator Badan Pekerja ICW Ade Irawan melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (19/2).

Ade mengatakan langkah tersebut bisa dianggap sebagai berita yang menggembirakan karena Presiden akhirnya mau menarik pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri sesuai dengan aspirasi rakyat.

Setidaknya, langkah tersebut menunjukkan Presiden mau mendengarkan keinginan publik agar institusi Polri tidak dipimpin oleh orang atau figur yang dinilai bermasalah.

“Namun, keputusan Presiden juga belum cukup menggembirakan karena tidak memberikan ketegasan terhadap kelanjutan proses kriminalisasi yang terjadi terhadap pimpinan, penyidik, maupun pegawai KPK,” katanya.

Ade menilai seluruh pimpinan dan juru bicara KPK yang dilaporkan ke kepolisian dengan sejumlah kasus, sebagai hal yang mengada-ada.

Apalagi, katanya, 21 penyidik KPK asal kepolisian juga mulai diancam dikriminalisasi karena dianggap memiliki senjata ilegal.

“Pada sisi lain muncul asumsi keputusan Presiden tentang penunjukan pelaksana tugas pimpinan KPK merupakan bentuk legalisasi terhadap upaya kriminalisasi yang dialami oleh dua pimpinan KPK, yaitu Bambang Widjojanto dan Abraham Samad,” katanya.

Ade mengatakan seharusnya Presiden memerintahkan Polri untuk menghentikan proses kriminalisasi terhadap pimpinan, pegawai, dan penyidik KPK.

Selain itu, Ade mengatakan Presiden dapat membentuk tim independen untuk menilai secara objektif, apakah proses kriminalisasi terhadap pimpinan KPK itu dinilai wajar atau tidak.

“Jika poses hukum yang dilakukan tidak wajar, sebaiknya segera hentikan proses penyidikan. Langkah ini telah dilakukan oleh Presiden SBY dengan membentuk Tim Delapan ketika muncul konflik Cicak vs Buaya jilid I,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain