2 Mei 2026
Beranda blog Halaman 39031

DKI Siapkan Jurus Hadapi Banjir Dengan Maksimalkan Pompa Air

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan pompa-pompa air yang tersebar di wilayah ibu kota dapat beroperasi dengan baik, terutama selama musim hujan.

Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Dinas Tata Air DKI Jakarta terkait langkah-langkah antisipasi dan penanggulangan banjir untuk jangka pendek.

“Kita masih mengandalkan pompa air untuk mencegah banjir. Makanya, kita pastikan bahwa pompa-pompa itu dapat berfungsi dengan baik,” kata Kepala Dinas Tata Air DKI Agus Priyono di Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut dia, dibutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur penanganan banjir secara keseluruhan. Sehingga, pompa air menjadi solusi untuk jangka pendek.

Berdasarkan data dari Dinas Tata Air DKI, saat ini terdapat sebanyak 555 pompa air yang tersebar di lima wilayah ibukota dengan rincian 149 unit di Jakarta Barat, 120 unit di Jakarta Pusat, 117 unit di Jakarta Utara, 113 unit di Jakarta Selatan dan 56 unit di Jakarta Timur.

Selain memastikan seluruh pompa tersebut berfungsi dengan baik, dia menuturkan pihaknya juga akan memasang sebanyak enam pompa berkapasitas besar di muara-muara sungai di Jakarta.

“Dengan adanya pompa air di muara-muara sungai, diharapkan banjir rob yang seringkali melanda wilayah Jakarta utara dapat berkurang,” ungkap Agus.

Lebih lanjut, dia menyebutkan enam pompa air tersebut, antara lain Pompa Kamal, Pompa Angke, Pompa Marina, Pompa Karang, Pompa Sentiong dan Pompa Sunter Hilir.

Pemsangan pompa-pompa air tersebut diperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Defisit Transaksi Berjalan Triwulan IV 2014 Meningkat ke 2,05 Persen PDB

Jakarta, Aktual.co — Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2014 mencatat surplus sebesar USD2,4 miliar. NPI tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD4,4 miliar. Dari segi neraca perdagangan nonmigas meningkat karena pertumbuhan ekspor (1,4 persen, qtq) yang melampaui pertumbuhan impor (0,2 persen, qtq).

“Pertumbuhan ekspor nonmigas ditopang oleh kenaikan permintaan, khususnya minyak nabati dan produk manufaktur, yang terjadi di saat tren penurunan harga komoditas masih berlanjut,”  ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Jumat (13/2).

Di sisi migas, meskipun volume impor minyak meningkat, defisit neraca perdagangan migas menyusut sebagai dampak dari terus melemahnya harga minyak mentah dunia.

“Meski membaik dari triwulan sebelumnya, defisit transaksi berjalan triwulan IV 2014 tercatat lebih besar dibandingkan dengan defisit sebesar 4,3 miliar dolar AS (2,05 persen PDB) pada periode yang sama tahun 2013 terutama karena melemahnya kinerja ekspor nonmigas,” kata Tirta.

Selain itu, di tengah turunnya harga minyak, defisit neraca migas triwulan IV 2014 juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya karena lebih rendahnya lifting migas yang disertai meningkatnya volume impor minyak.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

TNI AL Temukan Jasad Laki-laki Mengapung di Perairan Jepara

Jakarta, Aktual.co — Jasad laki-laki tanpa identitas ditemukan mengapung di Perairan Jepara, Jawa Tengah, oleh sebuah kapal milik TNI Angkatan Laut.
Kepala Pembinaan dan Operasional Direktorat Kepolisian Air Polda Jawa Tengah Ajun Komisaris Besar Wawan Kurniawan membenarkan penemuan jasad tersebut.
“Ditemukan kapal TNI AL, setelah berlabuh ke Pelabuhan Tanjung Emas langsung dibawa ke RS Bhayangkara,” kata dia di Semarang, Jumat (13/2).
Sementara Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Rini Muliawati mengatakan, jenazah berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi 158 cm itu sempat diduga sebagai salah satu korban pesawat Airasia QZ8501 yang jatuh di sekitar perairan Pangkalan Bun beberapa waktu lalu.
Menurut dia, jenazah kemungkinan besar bukan merupakan korban QZ8501 yang jatuh tersebut. “Kondisi jenazahnya masih utuh, untuk identitas belum diketahui,” kata dia.
Meski demikian, Rini mengatakan akan tetap berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur atas temuan jenazah ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

IPW: Polisi Surati Presiden Soal Status Tersangka BW

Jakarta, Aktual.co — Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menyebutkan mendapat informasi bahwa Polri sudah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo terkait penetapan tersangka Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto.
“Kemarin kita dapat informasi Mabes Polri sudah mengirim surat ke presiden bahwa penetapan Bambang Widjojanto (BW) sebaga tersangka itu sudah sah,” kata Neta di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (13/2).
Oleh karena itu menurut Neta presiden haru mengeluarkan keputusan presiden (keppres) untuk memberhentikan sementara Bambang Widjojanto.
“Sehingga tidak ada pilihan lain lagi kepada presiden untuk tidak mengeluarkan keppres untuk menonaktifkan sementara Bambang Widjojanto sebaga pimpinan KPK,” ucap dia.
Neta juga mengatakan presiden seharusnya segera mengeluarkan keppres tersebut.
“Dan itu harus dilakukan segera saya kira. Kita berharap sore ini kepres itu keluar,” ujar dia, berharap.
Sebelumnya pada sidang praperadilan Budi Gunawan, Rabu (11/2), saksi ahli pihak pemohon Romli Astasasmita mengatakan seharusnya KPK menyurati presiden terkait komisionernya yang menjadi tersangka untuk memberhentikan sementara pimpinan yang bersangkutan.
“Presiden tak serta merta melakukan itu (pemberhentian sementara) tanpa ada surat dari KPK,” kata Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pengamat: Akses Rahasia Bank Berpotensi Bencana Ekonomi

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Agus Tony Poputra mengatakan kemudahan yang diberikan pemerintah untuk akses fiskus rahasia bank, berpotensi menimbulkan bencana ekonomi di Indonesia.

“Pemerintah agar membatalkan niat mendapatkan kemudahan akses fiskus terhadap rahasia bank lewat otoritas jasa keuangan (OJK),” kata Agus, di Manado, Jumat (13/2).

Dia mengatakan kemudahan tersebut akan mendorong “capital flight” sehingga berpotensi menimbulkan bencana ekonomi nasional lewat sektor perbankan.

Agus menjelaskan, saat ini saja likuiditas perbankan sudah ‘lampu kuning’, ditandai dengan posisi loan to deposit ratio (rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) perbankan sudah di atas 90 persen, akhir Desember 2014 bahkan mencapai 92,35 persen.

Kondisi ini disebabkan pertumbuhan kredit selama ini (kecuali tahun 2014) selalu jauh di atas pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), yaitu di atas 20 persen. Sementara pertumbuhan DPK berada di bawah 20 persen dan terus melambat bahkan pada 2014 hanya sebesar 12,1 persen.

Apabila Bank Indonesia (BI) tidak mengerem pertumbuhan kredit pada tahun 2014 lewat BI Rate yang tinggi (yang juga untuk mengendalikan inflasi) maka bukan tidak mungkin LDR perbankan pada akhir 2014 sudah berada pada kisaran 99 persen.

Namun katanya, kebijakan mengerem kredit bukan tanpa pengorbanan. Pengorbannya adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 dimana hanya sebesar 5,02 persen. Angka tersebut merupakan pertumbuhan terendah selama lima tahun terakhir.

Dia mengatakan bahwa untuk meningkatkan LDR seharusnya pemerintah serta otoritas keuangan dan moneter melakukan kebijakan untuk meningkatkan DPK bukannya mengerem kredit.

“Dengan adanya niat pemerintah agar fiskus memperoleh kemudahan mengakses data nasabah di perbankan justru sangat bertolak belakang dengan upaya meningkatkan DPK,” jelasnya.

Kemudahan akses tersebut akan mendorong capital flight dari para pemilik dana besar sehingga pertumbuhan DPK perbankan akan semakin melambat bahkan bisa terjadi pertumbuhan negatif. Akibatnya perbankan nasional berpotensi mengalami krisis likuiditas dan bisa menuju pada gangguan operasional perbankan dan eksistensi bank-bank nasional secara sistemik.

Apabila perbankan mengalami permasalahan sistemik maka akan menular pada sektor riil. Konsekuensinya, krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1998 bukan tidak mungkin terjadi kembali. Dan proses recovery-nya jauh lebih berat dan lama sebab menyangkut ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah atas kerahasian dana mereka di perbankan.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ketaatan pajak (tax compliance) wajib pajak di Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan untuk memperkuat anggara negara untuk pembangunan. Akan tetapi, apabila kebijakan yang ditempuh kurang tepat justru akan menghancurkan sumber penerimaan pajak itu sendiri karena krisis ekonomi dan moneter yang ditimbukan. Dengan kata lain, penerimaan pajak jangka pendek mengorbankan penerimaan pajak jangka pajak.

Agus menganjurkan agar pemerintah menggunakan makna filosofis dari pepatah China kuno yang mengatakan ‘jika ingin menangkap anak macan, jangan mengobrak-abrik sarangnya agar tidak diterkam induknya.’ Untuk meningkatkan ketaatan pajak, masih banyak cara lain yang dapat dipakai.

Dia menyarankan untuk tujuan tersebut fiskus dapat melakukan beberapa kebijakan, yakni meningkatkan probabilitas audit, menambah lapisan supervisi atas pekerjaan auditor pajak untuk mengurangi kerjasama sama auditor pajak dengan wajib pajak nakal, dan memperbesar tarif denda dan hukuman badan. Kebijakan-kebijakan tersebut jauh lebih halus, efektif, dan menimbulkan dampak negatif yang minimal.

Sementara akses data nasabah hanya dapat dilakukan untuk wajib pajak yang telah bermasalah dengan hukum pajak dan akses tersebut harus lewat pengadilan sebagaimana diatur selama ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Soal Banjir, Dirjen Kemenpupera: Drainase di Jakarta Tak Memadai

Jakarta, Aktual.co —  Banjir dan banyaknya genangan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya karena kapasitas drainase yang terdapat di kawasan ibu kota tidak memadai dalam menampung curah hujan berintensitas tinggi.

“Fakta-faktanya adalah hujan yang turun Minggu (8/2) malam sampai Senin (9/2) sore adalah curah hujan yang sangat tinggi,” kata Plt Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut dia, tingkat curah hujan yang paling tinggi tercatat di kawasan Jakarta Utara seperti di Tanjung Priok yang konsentrasi curah hujan hingga di atas 360 mm.

Sedangkan di tempat lain tercatat seperti di Setiabudi sebesar 220 mm dan di Krukuthulu sebesar 190 mm. Sementara hujan yang jatuh di sekitar Katulampa hanya 77 mm dan di Bogor 60 mm.

Mudjiadi mengungkapkan, kapasitas drainase Jakarta diperkirakan hanya bisa menanggulangi hujan 80-100 mm.

“Meski dalam keadaan bagus, drainase tidak akan mampu menampung itu, pasti akan ada genangan,” katanya.

Ia juga menyorot masih banyaknya daerah resapan yang sekarang telah menjadi pembangunan gedung seperti kawasan perkantoran dan mal atau pusat perbelanjaan.

Karena sekarang semua daerah resapan tertutup atau menjadi beton, ujar dia, maka air akan terjatuh ke jalan yang lebih rendah sehingga banyak genangan di jalan. “Fenomena ini berbeda dengan tahun-tahun dulu karena masalahnya berbeda, bukan karena meluapnya kali Ciliwung,” katanya.

Namun, menurut Mudjiadi, berbagai pelaksanaan infrastruktur meski belum 100 persen selesai, tetapi dinilai telah mampu menghasilkan perubahan.

Plt Dirjen SDA Kemenpupera menyebutkan bahwa ke depannya, pembangunan infrastruktur tidak akan hanya berdasarkan struktural agar bisa lebih berkelanjutan.

Ia memaparkan, untuk daerah hulu yang penting untuk konservasi akan direboisasi dan membuat waduk, sedangkan di tengah kota akan meningkatkan kapasitas sungai, dan di hilir bakal diperkuat tanggul laut yang ada.

Berdasarkan perintah Presiden Joko Widodo, maka Mudjiadi mengemukakan bahwa sudetan ciliwung ke kanal banjir timur diperkirakan bakal selesai sebelum musim hujan mendatang atau sekitar Oktober-November 2015.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengungkapkan, persoalan infrastruktur yang masih minim di berbagai daerah mesti menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain