3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39186

Terbongkar, Video Rekayasa Penyanderaan ISIS

Jakarta, Aktual.co —Para ahli yang mempelajari video penyanderaan dua warga Jepang oleh ISIS yakin kalau video tersebut merupakan rekayasa belaka. Seperti dilansir I24news.tv, para ahli mengatakan, banyak inkonsistensi dalam video tersebut. Gambar kedua sandera dalam video kemungkinan besar diambil secara terpisah dan di tempat yang berbeda, kemudian digabungkan ke dalam satu video.

Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya, mungkinkah ISIS yang berada di Timur Tengah yang dikelilingi padang pasir dalam kondisi berperang mempunyai fasilitas dan waktu yang memadai untuk melakukan  itu  semua. Atau, ada pihak ketiga yang melakukannya.

Profesor Shigeo Mori-shima dari Waseda University, ahli teknik informasi dan komunikasi, mengatakan cahaya dalam video bukan berasal dari matahari, melainkan dua lampu dari arah berbeda. Hal itu dapat terlihat dengan jelas karena bayangan para “pemeran” dalam video itu jatuh ke arah yang berbeda. “Ada kemungkinan bahwa gambar (para pemeran) direkam di tempat yang berbeda,” katanya.

Tiupan angin pada pakaian mereka dalam video juga tampak tidak konsisten. Hanya Haruna Yukawa, sebelah kanan, yang terkena hembusan angin, sementara Kenji Goto sama sekali tidak terkena hembusan angin.

“Ada kemungkinan bahwa gambar video diambil pada waktu yang berbeda, kemudian digabungkan,” kata Tsuyoshi Moriyama, profesor di Tokyo Polytechnic University dan ahli teknologi gambar. “Butuh tingkat pengetahuan dan keterampilan yang sangat tinggi untuk membuat suatu video komposit.”

Butuh Dua Tahun Untuk Usir ISIS

Jakarta, Aktual.co —Koalisi internasional yang dipimpin AS akan membutuhkan waktu dua tahun untuk mengusir ISIS dari Irak. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Inggris Phillip Hammond. “Apa yang dilakukan sekarang tak akan terjadi dalam tiga bulan atau enam bulan. Ini akan memakan waktu satu tahun, atau dua tahun untuk membuat ISIS keluar dari Irak.

Namun kita harus melakukan sesuatu untuk mengusir serangan,” katanya kepada Sky News, saat membuka pertemuan dengan 21 anggota koalisi di London, Kamis (22/1). Pertemuan yang juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, memutuskan membendung ISIS dengan berbagai cara.

Selain militer, koalisi berencana memotong sumber keuangan dengan membendung aliran dana yang mengalir untuk ISIS. “Kami berkumpul disini untuk bertukar pikiran untuk menemukan strategi terbaik yang bisa dilakukan,” kata Hammond.

Aktivis Inggris: Penghormatan tidak Pantas Diberikan Kepada Raja Abdullah

London, Aktual.co —Kantor Perdana Menteri dan Istana Kerajaan Inggris mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati Raja Abdullah. Namun hal itu dikritik oleh aktivis. Inggris merupakan salah satu dari negara Barat yang memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Arab Saudi.

Kantor Perdana Menteri Inggris, Istana Buckingham dan Gereja Westminster Abbey serta beberapa gedung pemerintahan lainnya, mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati mendiang Raja Abdullah. Namun langkah itu dikecam oleh para aktivis HAM. Menurut mereka penghormatan semacam ini tidak pantas diberikan kepada Raja Abdullah. Demikian diberitakan ITV, Sabtu (24/1/2015).

Aktivis HAM ini mengutarakan beberapa kasus seperti hukuman cambuk 1.000 kali yang dijatuhkan oleh seorang bloger Arab Saudi. Bloger itu dianggap sebagai pahlawan kebebasan berpendapat di Negeri Kaya Minyak tersebut. Terlepas dari kecaman ini, penghormatan tetap diberikan oleh Inggris kepada Raja yang wafat di usia 90 tahun tersebut.  Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Pangeran Charles diperkirakan akan tiba di Riyadh, Sabtu (24/1) waktu setempat. Mereka akan bertemu dengan raja baru Arab Saudi, Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud.

Selain PM Inggris dan Pangeran Charles, pemimpin dunia lain yang akan hadir adalah Presiden Prancis Francois Hollande dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Obama bahkan harus mempercepat rencana kunjungan kenegaraannya di India, untuk menemui Raja Salman demi mengucapkan bela sungkawanya secara langsung. Kepastian kedatangan Obama ini diutarakan oleh pihak Gedung Putih.

Yinluck Shinawatra Diancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Bangkok, Aktual.co —Rencananya, Kejaksaan Agung Thailand akan mendakwa mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dengan dakwaan kelalaian dalam skema subsidi beras. Akibat kelalaian itu,  negara merugi hingga miliaran dolar AS.

Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra akan dihukum 10 tahun penjara jika terbukti bersalah

Surasak Threerattrakul, Direktur Jenderal Departemen Pertahanan, pada hari Jumat (23/1) menyampaikan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra memiliki peran utama dalam mengawasi program subsidi beras untuk warganya.

Belum ada tanggal pasti untuk menetapkan dakwaan formal. Jika diberhentikan, Yingluck akan dilarang berpolitik selama lima tahun.

Oposisi Suriah Tuntut Perubahan Radikal

 Kairo, Aktual.co —Faksi-faksi oposisi Suriah Sabtu mengusulkan “perubahan demokratik yang radikal” di negara yang porak- poranda akibat perang menjelang perundingan (April) yang bertujuan menyatukan rencana mereka bagi satu penyelesaian politik konflik itu.

Dalam satu konferensi dua hari yang diselenggarakan di Kairo, kelompok oposisi yang ditoleransi pemerintah bertemu dengan para anggota Koalisi Nasional di pengasingan dan menyetujui satu visi 10 poin serta mengumumkan perundingan-perundingan baru akan diselenggarakan pada April.

Kelompok-kelompok itu sepakat bahwa “setiap proses perundingan harus menuju pada satu pemerintah yang demokratik dan negara sipil yang berdaulat,” kata satu pernyataan bersama.

Mereka menambahkan bahwa setiap penyelesaian perang saudara empat tahun Suriah “harus menjamin satu perubahan demokratik yang radikal dengan menghentikan aksi kekerasan dan sektarisnisme”. Koalisi Nasional secara tidak resmi diwakili di Kairo oleh beberapa anggota termasuk Ahmed Jarba, yang mantan ketua koalisi yang dekat dengan Arab Saudi.

Satu sumber Koalisi sebelumnya mengatakan para anggotanya tidak hadir pertemuan Kairo dalam satu kedudukan resmi. Konferensi umum oposisi mendatang “bertujuan untuk menyetujui satu visi politik yang satu dan menyatukan usaha-usaha oposisi,” kata Saleh al-Nebwani, anggota Komite Koordinasi Nasional bagi Perubahan Demokratik dalam negeri yang ditoleransi pemerintah.

Koalisi itu dan tokoh penting oposisi Moaz al-Khatib sebelumnya mengumumkan mereka tidak akan menghadiri perundingan dengan pemerintah Suriah di Moskow bulan ini yang bertujuan mengusahakan satu solusi politik pada perang yang menewaskan lebih dari 200.000 orang sejauh ini. Tetapi oposisi dalam negeri mengatakan Sabtu bahwa beberapa anggota yang diundang diharapkan akan hadir dalam pertemuan itu.

Fayez Sarah dari Koalisi Nasional mengatakan pertemuan Kairo tidak membicarakan perundingan di Moskow “karena satu keputusan telah dibuat” mengenai masalah itu. Usaha Moskow untuk menjadi tuan rumah perundingan perdamaian mendatang setelah dua pertemuan yang diselenggarakan PBB di Jenewa tahun lalu antara pemerintah dan wakil-wakil oposisi gagal memberikan hasil. Rusia adalah pendukung paling kuat pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Artikel ini ditulis oleh:

Sebanyak 595 Anak Dibebaskan Oleh Militer Myanmar

Bangkok, Aktual.co —Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan militer Myanmar telah membebaskan 595 anak yang dipersenjatai sejak penandatanganan pakta PBB tentang militer oleh militer Myanmar pada tahun 2012. Menurut PBB, pembebasan 595 anak itu berlangsung bertahap. Dalam setahun terakhir sebanyak 418 anak yang dibebaskan. Dan, pada Jumat, 23 Januari 2015, sebanyak 42 anak kembali dibebaskan.

Usia anak-anak yang dipersenjatai dan bekerja untuk militer Myanmar itu di bawah 18 tahun. Mereka dipekerjakan sebagai prajurit dan pencari ranjau darat. Sejauh ini, menurut PBB, tidak ada data yang jelas untuk memverifikasi berapa banyak anak yang dilibatkan sebagai tentara anak.

“Dalam satu tahun ini, jumlah anak yang dibebaskan dari angkatan bersenjata, menunjukkan usaha maju dari pemerintah Myanmar dan Tatmadaw (militer) untuk mengakhiri praktek pelanggaran dengan merekrut dan memanfaatkan anak-anak,” kata Renata Lok-Dessallien, koordinator PBB di Myanmar dalam pernyataannya.

Berita Lain