8 April 2026
Beranda blog Halaman 39332

Isu Mafia dan Konspirasi di PSSI, Semua Pihak Harus Sinergi

Jakarta, Aktual.co — Ketua Umum The Jak Mania, Richard Achmad Supriyanto, meminta semua unsur terkait sepak bola Indonesia bersinergi menyelesaikan masalah di tubuh PSSI.
Sepak bola nasional menjadi minim prestasi merupakan masalah bangsa yang harus diselesaikan bersama.
Masalah ini disinyalir karena adanya ketidakberesan di tubuh PSSI, yang belum mampu menangani sepak bola di Indonesia.
Richard mengatakan, semua pihak yang terkait dengan cabang olahraga khususnya sepak bola harus bersinergi untuk menyelesaikan masalah yang ada di tubuh PSSI
“Semua pihak yang terkait dengan olahraga cabang sepak bola harus bersinergi untuk menyelesaikan masalah di tubuh PSSI”, ucap Ricard dalam diskusi Forum Aktual dengan tema ‘Mau di bawa kemana sepak bola?’ di warung komando, Jl. Saharjo No.1 Jakarta Selatan, Minggu (1/2).
Minimnya prestasi sepak bola di Indonesia karena adanya isu mafia dan konspirasi di tubuh PSSI yang mengatur seluruh kebijakan di PSSI sehingga sepak bola minim prestasi.
“Saya tau ada mafia dan konspirasi di PSSI namun saya belum bisa membuktikan,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Semua Pihak Harus Pertegas Hukum

Jakarta, Aktual.co — Pengamat hukum dari Universitas Al Azhar Suparji Ahmad menegaskan bahwa semua warga negara Indonesia, baik sipil maupun aparatur pemerintah, termasuk anggota Polri, taat dan patuh terhadap hukum negara.
“Kalau terbukti bersalah, ya harus dihukum sebagaimana mestinya, tanpa terkecuali,” kata Suparji, di Jakarta, Minggu (1/2).
Menurutnya, di hadapan hukum semua warga negara tidak ada kekebalan dan tidak perlu membutuhkan banyak alasan jika sudah ada bukti bersalah.
“Kenapa harus banyak pertimbangan jika ingin menghukum orang, aparat harus tegas, jangan dimain-mainkan dengan alasan yang tidak masuk akal,” kata Suparji.
Polemik antara KPK dan Polri memperlihatkan kurangnya ketegasan hukum, seharusnya tidak perlu ada masalah lain yang dikaitkan.
“Kalau memang KPK mempunyai bukti menangkap oknum Polri atau sebaliknya, langsung ditindak saja. Tidak perlu ada skenario yang terlihat seperti perayaan, apalagi memainkan monentum penangkapan, itu tidak baik,” ujarnya.
Jika polemik KPK-Polri tidak membaik, dikhawatirkan semakin banyak nuansa politik yang mengintervensi kebijakan penegak hukum.
Diharapkan, polemik yang terjadi bukan bertujuan untuk mencari kesalahan antar instansi, tetapi memang berdasarkan atas tanggung jawab kewajiban dalam menjalankan tugas dan peran masing-masing. 

Artikel ini ditulis oleh:

The Jak: Pertemuan Tim 9-PSSI Terkesan Semu

Jakarta, Aktual.co — Pertemuan antara Tim 9 bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan PSSI beberapa hari lalu tampaknya belum memuaskan. Setidaknya hal itu yang dirasakan suporter Persija Jakarta, The Jakmania.
Ketua Umum The Jak, Richard Achmad Supriyanto justru curiga atas pertemuan pertamakalinya antara Tim 9 dengan PSSI yang berakhir damai.
“Pertemuan tim 9 dengan PSSI kemarin semu buat kami (suporter),” kata Richard dalam acara diskusi Aktual Forum dengan tema “mau dibawa kemana sepakbola Indonesia? Di Warung Komando Jakarta, Minggu (1/2).
Richard menyayangkan sifat pertemuan yang tertutup, sehingga publik, utamanya pecinta sepakbola menjadi bertanya isi pertemuan tersebut.
“Kalau acara (diskusi) ini dirancang sebulan sebelumnya, banyak perwakilan suporter didaerah mau datang untuk menanyakan langsung kepada bapak-bapak dari Kemenpora dan DPR ini,” ungkapnya.
Richard pun mendesak, kepada Kemenpora maupun PSSI untuk menjelaskan secara luas isi pertemuan yang terjadi pada Rabu (28/1) lalu.
“Jangan-jangan ada deal-deal didalam (pertemuan),” kerutnya curiga.
Pertemuan antara Tim 9 bentukan Kemenporan dengan PSSI terjadi di Kantor PSSI (28/1). Tiga perwakilan Tim 9 yakni Gatot Dewa Broto, Djoko Pekik (Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi), Amun Makmun (Staf Ahli Bidang Informasi dan Komunikasi), dan Edhi Nurindra (Kepala Bidang Organisasi Olahraga Prestasi).
Sementara itu, pejabat PSSI yang hadir adalah Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, Sekretaris Jenderal Joko Driyono, Erwin Dwi Budiawan, Djamal Aziz (anggota Komite Eksekutif), Rudi Keltjes, dan M Nigara (anggota Komisi Banding PSSI).

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Mau Dibawa Kemana Sepakbola Indonesia?

Dari kiri ke kanan, Ketua Umum TheJak Mania Richard Achmad Supriyanto, Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian Pemuda dan Olah Raga Gatot S Dewa Broto, Anggota Executive Commite PSSI Djamal Aziz, Wakil Ketua Komisi X Ridwan Hisjam, saat diskusi Aktual Forum, dengan tema “Mau Dibawa Kemana Sepakbola Indonesia?” di Jakarta, Minggu (1/2/2015). Dalam diskusi tersebut, Harapan Indonesia naik ke Peringkat 130 ada pada Tim 9 bentukan Kemenpora untuk memulihkan sepakbola Indonesia dari campur tangan mafia sepakbola. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Lima Pesan dari Pertemuan Jokowi-Prabowo, Kemana KIH?

Jakarta, Aktual.co — Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran, Bandung, Muradi, menangkap ada lima pesan dari pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto.
Pesan pertama, yakni untuk partai politik pendukungnya yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Menurut dia, Jokowi menginginkan agar KIH selaku koalisi partai pendukung harus solid menyokong dirinya. 
“Selama ini Jokowi merasa bahwa dalam kasus penundaan pelantikan Budi Gunawan (BG) sebagai Kapolri justru partai yang all out menyokong hanya PDI Perjuangan, partai lainnya cenderung wait and see,” ujar dia, kepada Aktual.co, Minggu (2/1).
Padahal menurut dia, masalah pemilihan Kapolri ini makin rumit dan butuh soliditas partai pendukung. Bukan tidak mungkin, sambung dia, akan terjadi reshuffle kabinet yang berasal dari partai-partai di KIH dan digantikan dengan partai lain dari KMP.
Pesan kedua, kata dia, ditujukan untuk elit politik non-partai yang diangkat menjadi menteri dan atau pejabat setingkat menteri agar ikut juga memikirkan permasalahan tersebut. 
Ia merasa, selama ini yang pontang panting melakukan lobi dan menjadi penghubung antara presiden dengan sejumlah pihak yang terkait dengan kekisruhan tersebut adalah sekkab, Andi Widjadjanto dan sekneg, pratikno. 
“Padahal seharusnya ada juga Luhut Panjaitan, Kepala Staf Kantor Kepresidenan yang seharusnya melakukan komunikasi politik, sebagaimana yang menjadi deskripsi kerjanya,” kata dia.
Pesan ketiga, kata dia, ditujukan untuk aliansi dan organisasi masyarakat sipil yang cenderung mendikte dan memaksakan kehendak agar presiden berpihak pada KPK, dalam kekisruhan tersebut dan tidak melantik BG serta melanjutkan proses hukumnya. 
“Pesan dari pertemuan tersebut tentu saja berimplikasi bahwa langkah memaksakan kehendak dan mendikte ini bisa saja kemudian menarik gerbong dukungan dari mantan Danjen Kopassus,” kata dia.
Tentu saja hal ini, menurut dia, akan membangun dilema bagi dukungan politik, karena salah satu alasan kalangan masyarakat dan organisasi sipil adalah calon lainnya Prabowo. 
“Artinya presiden jokowi sudah menangkap pesan apa yang menjadi konsern dari koalisi masyarakat sipil tersebut dan biarkan presiden memutuskan mana yang terbaik,” kata dia.
Keempat, menurut dia, pesan untuk kpk dan polri. Pesan tersebut, sambung dia, cenderung ingin menegaskan bahwa sebagai akibat dari situasi yang tidak kondusif, maka presiden ingin menyampaikan bahwa permasalahan tersebut akan berakhir pada transaksi di tingkat elit, yang mana akan berimplikasi pada kerugian yang lebih besar bagi kpk maupun polri.
“Sehingga akan lebih baik untuk fokus pada penuntasan permasalahan tersebut dalam konteks penegakan hukum,” tegas dia.
Terakhir, pesan ditujukan untuk DPR yang mana konstelasi politik dapat saja berubah bergantung pada kepentingan dan kemungkinan dukungan yang saling menguntungkan. 
Ia mengatakan, langkah sejumlah fraksi yang mempermasalahkan langkah apapun yang diambil oleh presiden, dan akan melakukan penjegalan pada program dan perencanaan yang dilakukan akan terbentur dilakukan. 
“Mengingat Jokowi juga telah mengantisipasi kemungkinan itu dengan melakukan pertemuan dengan prabowo. Hal ini dipertegas oleh prabowo bahwa selama untuk kepentingan publik maka KMP menjamin akan mendukung. Artinya pesan yang harus digarisbawahi bahwa perlu penekanan bahwa dukungan KIH harus tetap bulat pada presiden apapun pilihan Presiden Jokowi,” demikian Muradi.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Ridwan Hisam: Dari Saya Cilik PSSI Tak Pernah Terbuka

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Umum Komisi X DPR RI, Ridwan Hisam mengatakan terdapat dua permasalahan penting yang ada pada Persatuan Sepakbola Se-Indonesia (PSSI) selama ini. Menurutnya, dua masalah tersebut adalah prestasi dan keterbukaan.
“Prestasi PSSI mulai saya cilik sampai sekarang ini ngga ada itu. Kalau prestasi ya sudahlah kita serahkan saja, tapi yang kedua ini masalah keterbukaan yang harus dibicarakan lagi,” ujar Ridwan di Aktual Forum dengan tema “Mau Dibawa Kemana Sepakbola Indonesia” di Warung Komando Jakarta, Minggu (1/2).
Lebih lanjut dikatakan Ridwan, dirinya meminta PSSI untuk lebih terbuka, terutama dalam masalah keuangan. Pasalnya, kata dia, Komisi X dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan mendorong industri olahraga di Indonesia untuk bisa dijadikan bisnis yang menguntungkan.
“Pak Jamal ya buka aja, kalau untung bilang untung, selama ini ngga ada keterbukaan. Kita dorong sport industry, cabang olahraga mana saja yang bisa menghasilkan uang, tapi yang ada prestasinya,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain