19 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39648

Twitter Militer AS Diretas ‘Cybercaliphate’

Jakarta, Aktual.co — Sebuah kelompok yang mengaku ‘Cybercaliphate’ dikabarkan telah meretas akun Twitter dan YouTube Pusat Komando Amerika Serikat. Akibatnya, dalam beberapa waktu ke depan, akun tersebut di ‘suspend’.

Salah satu pesan dalam ‘Centcom’s’ berbunyi, “Tentara Amerika Serikat, kami datang, berhati-hatilah”.

Cybercaliphate juga mengunggah dokumen militer, termasuk daftar nama dan nomor telepon personel militer di Twitter Centcom’s.

Centcom mengatakan, bahwa ‘cyber vandalisme’ bukan pelanggaran data yang serius. Mereka menyatakan, pembobolan akun tersebut tidak berdampak operasional militer dan tidak ada informasi rahasia.

“Kami melihat ini murni sebagai kasus cyber vandalisme,” katanya.

Pasca kejadian tersebut, hari Senin (12/1) kemarin, Twitter feed-nya terlihat lagi, meskipun tidak aktif. Kejadian tersebut dianggap memalukan, peretasan terjadi saat Presiden Barack Obama memberikan pidato terkait keamanan cyber.

Melihat peristiwa terdahulu, pelanggaran besar seperti peretasan Sony Pictures, Obama telah mengingatkan “kerentanan (cyber) yang sangat besar terjadi bagi bangsa dan perekonomian kita”.

Obama mengatakan, internet menciptakan sebuah kerentanan besar bangsa dan perekonomian, AS sedang mempelajari dan menelusuri peretasan Centcom.

Amerika sedang menyelidiki sejauh mana insiden itu terjadi. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara pelanggaran data yang besar dan hacking akun Twitter. Demikian dilansir Aktual.co dari BBC, Selasa (13/1). (Laporan: Ismed Eka)

Artikel ini ditulis oleh:

Korupsi Alkes Udayana, KPK Periksa Tersangka Made Meregawa

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap Karo Administrasi Umum dan Keuangan Kampus Universitas Udayana, Made Meregawa, Selasa (13/1).
Made akan diperiksa sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Khusus Pendidikan Penyakit Infeksi dan Pariwisata di Universitas Udayana tahun anggaran 2009.
“Yang bersangkutan diperiksa sebagai tersangka,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha ketika dikonfirmasi.
Pemeriksaan terhadap Made dalam kapasitas sebagai tersangka merupakan pertama kalinya semenjak dia ditetapkan sebagai tersangka. Bersama Made, penyidik KPK juga memanggil dua anggota panitia penerima pemeriksa barang Pengadaan Alkes RS Khusus Pendidikan Penyakit Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana TA 2009. 
Keduanya yakni, I Ketut Surata dan I Made Winarsa Ruma. Kedua Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu akan diperiksa untuk tersangka Made Meregawa.
Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan Made Meregawa sebagai tersangka. Selain Made, KPK juga menetapkan Direktur PT Mahkota Negara Marisi Matondang sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tersebut.
Made dan Marisi diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. Nilai proyek pengadaan itu mencapai Rp 16 miliar. Dalam kasus itu, negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp 7 miliar.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Besok, Persimpangan Hasyim Ashari dan Biak Ditutup

Jakarta, Aktual.co —Mulai Rabu besok, dua persimpangan di Jakarta Pusat akan ditutup Dinas Perhubungan DKI. Penutupan dilakukan untuk mengurai kemacetan.
Yakni persimpangan Jalan Hasyim Ashari dan Jalan Biak dari arah selatan-timur, barat-selatan dan selatan-utara. 
Dalam keterangannya, Selasa (13/1), Kadishub DKI Jakarta Benjamin Bukit menyarankan para pengguna jalan dan angkutan umum untuk mengambil jalan alternatif.
Dari arah Grogol, kendaraan yang hendak menuju Jalan Biak dan Jalan Musi, diarahkan lurus atau belok kiri ke Cideng Barat lalu berputar balik. 
Sedangkan dari arah Jalan Biak dan Jalan Musi, kendaraan yang hendak menuju Jalan Cideng Barat, Jalan Imam Mahbub, serta Harmoni atau Gajah Mada diarahkan belok kiri ke Jalan KH Hasyim Ashari lalu berputar balik di kolong fly over Roxy.
“Diimbau kepada pengguna jalan agar dapat menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang ditetapkan,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Mangkir Panggilan DPR, Jonan Dinilai Tak Tahu Undang-undang

Jakarta, Aktual.co — Ketidakhadiran Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menuai kritik keras dari anggota komisi V DPR. Kritik itu disampaikan, ketika pimpinan sidang membacakan surat ketidakhadiran Menhub tersebut.
“Bila diperhatikan dari apa yang disampaikan pimpinan sidang saat membacakan surat yang disampaikkan Menhub untuk tidak hadir, karena memberikan perhatian khusus terkait penanganan kasus tersebut, itu hal wajar,” ucap Bahrum Bido anggota Komisi V DPR dari fraksi Partai Demokrat, di ruang sidang komisi V di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (13/1).
Akan tetapi, ia menilai seakan Menhub tidak mengerti dengan hirarki perundang-undangan, dimana seharusnya sebagai regulator menghadiri panggilan DPR RI. Sedangkan, yang menyangkut proses evakuasi atau kemanusiaan lainnya itu, sudah ditangani oleh pihak-pihak terkait.
“Lucu pula menteri ini seakan tidak tahu apa yang mau dilakukannya, dia tidak tahu hirarki perundang-undangan, dimana DPR itu setara dengan eksekutif,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

KPK Lidik Calon Kapolri, Pakar: Menteri Stabilo Merah Mau Diapain

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi diingatkan agar tak membangkang dengan pilihan Presiden Joko Widodo yang telah menunjuk Budi Gunawan sebagai calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Terlebih lagi, karena KPK tak dilibatkan oleh presdien dalam proses seleksi calon Kapolri.
Pakar hukum pidana dari Universitas Padjadjaran Prof Romli Atmasasmita menilai, jika KPK ‘ngotot’ untuk menelisik dugaan rekening gendut Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal pengganti Jendral Polisi Sutarman itu maka jelas, lembaga yang dikomandoi oleh Abraham Samad itu membangkang.
“Kalau sekarang mau lidik soal Budi Gunawam justru KPK membangkang presiden karena sudah ditunjuk sebagai calon Kapolri,” kata Prof Romli kepada wartawan, Selasa (13/1).
Prof Romli mengkritik pengakuan pihak KPK yang tak dilibatkan dalam proses seleksi calon Kapolri pasca penunjukan Budi Gunawan oleh presiden Joko Widodo. Menurut dia, KPK tak perlu membuat kegaduhan lantaran tak diajak berpartisipasi. 
Sementara disisi lain, kata Prof Romli, media telah jauh-jauh hari memberitakan hal tersebut. Pun termasuk soal isu kabar rekening gendut mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu. “Sekarang tidak dilibatkan ngomel-ngomel. Padahal wartawan sudah memberitahu,” kata dia.
Prof Romli menilai sikap ‘reaktif’ KPK soal penunjukan Budi Gunawan oleh Presiden Joko Widodo sangat telat. Hal tersebut cendrung hanya bentuk pencitraan semata. Apalagi, KPK telah menggembar-gemborkan akan mengungkap soal rekening gendut.
Seharusnya, kata Romli, saat KPK dilibatkan dalam proses seleksi calon menteri, lembaga tersebut itu menindaklanjuti calon-calon menteri yang distabilo merah agar mendapat kepastian hukum. “Calon menteri yang mendapat stabilo merah itu mau diapain. harus jelas diapain. Sudah merah dibiarkan,” kata dia.
Karena itu, Prof Romli sepakat dengan langkah Presiden Jokowi yang tidak melibatkan KPK dalam proses penunjukkan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri. Jokowi, kata Prof Romli, telah menggunakan hak preogratifnya sebagai Presiden. Selain itu tanpa tindak lanjut dari KPK, ungkap Prof Romli, Budi Gunawan sejauh ini dikatakan bersih dari tindak pidana korupsi.
“Saya dukung Jokowi untuk menunjuk Budi Gunawan karena dia tidak terbukti tersangkut kasus apapun. KPK harus introspeksi.”
Prof Romli menekankan, KPK tak perlu ‘kebakaran jenggot’ atas penunjukan mantan Kapolda Bali itu. Sebaiknya, lanjut dia, KPK berkaca atas peristiwa tersebut. Semakin banyak KPK berwacana soal rekening gendut tanpa ada tindaklanjut, justru menunjukan hanya sebuah pencitraan belaka.
“Kejadian ini jadi introspeksi bagi KPK agar jangan banyak bicara, jangan banyak pencitraan. Yang penting kerja. Tindaklanjuti laporan PPATK.”
Rekening gendut itu kembali mencuat seiring pergantian Kapolri Sutarman. Sejumlah nama perwira polisi kembali disebut-sebut memiliki rekening gedut. Salah satunya Budi Gunawan yang saat ini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri dan menjadi calon kuat pengganti Sutarman.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Bursa Saham AS Kembali Anjlok, Tertekan di Sektor Energi

Jakarta, Aktual.co —  Bursa saham Amerika Serikat jatuh setelah indeks standard & poor 500 membukukan retret pertama secara mingguan ‘back-to-back’ sejak Oktober 2014 lalu. Pelemahan juga terjadi seiring tertekannya bursa AS oleh aksi jual di sektor energi, sebelum dimulainya musim laporan keuangan.

Seperti dilansir Aktual.co dari Bloomberg.com, Selasa (13/1), saham-saham energi anjlok sebanyak 2,8 persen, terbesar di antara 10 kelompok di S&P 500 (SPX) disertai minyak mentah yang turun 4,7 persen. Saham Tiffany & Co anjlok 14 persen dan SanDisk Corp turun paling tajam dalam 6 tahun terakhir.

Indeks S&P 500 turun 0,8 persen ke level 2.028,26 pada penutupan perdagangan Senin (12/1), pukul 16.00 waktu New York, AS. Ada pun Dow Jones Industrial Average turun 96,53 poin atau 0,5 persen ke level 17.640,84.

Sementara itu, Indeks Nasdaq 100 turun 1 persen karena mundurnya saham teknologi. Tercatat, sekitar 6,6 miliar saham berpindah tangan di Bursa AS.

“Ketika masih ada ketidakpastian di luar sana, dan itu bukan pertanda  untuk pasar yang sehat,” kata Equity Strategist Miller Tabak & Co, Matt Maley, Selasa (13/1).

Bursa AS telah kehilangan 0,7 persen pada pekan lalu, menyusul penurunan 1,5 persen pada periode sebelumnya di tengah kekhawatiran atas pergeseran harga minyak, jatuhnya upah AS, dan rencana pembelian obligasi bank Sentral Eropa tidak akan cukup untuk memerangi deflasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain