2 Januari 2026
Beranda blog Halaman 40041

Pasukan Elit Angkatan Laut Bantu Cari AirAsia QZ8501

Surabaya, Aktual.co — Pasukan elit Angkatan Laut Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) dan pasukan Katak ikut membantu pencarian pesawat AirAsia QZ8501. 
Hal ini dilakukan Untuk mendukung pencarian pesawat yang hilang kontak sejak Minggu (28/12) pagi. Selain itu, juga diterjunkan kapal pemburu ranjau milik TNI-AL.
“Jadi total ada delapan KRI sudah diterjunkan, ditambah  tujuh kapal milik Basarnas. Salah satunya KRI Pulau Rengat, yang memiliki kemampuan daya deteksi sonar hingga kedalaman antara 25 hingga 50 meter. Jadi keselurhan ada 15 kapal,” kata Hernanto, (29/12).
Hernanto menambahkan, untuk pencarian dari Makasar sudah mendekati titik koordinat, hanya tinggal menunggu laporan berikutnya. Sebab, seluruh informasi tentang pencarian masih menunggu informasi dari Basarnas pusat.

Artikel ini ditulis oleh:

Jaksa Cecar Tiga Saksi soal Permintaan Pencairan Uang Rp 1,5 Miliar

Jakarta, Aktual.co — Sidang kasus dugaan suap revisi alih fungsi lahan di Provinsi Riau kepada Kementeria Kehutanan pada 2014 dengan terdakwa Gulat Medali Emas Manurung, kembali dilanjutkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (29/12).
Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan enam saksi. Mereka adalah dua karyawan PT Anugerah Kelola Artha, Mangara Sinaga dan Hendra Siahaan. Hendra juga menjabat Direktur Utama PT Kubu Raya. Kemudian kasir PT Citra Hokiana Triutama,Yulia Rotua Siahaan, Direktur Utama PT Citra Hokiana Triutama Edison Marudut Marsadauli Siahaan, serta dua pegawai gerai jual beli valuta asing PT Ayu Massagung Money Changer, Tety Indrayati dan Tati Rujiati.
Tiga saksi pertama diperiksa adalah Hendra, Mangara, dan Yulia. Jaksa Kresno mencecar ketiganya soal permintaan pencairan uang Rp 1,5 miliar, kuitansi permintaan dan sepuluh surat tanah.
Di persidangan, Yulia mengakui atasannya, Edison, memintanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1,5 miliar. Tetapi, perempuan bekerja di perseroan itu sejak 1997 mengaku tidak tahu tujuan pencairan itu.
“Saya enggak tahu uangnya untuk apa. Pak Edison cuma tanya apa ada uang Rp 1,5 miliar. Saya cek ada simpanan. Pak Edison langsung kasih nota isinya cuma tulisan ‘dirut.’ Saya cairkan ceknya ke Bank Mandiri Rp 1,5 miliar,” kata Yulia.
Jaksa Kresno Anto Wibowo mencecar Yulia apakah dia tidak mencatat maksud pengeluaran uang itu. “Kan saudara ada pembukuan. Apa tidak catatan maksud pengeluaran uang di pembukuan?” Tanya Jaksa Anto.
“Tidak pak. Cuma tulisan ‘Dirut’ saja,” ujar Yulia.
Yulia mengatakan, perusahaan tempatnya bekerja bergerak di bidang kontraktor jalan raya dan jalan perkebunan sawit. Dia menambahkan, mereka juga menyediakan jasa pencarian ladang minyak menggunakan metode seismik.
Sementara itu, Hendra mengaku dia sempat diminta Gulat mengambil sepuluh dokumen surat tanah. Tetapi, dia tidak tahu kelanjutannya dan hanya memindahkannya ke kantor.
“Saya cuma lihat ada surat tanah pas sepuluh macam, saya bawa. Saya enggak periksa lagi. Mungkin asli, karena yang saya lihat cuma yang paling atas,” kata Hendra.
Hendra mengaku mengenal Gulat sejak kuliah. Sebab, dia mengatakan Gulat adalah salah satu dosen pembimbingnya di Fakultas Pertanian Universitas Riau. “Dia dosen pembimbing saya. Mata kuliahnya budidaya tanaman kelapa sawit,” kata Hendra.
Hendra mengatakan, saban hari dia mengaku melihat Gulat mengendarai kendaraan Mitsubisihi Strada Triton. Sementara saksi Mangara menjelaskan, dia juga sering melihat Gulat membesut Toyota Kijang Innova berpelat merah.
“Setahu saya itu juga mobil operasional APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Riau). Pak Gulat ini kan Ketua Apkasindo,” kata Mangara.
Namun, Gulat menyangkal menerima pemberian mobil itu dari Pemerintah Provinsi Riau. Menurut dia, kendaraan itu hanya dipinjamkan.
“Itu mobil Dinas Perkebunan Pemprov Riau. Saya pinjam, bukan diberikan ke saya,” kata Gulat.
Sedangkan soal surat tanah, Gulat mengaku memang mengurusnya buat dibalik nama. “Setelah dibalik nama dan beroperasi tiga tahun, nanti kalau ada keuntungan akan dibagi,” sambung Gulat.
Dalam dakwaan Gulat, Edison disebut menjadi penyandang dana suap buat Gubernur Riau, Annas Maamun. Tetapi, duit itu dibawa ke Jakarta oleh Gulat dalam bentuk valuta asing berupa Dolar Amerika Serikat sebesar USD 166,100. Duit itu kemudian ditukarkan ke dalam mata uang Dolar Singapura.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Menhub: AirAsia QZ8501 Belum Ditemukan

Jakarta, Aktual.co — Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan mengatakan hingga kini pesawat AirAsia yang hilang kontak masih belum bisa ditemukan.
“Tim pencari yang dipimpin oleh Basarnas masih belum menemukan lokasi jatuhnya pesawat Airasia,” kata Jonan, di Tangerang, Senin (29/12).
Pencairan masih terus dilakukan oleh Basarnas selaku koordinator pencarian dibantu oleh berbagai pihak. Kementrian Perhubungan telah menerjunkan berbagai kapal untuk mencari seperti kapal navigasi, mengaktifkan penjaga laut, radio pemantau.
“Semua fasilitas telah diaktifkan untuk membantu mencari pesawat Airasia dan memberikan informasi bila menemukan lokasi jatuhnya pesawat,” katanya.
Seperti diketahui, pesawat AirAsia QZ 8501 dengan rute Surabaya-Singapura dilaporkan hilang kontak setelah tinggal landas dari Bandara Juanda menuju ke Bandara Changi Singapura. Pesawat yang tinggal landas sekitar pukul 05.36 WIB hilang kontak dan tidak bisa dimonitor lagi.
AirAsia membawa membawa 155 penumpang terdiri atas 130 orang dewasa, 24 anak, dan satu bayi. Pesawat di kemudikan oleh kapten Iriyanto dengan membawa enam awak kabin.

Artikel ini ditulis oleh:

Curah Hujan Tinggi, BMKG Medan Imbau Waspada Banjir Longsor

Medan, Aktual.co — Forescaster BMKG Wilayah I Medan, Endah menyebutkan curah hujan di wilayah provinsi Sumatera Utara masih tercatat tinggi dan berpeluang terjadi secara merata di daerah pesisir timur.
“Masih berpeluang tinggi, untuk pesisir timur tinggi hingga sedang. Medan, serdang bedagai, langkat itu masih berpotensi,” kata Endah, kepada Aktual.co di Medan, Senin (29/12).
Sementara itu, untuk wilayah pantai barat, hujan juga masih terus terjadi meski tidak terlalu signifikan.
“Sibolga masih berpeluang, tapi tidak signifikan. Curah hujan ini diprediksi masih akan terjadi hingga minggu pertama Januari mendatang,” katanya.
Endah menambahkan, pihaknya menghimbau masyarakat untuk terus mewaspadai potensi terjadinya banjir dan longsor.

Artikel ini ditulis oleh:

Pertamina Didesak Penuhi Kebutuhan BBM Nelayan

Jakarta, Aktual.co — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendesak PT Pertamina memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak bagi nelayan di daerah tersebut.
“Kita mendesak PT Pertamina agar dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar bagi para nelayan,” kata Anggota DPR RI Komisi IV, Hamdani, di Kuala Pembuang, Senin (29/12).
Para nelayan di banyak wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah, kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi karena harus bersaing dengan pengguna kendaraan lain.
Persaingan untuk mendapatkan BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) terlihat tidak pernah sepi dari antrean kendaraan.
Dia berharap di daerah-daerah yang dihuni nelayan perlu dibangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) khusus untuk memenuhi kebutuhan BBM seperti Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan.

Artikel ini ditulis oleh:

Anggota DPRD Gianyar Penuhi Panggilan Kejari

Jakarta, Aktual.co — Anggota DPRD Gianyar, Bali, Ngakan Putu Tirta Pramono yang terserat kasus korupsi dana hibah akhirnya memenuhi panggilan kejaksaan Negeri Gianyar, Senin (29/12).
Tersangka kasus dana hibah itu datang sekitar pukul 11.30 wita, didamping tiga pengacaranya terdiri atas Ngakan Kompyang Dirga, Ngakan Putu Putra serta Ngakan Gde Padma.
“Pemeriksaan kali ini merupakan tahap kedua,” kata Pengacara Pramono, Ngakan Kompyang Dirga.
Dia belum mengetahui apakah Pramono ditahan atau tidak. “Kita tunggu pemeriksaan dari kejaksaan.”
Sementara itu untuk penjagaan kedatangan Pramono ini diamankan satu pleton pasukan Dalmas Polres Gianyar. Penjagaan ini dilakukan lantaran Pramono diisukan akan membawa massa.
Ngakan Putu Tirta Pramono menerapkan modus operandinya saat pihak Bendahara dari Pemkab Gianyar menyerahkan uang ke dua rekening penerima bantuan sosial pada tahun 2013.
Setelah sampai ke rekening penerima yakni I Nyoman Punduh selaku Ketua Pura Dadia Pulasari Desa Keliki dan I Wayan Suardiana Ketua Pura Dadia Cameng, Desa Keliki tersangka memotongnya sebesar Rp 90 juta, dan sisanya diberikan masing-masing Rp 5 juta kepada penerima.
Total kerugian negara sebesar Rp 100 juta. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata sampai saat ini tidak ada realisasi fisik.
Tersangka diancam dengan hukuman maksimal 20 tahun sesuai dengan pasal 2,3, 9 12E UU 31 Tahun 1999 junto UU No 20 tahun 2001 tentang tidak pidana korupsi. Hingga kini, pihak kejaksaan negeri setempat sudah memeriksa 20 saksi sehingga kemungkinan tersangka akan berkembang lagi.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain