3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 40354

Sambut Tahun Baru, KAI Tambah Perjalanan KA Kamandaka Jadi Tiga Kali

Jakarta, Aktual.co — Perjalanan Kereta Api (KA) Kamandaka yang semula hanya satu kali ditambah menjadi tiga kali perjalanan setiap hari untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat Natal dan Tahun Baru.

“Penambahan frekuensi KA Kamandaka jurusan Semarang-Purwokerto pulang pergi ini dimulai 19-31 Desember 2014,” kata Kepala PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops IV Semarang Wawan Ariyanto di Semarang, Jumat (19/12).

Hal tersebut diungkapkannya usai meluncurkan penambahan frekuensi perjalanan KA Kamandaka, ditandai pemberangkatan jadwal pemberangkatan pertama KA Kamandaka pukul 05.00 WIB dari Stasiun Tawang.

Ia mengakui tiket beberapa KA dari Semarang sudah habis menjelang perayaan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 sehingga ditambahlah frekuensi perjalanan KA Kamandaka untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

“Selama ini, okupansi (tingkat keterisian) KA Kamandaka setiap harinya kalau dirata-rata sampai 150 persen. Sebab, ada penumpang dinamis yang naik-turun di stasiun antara Semarang-Purwokerto,” ungkapnya.

Menurut dia, penyebab tingginya minat masyarakat yang menggunakan layanan angkutan transportasi KA kemungkinan karena masih adanya sejumlah perbaikan jalan di sepanjang jalur darat Pantai Utara Jawa.

“Ini tidak lepas dari pengaruh kemacetan di jalur Pantura akibat adanya perbaikan di sejumlah titik. Karena itu, masyarakat kemudian menjadikan KA sebagai transportasi favoritnya,” tukas Wawan.

Pada peluncuran KA Kamandaka pada jadwal pemberangkatan pertama itu, PT KAI Daops IV Semarang mengajak pula para komunitas pecinta KA yang ada di wilayah tersebut untuk ikut serta dalam perjalanan.

Seperti, Komunitas Railways Daops IV Semarang (KRDE) dan Indonesian Railways Preservation Society (IRPS) untuk ikut serta dalam perjalanan KA Kamandaka PP dari Semarang-Purwokerto, dan sebaliknya.

Dengan penambahan frekuensi perjalanan, KA Kamandaka yang berkapasitas 636 tempat duduk itu memiliki tiga jadwal keberangkatan per hari, yakni pukul 05.00 WIB, 11.10 WIB, dan 17.00 WIB dari Semarang.

Kepala Humas PT KAI Daops IV Semarang Suprapto menambahkan ketersediaan tiket KA komersial kelas eksekutif dan ekonomi plus dari Semarang ke Jakarta, Malang, Bandung, dan Surabaya masih tersedia 70-80 persen.

“Itu untuk tanggal 24 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015. Namun, untuk KA ekonomi, seperti KA Tawang Jaya dari Semarang-Jakarta, tiketnya rata-rata sudah habis terjual,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Sambut Tahun Baru, KAI Tambah Perjalanan KA Kamandaka Jadi Tiga Kali

Jakarta, Aktual.co — Perjalanan Kereta Api (KA) Kamandaka yang semula hanya satu kali ditambah menjadi tiga kali perjalanan setiap hari untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat Natal dan Tahun Baru.

“Penambahan frekuensi KA Kamandaka jurusan Semarang-Purwokerto pulang pergi ini dimulai 19-31 Desember 2014,” kata Kepala PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops IV Semarang Wawan Ariyanto di Semarang, Jumat (19/12).

Hal tersebut diungkapkannya usai meluncurkan penambahan frekuensi perjalanan KA Kamandaka, ditandai pemberangkatan jadwal pemberangkatan pertama KA Kamandaka pukul 05.00 WIB dari Stasiun Tawang.

Ia mengakui tiket beberapa KA dari Semarang sudah habis menjelang perayaan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 sehingga ditambahlah frekuensi perjalanan KA Kamandaka untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

“Selama ini, okupansi (tingkat keterisian) KA Kamandaka setiap harinya kalau dirata-rata sampai 150 persen. Sebab, ada penumpang dinamis yang naik-turun di stasiun antara Semarang-Purwokerto,” ungkapnya.

Menurut dia, penyebab tingginya minat masyarakat yang menggunakan layanan angkutan transportasi KA kemungkinan karena masih adanya sejumlah perbaikan jalan di sepanjang jalur darat Pantai Utara Jawa.

“Ini tidak lepas dari pengaruh kemacetan di jalur Pantura akibat adanya perbaikan di sejumlah titik. Karena itu, masyarakat kemudian menjadikan KA sebagai transportasi favoritnya,” tukas Wawan.

Pada peluncuran KA Kamandaka pada jadwal pemberangkatan pertama itu, PT KAI Daops IV Semarang mengajak pula para komunitas pecinta KA yang ada di wilayah tersebut untuk ikut serta dalam perjalanan.

Seperti, Komunitas Railways Daops IV Semarang (KRDE) dan Indonesian Railways Preservation Society (IRPS) untuk ikut serta dalam perjalanan KA Kamandaka PP dari Semarang-Purwokerto, dan sebaliknya.

Dengan penambahan frekuensi perjalanan, KA Kamandaka yang berkapasitas 636 tempat duduk itu memiliki tiga jadwal keberangkatan per hari, yakni pukul 05.00 WIB, 11.10 WIB, dan 17.00 WIB dari Semarang.

Kepala Humas PT KAI Daops IV Semarang Suprapto menambahkan ketersediaan tiket KA komersial kelas eksekutif dan ekonomi plus dari Semarang ke Jakarta, Malang, Bandung, dan Surabaya masih tersedia 70-80 persen.

“Itu untuk tanggal 24 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015. Namun, untuk KA ekonomi, seperti KA Tawang Jaya dari Semarang-Jakarta, tiketnya rata-rata sudah habis terjual,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kadin: 20 Persen Jamu Beredar Ilegal

Jakarta, Aktual.co —  Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengatakan sekitar 20 persen dari total jamu yang beredar di Tanah Air merupakan produk ilegal atau tidak resmi.

“Total perdagangan jamu dan kosmetika yang berasal dari jamu itu sekitar Rp80 triliun. Tapi 20 persen atau sekitar Rp15 triliun itu produk ilegal,” kata Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya Putri K Wardani, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (19/12).

Menurut Putri yang juga Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk, dari 20 persen produk jamu dan kosmetika ilegal itu terdiri atas produk asal Indonesia dan impor.

“Produk ilegalnya dari Indonesia dan lebih banyak lagi yang impor. Macam-macam asalnya,” jelasnya.

Demi mengatasi maraknya peredaran produk jamu ilegal dari luar negeri, termasuk melalui perdagangan elektronik, Putri meminta pemerintah untuk melakukan upaya antisipasi.

“Itu harus ditelusuri, apakah jamu itu legal atau ilegal. Di ‘e-commerce’ kan kita tidak tahu. Kadang BPOM juga tidak tahu produk tersebut beredar. Makanya Kemenkominfo, Kemenristek, Kepolisian dan Ditjen Bea Cukai harus atur peredarannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Putri mengatakan pertumbuhan industri jamu masih menunjukkan tren positif.

Pada 2014 ini, industri jamu masih bertahan pada posisi belasan persen dan diharapkan bisa terus tumbuh pada 2015, terutama dengan adanya pencanangan minum jamu setiap hari Jumat oleh pemerintah.

Sementara untuk ekspor jamu, ia mengatakan jumlahnya masih sangat kecil.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kadin: 20 Persen Jamu Beredar Ilegal

Jakarta, Aktual.co —  Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengatakan sekitar 20 persen dari total jamu yang beredar di Tanah Air merupakan produk ilegal atau tidak resmi.

“Total perdagangan jamu dan kosmetika yang berasal dari jamu itu sekitar Rp80 triliun. Tapi 20 persen atau sekitar Rp15 triliun itu produk ilegal,” kata Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya Putri K Wardani, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (19/12).

Menurut Putri yang juga Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk, dari 20 persen produk jamu dan kosmetika ilegal itu terdiri atas produk asal Indonesia dan impor.

“Produk ilegalnya dari Indonesia dan lebih banyak lagi yang impor. Macam-macam asalnya,” jelasnya.

Demi mengatasi maraknya peredaran produk jamu ilegal dari luar negeri, termasuk melalui perdagangan elektronik, Putri meminta pemerintah untuk melakukan upaya antisipasi.

“Itu harus ditelusuri, apakah jamu itu legal atau ilegal. Di ‘e-commerce’ kan kita tidak tahu. Kadang BPOM juga tidak tahu produk tersebut beredar. Makanya Kemenkominfo, Kemenristek, Kepolisian dan Ditjen Bea Cukai harus atur peredarannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Putri mengatakan pertumbuhan industri jamu masih menunjukkan tren positif.

Pada 2014 ini, industri jamu masih bertahan pada posisi belasan persen dan diharapkan bisa terus tumbuh pada 2015, terutama dengan adanya pencanangan minum jamu setiap hari Jumat oleh pemerintah.

Sementara untuk ekspor jamu, ia mengatakan jumlahnya masih sangat kecil.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Lusa, Diskusi Seni Rupa ‘Art Brut Indonesia’ Kembali Digelar

Jakarta, Aktual.co —Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar akan menggelar diskusi seni rupa memeriahkan pameran dua perupa “art brut Indonesia”, Minggu, 21 Desember 2014.

“Diskusi itu menampilkan kurator pameran yang terdiri atas George Breguet, Made Budhiana dan Jean Couteau,” kata penanggung jawab pameran tersebut Putu Aryastawa di Denpasar, Jumat. (19/12)

Ia mengatakan, selain itu juga tampil Nawa Tunggal yakni jurnalis yang juga adik Dwi Putro yang menggelar pameran tersebut bersama Ni Nyoman Tanjung. Pamerannya sendiri berlangsung selama seminggu, 21-27Desember 2014.

Dialog tersebut akan menelaah perihal keberadaan seniman-seniman terpinggirkan atau outsider art, yang mencipta dan berkarya di ambang batas ketaksadaran.

Dalam dunia senirupa, dikenal dengan istilah art brut, yang dalam sejarahan juga mewarnai kehidupan seni secara keseluruhan.

Bahkan dalam perkembangannya telah berdiri Museum Art Brut di Lausanne, Swis, yang mengoleksi karya-karya yang diciptakan oleh mereka yang dipandang mengalami gangguan psikis atau skizofrenia, termasuk karya-karya Ni Tanjung, yang belum lama ini dipamerkan besar-besaran di museum tersebut.

Menurut Putu Aryastawa, diskusi kali ini juga didasari oleh peristiwa pada bulan Agustus 2014, yakni pameran fotografi internasional di BBB mengenai fenomena orang-orang terpasung.

Melalui kacamata 13 fotografer lintas negara tersebut dihadirkan beragam ekspresi penderita gangguan mental, suasana lingkungan terpasung, peralatan pasungan, kondisi tubuh terpasung, penanganan medis, hingga kesembuhan.

Dalam diskusi itu juga akan membahas perihal posisi para seniman yang terpinggirkan dalam dunia seni rupa Indonesia dan dunia, termasuk perkembangan seni rupa art brut internasional.

Selain itu, muncul pula pertanyaan sungguhkan seni-seni yang dianggap art brut atau yang sepenuhnya mencerminkan orisinalitas senimannya hanya dapat dilahirkan melalui fenomena gangguan mental atau alam bawah sadar, ujar Putu Aryastawa.

Artikel ini ditulis oleh:

Lusa, Diskusi Seni Rupa ‘Art Brut Indonesia’ Kembali Digelar

Jakarta, Aktual.co —Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar akan menggelar diskusi seni rupa memeriahkan pameran dua perupa “art brut Indonesia”, Minggu, 21 Desember 2014.

“Diskusi itu menampilkan kurator pameran yang terdiri atas George Breguet, Made Budhiana dan Jean Couteau,” kata penanggung jawab pameran tersebut Putu Aryastawa di Denpasar, Jumat. (19/12)

Ia mengatakan, selain itu juga tampil Nawa Tunggal yakni jurnalis yang juga adik Dwi Putro yang menggelar pameran tersebut bersama Ni Nyoman Tanjung. Pamerannya sendiri berlangsung selama seminggu, 21-27Desember 2014.

Dialog tersebut akan menelaah perihal keberadaan seniman-seniman terpinggirkan atau outsider art, yang mencipta dan berkarya di ambang batas ketaksadaran.

Dalam dunia senirupa, dikenal dengan istilah art brut, yang dalam sejarahan juga mewarnai kehidupan seni secara keseluruhan.

Bahkan dalam perkembangannya telah berdiri Museum Art Brut di Lausanne, Swis, yang mengoleksi karya-karya yang diciptakan oleh mereka yang dipandang mengalami gangguan psikis atau skizofrenia, termasuk karya-karya Ni Tanjung, yang belum lama ini dipamerkan besar-besaran di museum tersebut.

Menurut Putu Aryastawa, diskusi kali ini juga didasari oleh peristiwa pada bulan Agustus 2014, yakni pameran fotografi internasional di BBB mengenai fenomena orang-orang terpasung.

Melalui kacamata 13 fotografer lintas negara tersebut dihadirkan beragam ekspresi penderita gangguan mental, suasana lingkungan terpasung, peralatan pasungan, kondisi tubuh terpasung, penanganan medis, hingga kesembuhan.

Dalam diskusi itu juga akan membahas perihal posisi para seniman yang terpinggirkan dalam dunia seni rupa Indonesia dan dunia, termasuk perkembangan seni rupa art brut internasional.

Selain itu, muncul pula pertanyaan sungguhkan seni-seni yang dianggap art brut atau yang sepenuhnya mencerminkan orisinalitas senimannya hanya dapat dilahirkan melalui fenomena gangguan mental atau alam bawah sadar, ujar Putu Aryastawa.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain