17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 41464

Penyidik Polda Kalteng Tangkap tangan Ketua DPRD Kapuas, Ini Kronologisnya

Jakarta, Aktual.co — Penyidik Polda Kalimantan Tengah mengamankan Ketua DPRD Kapuas, Kalteng, Mahmud Iif Syafrudin dan sejumlah anggota DPRD lain. Mereka ditangkap terkait dugaan suap pembahasan penetapan RAPBD Kapuas 2015.
“Ada sejumlah penangkapan atas tindak pidana korupsi berupa suap terhadap anggota DPRD Kapuas,” ujar Kasubagops Tipidkor Bareskrim Polri AKBP Arief Adiharsa, dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (27/11).
Arief menceritakan, kronologis penangkapan berawal pada Selasa (25/11) sekitar pukul 17.30. Suap diduga diberikan oleh pejabat Pemkab Kapuas melalui Dinas PU Kapuas melalui Kabid Bina Marga, Imanuah. Menurut Arief, uang Rp 2,3 miliar itu diserahkan kepada Mahmud Iif Syafrudin. “Kemudian uang tersebut dibawa ke rumah Wakil Ketua DPRD Timotius Mahar untuk dibagikan ke masing-masing fraksi,” ungkap Arief.
Ia menjelaskan bahwa uang Rp 2,3 miliar itu rencananya akan dibagi. Rinciannya, unsur pimpinan Rp 100 juta, ketua fraksi Rp 65 juta, dan anggota masing-masing Rp 50 juta.
“Saat dirumah Wakil Ketua DPRD di Jalan Tambun Bungai nomor 53 Kapuas itulah dilakukan penangkapan,” kata Arief.
Dia menambahkan, saat ini sudah lima orang yang dijadikan tersangka oleh Polda Kalteng. “Tersangkanya sementara ada lima orang,” ujarnya.
Tersangka itu adalah Mahmud Safrudin dengan barang bukti uang Rp 346,9 juta dan mobil dinas  Fortuner, Timotius Mahar dengan bukti Rp 930 juta. Kemudian dua anggota DPRD,  Ronny S Rambang dengan barang bukti Rp 150 juta dan Epok Baharudin barang bukti Rp 165 juta serta tersangka lainnya Imanuah. Selain itu, 11 unit telepon seluler dan lima mobil juga disita pihak kepolisian.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Saksi Benarkan Walkot Palembang Setor Uang ke Akil

Jakarta, Aktual.co — Saksi Wakil Kepala BPD Kalimantan Barat cabang Jakarta Iwan Sutaryadi mengakui bahwa Wali Kota Palembang Romi Herton memberikan uang kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar melalui orang dekat Akil, Muhtar Ependy.
“Waktu itu saya tanya mau dibawa ke mana uangnya, dijawab mau dibawa ke Pancoran. Awalnya saya tidak tahu, saya tanya rumah siapa, dijawab rumah sintua,” kata Iwan dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (27/11).
Iwan menjadi saksi dalam perkara dugaan pemberian uang kepada Akil Mochtar sebesar Rp14,145 miliar dan 316.700 dolar AS (sekitar Rp3,8 miliar) dengan tersangka Walikota Palembang Romi Herton dan istrinya Masyito.
Sintua yang dimaksud adalah Akil Mochtar.
“Pada waktu itu gak bilang Akil Mochtar, kepada Akil dia panggil sintua, uang yang diambil semua 316.700 dolar AS,” tambah Iwan.
Sebelumnya Masyito dan Muhtar pada 13 Mei 2013 sudah menyetor uang ke kantor BPD Kalbar cabang Jakarta di Jalan Arteri Mangga Dua.
“Bersam bu Masyito saya tidak bahas apa-apa. Pak Muhtar menyampaikan mau setor uang. Saya tunggu sampai malam, malam dia setor sekitar 17.30 WIB,” jelas Iwan.
Uang dalam mata uang rupiah dan dolar tersebut ditempatkan dalam 3-4 koper dan dihitung oleh Rika Fatmawati dan Risna Hasrlianti yaitu karyawati BPD Kalbar caban Jakarta yaitu sebesar Rp11,395 miliar dan 316.000 dolar AS.
Namun uang tersebut ternyata kurang dari jumlah yang dijanjikan sebelumnya.
“Pak Muhtar sampaikan ke ibu uangnya kurang, ibu sampaikan tidak bawa uang lagi. Akhirnya uang sisanya diambil di tempat beliau di apartemen oakwood sekitar Rp35,4 juta,” jelas Iwan.
Uang itu diminta oleh Muhtar untuk disimpan dulu dan baru akan dimasukkan ke rekening bila Muhtar memerintahkan.
“Ditransfer baru 20 Mei 2013, tapi 18 Mei 2013 ada pengambilan uang,” tambah Iwan.
Uang yang ditransfer itu dikirim ke rekening CV Ratu Samagat yang dimiliki oleh istri Akil, Ratu Rita Akil.
“Muhtar telepon saya, minta tolong dikirim ke Ratu Samagat. Dia SMS saya dua rekening BNI dan Mandiri. Saya waktu itu tidak tahu (pemilik CV Ratu Samagat), tahu setelah ada berita di TV,” jelas Iwan.
Uang yang ditransfer adalah sebesar Rp3 miliar sedangkan sisanya minta disetorkan ke rekening Muhtar Ependy.
“Dia (Muhtar) minta disetorkan saja, disetor RP10 miliar. Saya setiap setoran selalu komunikasi ke Pak muhtar,” ungkap Iwan.
Dalam berita penyetoran, uang itu disebut sebagai modal usaha, pembelian mobil dan lainnya.
Romi Herton dan Masytio dalam perkara ini didakwa dengan pasal 6 ayat 1 huruf a atau pasal 13 UU No 13 tahun 1999 jo pasal 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.
Pasal perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili dengan ancaman pidana 3-15 tahun penjara dan denda Rp50 juta hingga Rp750 juta.
Selain didakwa menyuap hakim, jaksa juga mendakwa Romi dan Masyito melakukan perbuatan dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Indef Catat Enam Perbaikan Ekonomi

Jakarta, Aktual.co — Ada enam indikator kinerja ekonomi yang mengalami perbaikan dalam satu dekade terakhir, Pertama, pertumbuhan ekonomi yang bisa mencapai kisaran enam persen. Kedua adalah peranan pertumbuhan investasi yang meningkat dari 23 persen menjadi 31 persen pada 2013, serta kinerja perbankan nasional yang terus mengalami perbaikan sejak 2004.

“Kinerja perbankan terlihat dari perkembangan aset yang rata-rata tumbuh 16,41 persen, Dana Pihak Ketiga yang tumbuh 15,88 persen serta pertumbuhan kredit yang mencapai 21,62 persen,” ujar Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati dalam pemaparan proyeksi ekonomi Indonesia 2015 di Jakarta, Kamis (27/11).

Selain itu, Indef mencatat persentase angka kemiskinan menurun dari 16,66 persen pada 2004 menjadi 11,25 persen pada 2014, serta penurunan tingkat pengangguran terbuka dan peningkatan pekerja formal dari 29,38 persen menjadi 39,9 persen pada 2013.

Enny menambahkan, indeks pembangunan manusia meningkat 7,45 persen dari sebelumnya hanya tercatat sebesar 68,7 persen pada sepuluh tahun yang lalu, menjadi kisaran 73,45 persen pada 2013. Enam indikator tersebut memang mengalami perbaikan, namun masih terdapat beberapa catatan, seperti pertumbuhan ekonomi yang masih didominasi sektor non-“tradeable” dan penyebaran investasi yang belum merata.

“Selain itu, penurunan pengangguran terbuka masih banyak yang hanya bergeser ke sektor informal, dan penurunan angka kemiskinan serta peningkatan indeks pembangunan manusia masih berjalan lambat,” jelas Enny.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Demo Bawa Keranda dan Pocong, AMARA Tuntut Tiga Menteri Dicopot

Jakarta, Aktual.co —Aliansi Mahasiswa dan Rakyat (AMARA) melakukan aksi di depan gedung Kementrian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM).
Membawa keranda mayat dan pocong-pocongan yang terpasang foto tiga menteri di pemerintahan Jokowi-JK, sebagai simbol imperialisme terhadap rakyat. Yakni Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menko Perekonomian Sofyan Djalil.
Koordinator AMARA, Muhamad Frans, mengatakan simbol-simbol yang mereka bawa mengandung filosofi kematian hati nurani.
“Karena tiga menteri inilah yang seharusnya bertanggung jawab dalam kenaikan BBM bersubsidi. Seharusnya Jokowi melihat tiga menteri tersebut sudah masuk garis merah oleh KPK. Dimana KPK sekarang? mana konsistensinya?” tuding Frans, di depan Gedung Kementerian ESDM, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (27/11).
Kebijakan menaikkan BBM bersubsidi, kata dia, merupakan sebuah bentuk imperialisme terhadap rakyat. Di mana rakyat makin tercekik dengan kenaikan BBM.
“Kaum Neolib sudah berada di pemerintahan Jokowi-JK, imperialisme lebih dipentingkan. Rakyat menjerit, perekonomian untuk rakyat kecil semakin sulit, jadi tiga menteri ini harus bertanggung jawab dan harus dicopot dari jabatannya,” tegasnya.
Selain membawa pocong dan keranda mayat, massa aksi AMARA membawa Wayang Kulit dengan berbentuk wajah Jokowi -JK. Sebagai simbol pemerintahan sekarang ini sudah tercampuri oleh pihak asing.

Artikel ini ditulis oleh:

Operasi Zebra Tekan Angka Kecelakaan di Lumajang

Lumajang, Aktual.co —Angka kecelakaan diwilayah hukum Polres Lumajang, Jawa Timur, dalam dua bulan terakhir cenderung meningkat. 
Meskipun peningkatannya tidak terlalu mencolok, namun hal tersebut tetap menjadi perhatian serius bagi Polres Lumajang khususnya Satlantas selaku leading sektornya.
Kapolres Lumajang AKBP Singgamata, mengakui jika kejadian kecelakaan bulan lalu dibanding bulan ini mengalami peningkatan. 
“Bulan lalu ada 32 kejadian kecelakaan dan bulan ini ada sekitar 34 kejadian, bahkan angka kematian bulan lalu mencapai 16 korban meninggal dunia,” katanya, kamis (27/11). 
Untuk itu, operasi Zebra yang digelar serantak secara nasional sejak Rabu (26/11), Kapolres memerintahkan jajarannya untuk melakukan pendataan titik mana saja yang merupakan daerah rawan kecelakaan atau black spot. 
“Disana nanti jika ditemukan pelanggaran akan langsung dilakukan tindakan baik pre-entif, preventif maupun represif, dan targetnya dilokasi tersebut harus turun angka kecelekaaannya,” tandas Singgamata.
Informasi yang dihimpun dari Satlantas Polres Lumajang menyebutkan, secara keseluruhan angka kecelakaan tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun kemarin. 
Pada tahun tahun 2013 tercatat sebanyak 183 kecelakaan, sedangkan tahun 2014, hingga bulan November,  tercatat 143 kejadian kecelakaan.   
 

Artikel ini ditulis oleh:

Urusan Cawagub DKI, Taufik Minta Parpol Tak Intervensi Ahok

Jakarta, Aktual.co —Wakil Ketua DPRD DKI M. Taufik terang-terangan akui dukung Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUP2) Sarwono Handayani (Yani) sebagai calon Wakil Gubernur DKI.
Namun diakui Ketua Presidium KMP DKI Jakarta itu, sampai saat ini belum ada keputusan final mengenai pencalonan Yani dari fraksi-fraksi yang tergabung di Koalisi Merah Putih (KMP) DPRD DKI, ataupun dari Gerindra sendiri.
Tapi Taufik sudah menyarankan agar parpol tidak ikut campur dan mengintervensi Ahok dalam pencalonan wagub. 
Sebab menurut Taufik yang merupakan mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI tersebut, memilih seorang wagub merupakan hak prerogatif  Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). 
Yakni sesuai Peraturan pemerintah pengganti UU (Perppu) Nomor 1 tahun 2014.
“Sudah jelas di Pasal 176 bahwa Ahok berhak memilih wagubnya sendiri. Saya berharap tidak ada yang intervensi Ahok,” ucapnya, di DPRD DKI Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (27/11).
Diberitakan sebelumnya kalau Gubernur Ahok meminta posisi Wagub DKI sebaiknya diisi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alasannya, selama ini PNS tidak pernah diberi kesempatan untuk mengisi posisi politik.
“Kita ingin Jakarta isinya tidak ada orang politik deh. Walaupun jabatan saya politik, tapi PNS kita dihargai kan. Kalau PNS yang jujur, ini yang saya ingin buktikan. PNS kita banyak yang baik sebetulnya. Cuma kesempatan tidak ada,” kata Ahok di Balai Kota.
Mantan Bupati Belitung Timur itu pun menyayangkan sikap parpol yang jarang mau berbagi jabatan publik kepada PNS, yang sebenarnya justru lebih tahu persoalan pemerintahan. 
Terkait Wagub dari PNS, Ahok mengaku sudah punya calon yang cocok. “Saya pilih Ibu Yani (Sarwono Handayani) saja karena dia pengalaman.”
Selain dianggap sudah teruji di pemerintahan, Yakni juga dianggapnya memiliki rekam jejak yang cukup baik.
“Dia (Yani) kerja sudah dua tahun dan tidak macam-macam. Suruh apapun beres dan kita sudah tanya ke pengusaha dia juga tidak pernah janjiin macam-macam. Yang kita butuhkan orang jujur. Coba saja, Pak Jokowi saja pusing cari orang jujur. Di Jakarta ini yang dibutuhkan orang jujur, itu yang susah.”

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain