13 April 2026
Beranda blog Halaman 41763

Alasan Menteri Rini Pilih Dwi Soetjipto Sebagai Dirut Pertamina

Jakarta, Aktual.co — Menteri BUMN Rini Seomarno resmi menunjuk Dwi Soetjipto sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Tantangan pertama bagi Dwi adalah transparansi kinerja Pertamina yang banyak dipertanyakan pelbagai kalangan.

“Dwi Soetjipto bisa menganalisis secara mendalam, supply chain Pertamina dari hulu ke hilir. Terutama sistem accountable, transparan sehingga semua pihak yakin pertamina baik untuk bangsa,” ujar Rini di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (28/11).

Menurutnya, Dwi juga bisa menganalisis secara mendalam terkait efisiensi. Salah satu challege pak Dwi adalah terkait tiga orang direksi Pertamina. Dalam waktu seminggu tugas tersebut harus di review terlebih dahulu.

“Satu Minggu untuk analisis terkait jumlah direksi.  Apakah direksi yang sekarang sudah mampu melakukan program-program direksi pertamina yang baru,” ujarnya.

Terkait proses pemilihan Dirut Pertamina, Menteri Rini mengatakan Dwi Soetjipto dipilih dari total 17 orang kandidat calon sebelumnya.

“Pak Dwi mendapatkan skor tertinggi dari total 17 kandidat yang melalui proses assesment dan dari dalam dan luar,” ujarnya.

Menurutnya, Kementerian BUMN lebih mengutamakan jabatan strategis di pegang oleh direksi-direksi BUMN. Pasalnya, banyak orang dari BUMN yang mumpuni untuk jadi pimpinan.

“Kementerian BUMN menekankan untuk memilih pimpinan, Presdir atau dirut perusahaan BUMN terbaik dari keluarga BUMN,” tegasnya.

Ini merupakan salah satu cara untuk mencari profesional di BUMN, sehingga bisa saling mengisi satu sama lain.

“Kita kloning Best practice pada BUMN lain. Memang hal ini yang akan kami lakukan. Prosesnya assessment,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kepemimpinan Dwi Soetjipto di Pertamina Sangat Diragukan

Jakarta, Aktual.co —  Penunjukan Dirut PT Semen Indonesia, Dwi Soetjipto sebagai Dirut Pertamina oleh Menteri BUMN Rini Soemarno terus menuai kecaman dari sejumlah elemen publik, terlebih pemerhati migas.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean mengatakan Dwi Soetjipto sangat diragukan dapat memimpin perusahaan nasional yang mengelola hulu-hilir permigasan Indonesia tersebut.
“Naiknya Dwi Soetjipto ini jadi pemimpin nomor satu di pertamina benar-benar menjadi catatan serius bagi kami, ini sungguh pilihan yang mengecewakan karena merupakan pilihan terakhir dari beberapa nama yang memang buruk dan kita anggap tidak mampu menimpin pertamina,” ucap dia dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (28/11).
Ia pun mengungkapkan bahwa ada sejumlah catatan kelemahan dari seorang Dirut Pertamina baru tersebut.
“Dwi Soetjipto tidak akan berani melawan mafia. Catatan kami tentang Dwi Soetjipto menunjukkan dia tunduk pada kepentingan politisi partai berkuasa waktu itu (ketika menjabat sebagai Dirut Semen Indonesia),” bebernya.
“Nah kami melihat dia juga akan melakukan hal yang sama di Pertamina, dia akan tunduk dan mengakomodir kepentingan pihak-pihak yang menjadikan dia sebagai Dirut Pertamina,” tandasnya.
Seperti diketahui, Dirut Pertamina Dwi Soetjipto diketahui sebagai Agen liberalisme. Dwi Ahli melakukan privatisasi BUMN, salah satunya Semen Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang
Eka

Kalau Ngaku Tak Diintervensi, Pukat: Coba Prasetyo Panggil Surya Paloh

Jakarta, Aktual.co — Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gajah Mada (Pukat UGM) Fariz Fachryan, meragukan Jaksa Agung HM Prasetyo akan mengusut kasus yang mangkrak di Kejaksaan. Termasus menelisik kasus penyalahgunaan kredit Bank Mandiri kepada PT Citra Graha Nusantara (CGN) yang bergulir pada tahun 2004 senilai Rp160 miliar yang melibatkan Surya Paloh.
Fariz pun pesimis, Jaksa Agung HM Prasetyo berkomitmen dalam pemberantasan Korupsi. Apalagi menuntaskan kasus yang diduga melibatkan Ketua Umum Partai NasDem itu.
“Kalau memang Jaksa Agung serius, umumkan progres pemeriksaan kasus bank mandiri ini,” kata Fariz kepada Aktual.co, Jumat (28/11).
Fariz menegaskan, Jangan sampai penegakan hukum dicemari oleh kepentingan-kepentingan elit elit partai. Dia pun meminta agar penyidik gedung bundar segera melanjutkan penyidikan perkara tersebut.
“Jangan ditunda-tunda, agar masyarakat dapat menilai komitmen Kejaksaan Agung,” tambahnya.
Menurut Fariz, jika ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap korps Adhiyaksa sebagai lembaga penegak hukum, dia menyarankan agar kejaksaan kembali memanggil Surya Paloh untuk dimintai keterangan soal duduk perkara tersebut, sehingga kasus tersebut terang benderang dalam proses pengusutannya.
“Selain itu periksa Surya Paloh jika kejaksaan punya komitmen, Ini hal yang paling penting. Tanpa transparansi kejaksaan akan dinilai sebagai lembaga yg tidak pernah berubah dari dulu,” tuntasnya.
Untuk diketahui, dalam kasus ini pada, Senin (11/07/2005) lalu, Bos Metro TV Surya Paloh diperiksa Kejaksaan Agung terkait kasus penyalahgunaan kredit Bank Mandiri. Paloh dicecar seputar adanya informasi Metro TV (PT Media Televisi Indonesia) menerima kredit PT Cipta Graha Nusantara (PT CGN) senilai Rp 160 miliar.
Surya Paloh diperiksa dengan materi pemeriksaan difokuskan pada penjualan dan pembelian aset PT Tahta Medan oleh PT Tri Manunggal Mandiri Persada (PT TMMP) yang merupakan perusahaan afiliasi dengan Media Group. Aset PT Tahta Medan dibeli dari BPPN dan dijual ke PT Azalea Limited Rp 160 miliar. Menurutnya, PT Media Televisi Indonesia menerima hasil penjualan aset kredit PT Tahta Medan sebesar Rp 160 miliar.
Surya Paloh diperiksa sebagai saksi terhadap tiga tersangka dari direksi Bank Mandiri Neloe cs. PT CGN merupakan salah satu debitor yang terkait kasus kredit macet Bank Mandiri. Tim penyidik telah menetapkan tiga orang tersangka dari PT CGN yaitu Direktur Utama Edison dan Direktur keuangan Diman Ponijan. Mereka telah dieksekusi untuk menjalani hukuman, sedangkan Komisaris PT CGN Saipul hingga kini masih buron.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

2015, Kejagung Bakal Eksekusi 20 Terpidana Mati

Jakarta, Aktual.co — Jakarta, Aktual.co — Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung, Basyuni Masyarif mengaku akan mengeksekusi sebanyak 20 orang terpidana mati pada tahun 2015 mendatang. Rencananya setiap tahun jaksa eksekutor akan mengeksekusi 10 terpidana mati.
“Pada tahun 2015 mendatang totalnya 20 terpidana mati,” kata Basyuni di Kejagung, Jakarta, Jumat (28/11)
Untuk tahun 2014, jaksa hanya mampu menghadapkan 5 terpidana mati saja, itupun tunggakan dari tahun 2013 lalu, dimana tahun lalu jaksa juga hanya mengeksekusi 5 terpidana mati.
Basyuni mengatakan, tak sesuainya rencana eksekusi 10 terpidana mati pertahun dikarenakan berbagai kendala.
“Ini ada kendala 141 negara menolak hukuman mati. Kita prinsipnya sebagai eksekutor. Kita mau nggak mau harus melaksanakan putusan Mahkamah Agung, itu kendala berat,” ungkapnya.
Sementara itu kendala dari dalam negeri sendiri disebut Basyuni hanya terkait aspek yuridis yakni yang berkaitan dengan hak-hak hukum terpidana mati apakah sudah terpenuhi seluruhnya atau belum. 
“Secara teknis nggak ada masalah, cuma aspek yuridisnya,”tutup Basyuni.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pemerintahan Jokowi Akhirnya Pilih Dwi Sutjipto Pimpin Pertamina

Dirut Pertamina yang baru Dwi Soetjipto (tengah), didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) dan Menteri ESDM Sudirman Said (kanan), bertumpuk tangan usai pengumuman jabatan Dirut Pertamina di kantor BUMN, Jakarta, Jumat (28/11/2014). Dwi Soetjipto ditunjuk menggantikan Muhamad Husen yang saat ini menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) Dirut Pertamina, pasca ditinggalkan Karen Agustiawan. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Mabes Polri: Arif Tewas Karena Benda Tumpul, Bukan Ditabrak Watercanon

Jakarta, Aktual.co — Mabes Polri menegaskan bahwa hasil pemeriksaan dokter forensik terhadap Muhammad Arif alias Ari (17), yang tewas saat demonstrasi di Makassar, Sulawesi Selatan, bukan karena lindasan mobil water cannon.
“Sesuai informasi yang kita dapat dari Sulsel, hasil pemeriksaan dokter forensik RS Wahidin Makassar, penyebab meninggal dunianya korban itu bukan karena tertabrak, ditabrak atau dilindas water canon Polri. Itu hasil penjelasalan forensik,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto kepada wartawan di Mabes Polri, Jumat (28/11).
Agus menjelaskan, dari hasil pemeriksaan juga diketahui bahwa saat ditemukan posisi korban dalam keadaan tertelungkup. “Ditemukan satu gigi dalam keadaan copot,” jelasnya.
Hasil pemeriksaan lainnya, lanjut Agus, tim medis juga menemukan bahwa di bawah rambut pada kepala bagian belakang, terdapat luka robek 6 centimeter. “Dimungkinkan akibat benda tumpul,” tegasnya.
Agus menegaskan bahwa korban meninggal dunia karena gagal nafas akibat pendarahan karena luka yang diderita. “Jadi, korban meninggal dunia bukan terlindas mobil polisi,” demikian Agus.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain