9 April 2026
Beranda blog Halaman 41892

Rini Tepis Tudingan Rekayasa Proses Seleksi Bos Pertamina

Jakarta, Aktual.co — Menteri BUMN Rini Soemarno menepis tuduhan rekayasa dalam proses seleksi Direktur Utama Pertamina yang melibatkan perusahaan konsultan PT Daya Dimensi Indonesia (DDI). Bahkan, pemilihan asesmen oleh PT DDI dianggap sebagai tindakan KKN lantaran perusahaan yang berkantor di kawasan Mega Kuningan itu disinyalir memiliki kedekatan hubungan dengan kakak kandung Rini, Ongky Soemarno.

“Pokoknya kita sudah bekerja sebaik mungkin dan sudah melakukannya dengan profesional,” kata Rini di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (24/11).

Menurutnya, apa yang telah pihaknya lakukan adalah niatan baik untuk kepentingan bangsa. Ia mengklaim bahwa pihaknya telah melakukannya dengan profesional dan sesuai dengan ketentuan Pemerintah.

“Yang ingin kita lakukan adalah kita mempunyai niat yang terbaik untuk bangsa. bisa meyakini kalau kita melakukannya secara profesional dan sudah melakukan assesment proses yang memang sudah ditentukan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Rini menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki tujuan lain yang bersifat negatif karena semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa. Ia juga berharap melalui proses yang sudah berjalan itu, dapat menghasilkan orang yang terbaik.

“Kita insya allah mendapatkan orang yang terbaik. Tidak ada tujuan lain,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Inilah Alasan Menkumham Mangkir dari RDPU DPR

Jakarta, Aktual.co — Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Yasonna Laoly tidak menghadiri rapat kerja dengan Komisi III dan Pansel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dijadwalkan berlangsung hari ini, Senin (24/11) dengan alasan tengah menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.
Rapat dengan agenda mendengar masukan terkait pemilihan calon pimpinan KPK sendiri dibuka  pukul 10.15 WIB dan diskors hingga pukul 10.30 WIB. Pada saat skors dicabut, Ketua Komisi III Azis Syamsuddin mengumumkan jika Laoly berhalangan hadir. Padahal rapat sudah dihadiri Pansel Pimpinan KPK seperti Amir Syamsuddin, Imam Prasodjo, dan Komaruddin Hidayat 
“Menteri tidak bisa hadir karena ada rapat terbatas dengan presiden dan meminta raker dijadwalkan kembali,” jelas Azis. 
Laoly lewat surat yang dikirimkan ke Komisi III, meminta agar rapat kerja ini dijadwal ulang. Tetapi, Azis mengatakan ketidakhadiran Menkum HAM sendiri dapat diabaikan pasalnya, agenda pemilihan pimpinan KPK sudah mendesak.
Sebelumnya diberitakan,  jika Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar para menteri dan pejabat setingkat menteri tidak hadir ke DPR untuk sementara waktu, hingga DPR benar-benar solid. Instruksi ini dituangkan dalam surat edaran yang ditandatangani oleh Seskab Andi Widjajanto.

Artikel ini ditulis oleh:

Menkeu Akui Belum Bahas APBNP 2015

Jakarta, Aktual.co — Pemerintahan terhitung lebih dari satu bulan tidak berkonsultasi dengan DPR terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015. Setelah Subsidi BBM resmi dicabut, maka Pemerintah harus menerangkan kepada DPR akan dikemanakan alokasi anggaran tersebut melalui APBN-P 2015.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan dirinya belum membahas mengenai APBN-P 2015, dan masih dalam tahap persiapan.

“Belum dibahas, masih dipersiapkan,” tegas Bambang di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Senin (24/11).

Lebih lanjut ketika wartawan Aktual menanyakan jika kisruh di Senayan tak kunjung usai akankah berpengaruh pada APBN-P 2015, pasalnya kondisi internal DPR tak kunjung kondusif sampai saat ini, Menkeu menunggu sampai Januari mendatang.

“Kita lihat Januari nanti,” tegasnya.

Seperti diketahui APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN berisi daftar sistemis dan terperinci yang memuat rencana penermaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

PNS Bogor Gunakan Angkutan Umum Dan Sepeda

Jakarta, Aktual.co —Sejumlah pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (24/11) pagi, mulai menggunakan alat transportasi angkot dan sepeda untuk berangkat kerja.

Aktvitas ini dilakukan oleh pegawai sebagai tindak lanjut dari himbauan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto agar seluruh birokrat di lingkungan pemerintah kota menggunakan transportasi angkutan umum atau sepeda.

Berdasarkan pantauan di Balai Kota Bogor, pukul 07.00 WIB sejumlah pegawai mulai berdatangan, ada yang berjalan kaki, menggunakan sepeda, dan ada yang turun dari angkot.

Beberapa juga ada yang naik kendaraan operasional sepeda motor dengan plat merah dan ada yang diantar pakai kendaraan pribadi.

Himbauan wali kota direspon positif oleh sejumlah pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, namun ada beberapa yang kebingungan untuk kegiatan rapat yang berlokasi di luar Balai Kota.

Menurut Delima, pegawai Bappeda Kota Bogor, ia tidak mengalami kesulitan untuk berangkat kerja menggunakan angkot, biasanya ia menggunakan mobil pribadi setiap harinya.

“Paling yang diatur jam keberangkatan, biasanya jam 06.30 WIB sudah berangkat, tapi karena naik angkot harus lebih awal berangkat yakni jam 06.15 WIB,” ujarnya.

Untuk mencapai Balai Kota, Delima harus menggunakan tiga kali angkot dari arah Yasmin. Total pengeluaran untuk biaya angkot ia harus membayar Rp20.000 pulang pergi.

Isna, pegawai dari Kominfo Kota Bogor juga memilih naik angkot menuju Balai Kota.

“Justru naik angkot lebih cepat, dan nyaman. Saya lebih banyak naik angkot ketimbang motor kalau berangkat kerja,” kata Isna.

Beberda dengan Kasubag Perundang-udangan Sekretariat Daerah Kota Bogor, Elyis Sontikarsyah memilih naik sepeda dari rumahnya di kawasan Ciomas.

Menurut Elyis dengan bersepeda dia bisa menghemat waktu lima menit lebih cepat untuk mencapai kantor.

“Biasanya naik mobil, sering kena macet di Jembatan Merah. Kalau naik sepeda jadi lebih cepat lima menit dari biasanya. Karena jarak antara kantor dan rumah cuma 20 menit,” kata Elyis.

Dengan dimulainya gerakan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, suasana di Balai Kota menjadi lebih tertib, tidak ada parkir kendaraan yang memadati pelataran parkir Balai Kota.

Selain Pegawai Pemkot, Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman juga memilih naik angkutan umum dari rumah pribadinya di wilayah Bantar Jati.

Sementara Wali Kota Bogor Bima Arya memilih naik sepeda dari Rumah Dinas bersama dengan Sekretaris Daerah Ade Syarip Hidayat dan beberapa pejabat lainnya.

Pertama menggunakan sepeda, dan angkutan publik, Wali Kota dan Wakil Wali Kota serta Sekda terlambat masuk kantor. Ketiganya sampai setelah apel pagi selesai dilakukan oleh pegawai.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Tak Dilibatkan Dalam Seleksi Jaksa Agung, KPK: Tidak Wajib

Jakarta, Aktual.co — HM Prasetyo yang merupakan Politikus asal Partai Nasdem menjadi Jaksa Agung ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Basrief Arif.
Memunculnya nama Prasetyo dianggap  bakal mempengaruhi institusi tersebut dalam menegakkan keadilan. Hal tersebut pun banyak keraguan di kalangan masyarakat menyangkut prospek penegakan hukum pada era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Belum lagi, Presiden Jokowi menunjuk HM Prasetyo tak seperti menunjuk para menterinya yang saat ini telah menduduki kursi menteri di Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Jokowi.
Jika sebelumnya melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam penujukan menterinya di Kabinet Kerja. Namun dalam menempatkan posisi stategis bagi Prasetyo itu pun tak melibatkan lembaga yang dipimpin oleh Abraham Samad cs itu.
Namun demikian, Juru Bicara sekaligus Deputi Bidang Pencegahan KPK Johan Budi menyebut, dalam pengangkatan Prasetyo menjadi Jaksa Agung lembaganya memang tidak diminta oleh Jokowi. Karena hal tersebut merupakan hak preogratif Presiden dalam memilih pembantunya.
“Kalau mengenai Jaksa Agung, KPK memang tidak dimintakan pendapat dan itu memang bukan kewajiban,” kata Johan Budi di gedung KPK, Senin (24/11).
Johan juga mengatakan, sah-sah saja Jokowi tidak meminta pendapat dalam memilih menteri ataupun Jaksa Agung karena itu merupakan hak prerogratif Jokowi sebagai presiden.
“Itu kan hak prerogratif ada di Presiden Jokowi, kami tidak dilibatkan, dan itu memang bukan kewajiban KPK.”
Meskipun demikian menurut Johan Budi, KPK akan bersedia jika dimintai pendapat oleh Jokowi dan akan memberikan rekam jejak catatan yang bersangkutan.
“Kemarin pak Jokowi minta pendapat KPK dan PPATK, dan KPK berikan catatan tentang kabinet kemarin,” kata dia. 
Laporan: Acep Nazmudin

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Surat Pelarangan, Ketua DPR Harus Bersikap Tegas

Jakarta, Aktual.co — Ketua DPR RI Setya Novanto diminta untuk segera mengambil sikap tegas  terkait sejumlah surat larangan yang dilayangkan kabinet Jokowi-JK untuk tidak menghadiri sejumlah rapat dengan komisi selaku mitra kerja pemerintah.
Demikian disampaikan Politisi Partai Gerindra Martin Hutabarat kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Senin (24/11).
“Coba tanya ketua DPR itu, kalau anggota kau tanya komentarnya beda-beda, yang paling baik menjawab itu Setya Novanto dia harus jawab dan dia harus bicara, jangan diam-diam saja,” ucap dia.
“Jangan terlalu banyak pertanyaan itu kepada anggota, ketua DPR yang harus bicara, dia harus bicara soal ini kepada presiden,” tambahnya.
Menurut dia, tidak hanya komisi VI saja yang tidak dihadiri oleh mitra kerjanya, seperti Kementerian BUMN, di komisi III yang bergerak di bidang hukum pun juga mengalami hal serupa.
“Tidak hanya komisi VI, kapolri di komisi III saja tidak datang, menkumham tidak datang, di komisi lain juga tidak ada yang datang,” ungkapnya.
Oleh karena itu, sambung dia, sebaiknya Setya Novanto selaku ketua DPR yang bicara.
“Jangan biarkan semua anggota DPR ini bicara karena itu kapasitasnya, itu gunanya dia jadi ketua,” tandasnya.
Seperti diketahui,  pelarangan ini tertuang dalam Surat Edaran bernomor SE-12/Seskab/XI/2014 dan bertanggal 4 November 2014. Surat itu ditandatangani oleh Seskab Andi Widjajanto dan ditujukan ke Menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf Angkatan, Kepala BIN, dan Plt Jaksa Agung. Surat Edaran ini beredar di kalangan jurnalis.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Berita Lain