6 April 2026
Beranda blog Halaman 42182

Riedl Minta Maaf Coret Pemain

Jakarta, Aktual.co — Pencoretan Tiga pemain dari skuat Timnas Indonesia Senior, disesalkan oleh pelatih Alfred Riedl. Meski demikian, pelatih asal Austria itu tetap meminta maaf kepada pemain yang dicoretnya.

Tiga pemain yang dicoret itu adalah, Andritany Ardhiyasa, Teguh Amiruddin serta Dedi Hartono.

“Saya minta maaf pada pemain yang dipulangkan hari ini,” ucap Riedl usai latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).

Sebelumnya, pelatih asal Austria itu sudah lebih dulu memulangkan enam pemain yaitu Greg Nuwokolo, Hendro Siswanto, Ferdinand Sinaga, Hamka Hamzah, Toni Sucipto dan Ruben Sanadi.

“Ini adalah keputusan sulit, namun hal itu harus saya lakukan,” tutupnya.

Dengan total sembilang yang dicoret, Riedl praktis hanya tinggal mencoret satu nama lagi, karena penghuni timnas saat ini masih berjumlah 24 pemain.

Berikut Daftar Pemainnya:

Penjaga Gawang: Kurnia Meiga, I Made Wiryawan, Dian Agus Prasetyo

Belakang: Zulkifli Syukur, Fachruddin Wahyudi, Muhammad Roby, Rizki Rizaldi Pora, Manahati Lestusen, Supardi Nasir, Achmad Jufrianto, Victor Igbonefo

Gelandang: Raphael Maitimo, Evan Dimas Darmono, Zulham Malik Zamrun, Ramdani Lestaluhu, Ahamd Bustomo, Firman Utina, Hariono, Imanuel Wanggai, Bayu Gatra

Penyerang: Serginho Van Dijk, Cristian Gonzales, Samsul Arif, Irfan Bachdim

Artikel ini ditulis oleh:

Jokowi di Antara Dua Karang

Jakarta, Aktual.co — Sepanjang November ini, Presiden Jokowi untuk pertama kalinya akan memulai debut internasionalnya di tiga forum internasional yang cukup penting dan strategis. Pada 10-11 November, Jokowi akan berada di Beijing, Cina, menghadiri KTT Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). 12-13 November, ke Nay Pyi Daw, Myanmar, untuk menghadiri KTT Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) ke-25, dan terakhir pada 15-16 November ke Brisbane, Australia, untuk mengikuti KTT G-20.

Ketiga KTT tersebut tak pelak lagi merupakan forum diplomasi berskala internasional yang mana pertaruhan kepentingan nasional ekonomi Indonesia sangatlah besar, mengingat APEC dan G-20 praktis dikuasai oleh persekutuan strategis Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa yang tergabung dalam blok ekonomi G-7. Begitupula halnya dengan G-20, meskipun ada Rusia sebagai kekuatan penyeimbang, namun tetap saja didominasi oleh pengaruh kuat Amerika dan Uni Eropa.
 
Sayang sekali, terkesan Presiden Jokowi beserta tim kabinetnya, seperti Menteri Luar Negeri dan Menteri perekonomian, tidak terlalu siap untuk menampilkan debut pertamanya di forum internasional dengan mengajukan isu-isu strategis untuk dilemparkan forum APEC, G20 maupun KTT ASEAN. Visi Ekonomi Jokowi 5 tahun ke depan hanya menyoroti pentingnya integrasi dan konektivitas ekonomi. Sedangkan di KTT ASEAN, Indonesia akan mengangkat 6 isu seperti kesehatan terkait Ebola, konflik Laut Cina Selatan, dan ASEAN Community Building 2015.
 
Konflik Laut Cina Selatan, sepertinya dipandang secara spesifik sebagai sengketa kelautan antar bebeberapa negara yang melibatkan Cina, tapi sayangnya tidak dilihat dalam lingkup yang lebih strategi, yaitu trend untuk menjadikan Laut Cina Selatan sebagai Medan Peperangan antara dua negara adidaya : Amerika versus Cina di kawasan Asia Tenggara. Akan menjadi blunder ketika masalah konflik Laut Cina Selatan semata dipandang sebagai persengketaan di wilayah laut antar beberapa negara.
 
Masalah Kesehatan terkait penyebaran virus Ebola, jelas tidak bisa dipandang semata-mata sebagai isu kesehatan, melainkan harus dilihat dalam perspektif Amerika dan sekutu-sekutu baratnya untuk memanfaatkan momentum mewabahnya virus Ebola untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan strategisnya di bidang ekonomi, politik dan bahkan kemiliteran, di negara-negara yang sedang dilanda wabah Ebola.
 
Dan yang paling krusial terkait KTT ASEAN, yaitu kesiapan Indonesia menyongong ASEAN Economic Community 2015, yang agenda tersembunyinya adalah, adanya rencana strategis dari negara-negara asing untuk menguasai sektor-sektor strategis bidang ekonomi di negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, melalui diterapkannya Free Trade Agreement di kawasan ASEAN. Di sinilah aspek paling krusial dari ASEAN Economic Community berdasarkan skema AFTA (ASEAN Free Trade Agreement).
 
Berdasarkan amatan terhadap beberapa isu yang akan diangkat pemerintahan Jokowi-JK di tiga KTT berskala internasional tersebut, ada satu  benang merah yang bisa ditarik, yaitu betapa paham ekonomi neoliberalisme sedang mengepung secara besar-besaran kawasan Asia Tenggara, yang  berarti juga Indonesa termasuk negara yang telah ditetapkan sebagai sasaran penguasaan ekonomi.
 
Karena itu, Indonesia harus mengajukan prakarsa ekonomi yang jauh lebih strategis daripada sekadar mengangkat tema integrasi dan konektivitas ekonomi yang tidak terlalu jelas tujuan dan sasaran strategisnya. Apalagi ketika pemerintahan Jokowi-JK sedang dalam kepungan dan telikungan kekuatan-kekuatan kapitalis global yang dimainkan melalui Skema Ekonomi Neoliberalisme.
 
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pemerintahan Jokowi-JK harus mempunyai pemetaan yang jelas mengenai akar masalah perekonomian Indonesia saat ini, sehingga mempunyai referensi dan landasan yang kuat untuk melakukan perang diplomasi di tiga forum internasional tersebut: KTT ASEAN, KTT APEC dan KTT G20.

Maka itu, dalam keikutsertaan Indonesia dalam ketiga forum internasional tersebut, harus dipandu oleh penjabaran kembali secara imajinatif Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif sesuai dengan konstalasi global saat ini, sehingga tidak terjebak untuk beralih dari satelit Amerika Serikat dan Uni Eropa, lantas kemudian berpindah masuk orbit pengaruh Cina.

Politik Luar Negeri yang bebas dan aktif, berarti harus mengondisikan Indonesia dan negara-negara berkembang yang satu visi dan misi, untuk menjadi suatu kekuatan ketiga. Sebagaimana dipertunjukkan oleh pemerintahan Bung Karno melalui prakarsa terbentuknya Konferensi Asia-Afrika pada 1955, maupun solidaritas lintas kawasan yang menjadi dasar terbentuknya Gerakan Negara-Negara non blok.

Harus Kritis Tanggapi Tawaran Bantuan Cina Untuk Pembangunan Infrastruktur Maritim
Menyusul pertemuan Presiden Jokowi dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi Senin 3 November, Jokowi terkesan akan mendorong Cina membantu pembangunan infrastruktur, khususnya pengembangan bidang kemaritiman. Pada tataran ini, pemerintah Indonesia harus hati-hati dan pandai-pandai untuk bermain.

Apalagi ketika persaingan global antara Amerika Serikat dan Cina di sepanjang jalur sutra, yang mana termasuk di dalamnya Laut Cina Selatan dan Selat Malaka, semakin meningkat skala dan intensitasnya dalam beberapa waktu belakangan ini.
 
Informasi yang berhasil dihimpun oleh tim riset Global Future Institute, dalam pertemuan tersebut Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi sempat menyinggung tentang Silk Road Economic Belt (SERB) in Asia dan Maritime Silk Road Point (MSRP).

Bayangkan jika Indonesia begitu saja menerima skema kerjasama pembangunan infrastruktur kemaritiman berdasarkan skema SERB dan MSRP, maka Cina akan membantu pembangunan infrastruktur di pulau-pulau besar di Indonesia. Sebagai investor, Cina pada perkembangannya ke depan akan menguasai akses pelabuhan-pelabuhan dan galangan kapal di Indonesia.

Berdasarkan pada tawaran kerjasama Cina berdasarkan skema SERB dan MSRP, apakah kerjasama tersebut bersifat saling menguntungkan antara Indonesia dan Cina? Ini penting mengingat kenyataan bahwa Cina memang mempunyai sasaran strategis menguasai wilayah-wilayah yang berada di jalur Laut Cina Selatan, yang merupakan Jalur Sutra Maritim. Untuk menguasai Jalur Sutra Maritim, Cina punya doktrin kemaritiman yang dikenal dengan String of Pearl.  

Jika tawaran Cina berdasarkan skema SERB dan MSRP tersebut disetujui mentah-mentah oleh Presiden Jokowi, maka pembangunan dan pengembangan infrastruktur maritim tersebut justru kontra produktif dari tujuan strategis kita untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan maritim Indonesia.

Tentu saja perlu analisis dan penilaian yang kritis terkait permintaan Cina untuk mengaitkan rencana Poros Maritim pemerintahan Jokowi-JK dan Jalur Sutra Maritim Cina.

Ketika sasaran strategis Jalur Maritim Cina bertumpu pada strategi String of Pearl yang tujuan strategisnya adalah penguasaan wilayah-wilayah yang punya nilai strategis secara geopolitik di kawasan Asia Tenggara, Poros Maritim dan Pembangunan Tol Laut semata-mata didasarkan pada gagasan pembangunan ekonomi dan proyek pembangunan infrastruktur bidang kemaritiman.

Dalam hal pembangunan tol laut misalnya, tujuan sesungguhnya hanya sebatas untuk meningkatkan jalur armada angkut kargo laut antar pelabuhan. Jika skema kerjasama Indonesia-Cina seperti ini, maka Indonesia di masa depan akan berada pada pihak yang dirugikan. Karena melalui skema SERB dan MSRP, secara geopolitik Cina akan menguasai Indonesia secara bertahap melalui matra ekonomi.
 
Akibatnya, di tengah persaingan global yang semakin menajam antara Amerika dan Cina di matra politik, militer dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, posisi tawar Indonesia justru malah semakin melemah. Dan akan menjadi sasaran perebutan pengaruh antara kedua negara adidaya tersebut.

Bagi negara-negara asing, kerjasama strategis dengan Indonesia di sektor maritim memang  punya nilai strategis.  Sekadar ilustrasi, potensi industri berbasis maritim bernilai 1,2 Triliun dollar Amerika Serikat per tahun.

Wajar jika beberapa negara adidaya, berebut pengaruh untuk menguasai sektor maritim Indonesa dengan memanfaatkan program penguatan sektor maritim sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Adapun penguatan sektor maritim memang sudah dicanangkan oleh Menteri Koordinasi Kemaritiman Indroyono Susilo kepada pers beberapa waktu lalu. Konsep penguatan sektor maritim bertumpu pada ketersediaan kapal-kapal besar yang rutin hilir mudik dengan frekuensi tinggi dari ujung barat di Aceh sampai ujung timur di Papua, atau dari ujung utara sampai ujung selatan Indonesia. Melalui penerapan konsep ini, diharapkan ada peningkatan frekuensi perdagangan antarpulau dan antardaerah.

Selain itu, Menko Kemaritiman Indroyono juga mencanangkan perlunya pembangunan infrastruktur yang mendahului pembangunan Tol Laut sebagaimana yang menjadi program unggulan Jokowi. Seperti misalnya dengan memperkuat jalur utama pelayaran. Untuk itu, Menko Indroyono menekankan ada empat pelabuhan yang perlu segera dibangun di empat titik jalur utama pelayaran dari barat hingga timur Indonesia, yaitu Belawan, Jakarta, Makasar, dan Sorong.

Yang tak kalah penting terkait program pembangunan sektor maritim adalah kesiapan industri nasional kita. Maka dari itu, pembangunan memperkuat sektor maritim harus bersinergi dengan kementerian-kementerian lain khususnya ekonomi. Karena pada perkembangannya kemudian, hal ini menjadi tantangan untuk mengembangkan ekonomi kelautan.

Berarti, seluruh kegiatan ekonomi akan dipusatkan di beberapa wilayah pesisir dan di lautan. Sehingga mau tidak mau, para pemangku kepentingan ekonomi kelautan akan memusatkan perhatiannnya pada beberapa sektor seperti perikanan, industri pengolahan, bahari, dan sebagainya.  

Mengingat luasnya lingkup pembangunan sektor maritim dan kelauatan, nampaknya terlalu riskan jika pemerintah Indonesia hanya mengandalkan pada ajakan bantuan kerjasama dari Pemerintah Cina. Bisa-bisa, maksud awalnya adalah untuk menciptakan keseimbangan baru menghadapi dominasi AS dan Uni Eropa, pada perkembangannya malah berpindah dari Mulut  Macan, ke mulut Buaya.

Oleh: Hendrajit, Redaktur Senior Aktual.co

Menyelamatkan Mereka yang Rentan Miskin Akibat Sakit (Bag. 2)

Jakarta, Aktual.co —  Banyak orang mampu, tapi hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan perekonomian keluarga secara pas-pasan.
Mereka itulah yang disebut “sadikin”, atau “sakit dikit miskin” atau akibat sedikit sakit jadi jatuh miskin, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Riau, dr Endid Pratiknyo.
Dengan demikian, sesungguhnya kemiskinan dan kesehatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kemiskinan membuat mereka menjadi sulit mendapatkan layanan kesehatan, sementara kesehatan seketika bisa saja membuat yang kaya raya jatuh miskin.
Ketua IDI Riau Nurzelly Husnedi mengatakan tingginya persoalan kesehatan tersebut harus ditekan dengan berbagai program “jitu” Menkes Nila F Moeloek.
“Yang utama adalah pemerataan penyebaran dokter hingga ke berbagai pelosok desa. Tujuannya adalah untuk memberikan hak kesehatan yang utuh bagi masyarakat pedesaan,” ungkapnya.
Nurzelly Husnedi menyatakan saat ini khusus untuk Provinsi Riau saja sebenarnya terdapat lebih 2.000 dokter, namun belum tersebar secara merata hingga ke pelosok desa.
“Mereka masih menjalankan profesi masing-masing di kota besar khususnya Pekanbaru, selain juga di ibu kota kabupaten di Riau,” kata Nurzelly.
Menurut dia, itu merupakan masalah bersama khususnya pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Sebaran dokter yang tidak merata merupakan salah satu penyebab masyarakat Indonesia belum dapat mencapai taraf hidup yang optimal.
Akibatnya, masyarakat di berbagai pedesaan dan kepulauan terisolasi di Tanah Air banyak yang belum mendapat hak penuh sebagai warga negara Indonesia ataupun sebagai peserta JKN.
Agenda Pembangunan Agenda pembangunan kesehatan 2015-219 adalah mewujudkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang semakin mantap. Artinya setiap orang mendapatkan hak pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan, di tempat pelayanan kesehatan yang terstandar, dilayani ole tenaga kesehatan yang kompten, kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof Nila Farid Moeloek dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Zaini Ismail.
Ketika itu, Zaini memimpin upacara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50, Rabu (12/11) di Halaman Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru.
Menkes mengatakan, pelayanan yang diberikan juga harus menggunakan standar pelayanan, dengan biaya yang terjangkau serta mendapatkan informasi yang kuat atas kebutuhan pelayanan kesehatan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, menurutnya diperlukan kebersamaan pemahaman semua pemangku kepentingan, komitmen yang kuat dan kepemimpinan yang konsisten baik ditingkat nasional maupun ditingka daerah.
Sesungguhnya, demikian Nila, pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.
Dia juga menambahkan di tengah meningkatnya faslitas pelayanan kesehatan dan bertambahnya jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan disemua jenjang fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi obat yang semakin membaik, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan kesehatan ini.
“Seperti tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi prevalensi gizi kurang dan stunting, beberapa jenis penyakit menular dan penyakit tidak menular tertentu,” sambungnya.
Momentum peringatan HKN emas tahun ini, Menkes mengajak untuk dapat dijadikan sebagai peningkatan tekad dan semangat semua pihak, untuk lebih memberikan makna pada masyarakat akan pentingnya kesehatan.
Dengan demikian, masyarakat berharap tidak lagi jatuh miskin saat menderita sakit. Dan Nila, menjadi harapan baru masyarakat untuk dapat menguatkan program-program kesehatan khususnya bagi mereka yang terancam oleh nasib “sadikin”, “sakit dikit miskin”!

Artikel ini ditulis oleh:

Riedl Sebut Lestusen Pemain Serba Bisa

Jakarta, Aktual.co — Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl menyebut Manahati Lestusen sebagai pemain serba bisa, sehingga bisa ditempatkan pada beberapa posisi di Timnas Indonesia yang akan bertanding di Piala AFF 2014 di Hanoi, Vietnam, 22 November.

Pemain Persebaya Surabaya yang sebelumnya menjadi tulang punggung Timnas Indonesia U-23 itu bisa bermain di posisi bek tengah, gelandang bertahan bahkan bisa bermain di posisi bek kiri. Posisi ini sudah sering dipakai di klub.

“Manahati bisa dipasang di bek kiri. Selain dia ada Rizki Rizaldi Pora,” kata Alfred Riedl setelah memimpin latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).

Kedua, kata Riedl, pemain ini berpeluang besar masuk dalam 22 pemain yang akan dibawa ke Vietnam. Hal ini terjadi karena dua pemain spesialis bek kiri yaitu Ruben Sanadi dan Tony Sucipto tidak dipanggil menjalani pemusatan latihan.

Khusus untuk Manahati, performa mantan pemain CS Vise ini cukup bagus, baik saat membela timnas maupun klub. Selain kokoh dalam bertahan, pemain asal Tulehu, Ambon ini juga aktif membantu dalam melakukan serangan.

Saat ini, Timnas Indonesia masih menyisakan 26 pemain yang menjalani pemusatan latihan. Sebelumnya ada tiga pemain yang sudah dicoret yaitu Andritany Ardhiyasa, Teguh Amirudin dan Dedi Hartono. Pencoretan dilakukan setelah latihan usai di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu.

Sebanyak 26 pemain selanjutnya akan dipantau kembali perkembangannya termasuk saat pertandingan uji coba melawan Suriah di Jakarta pada Sabtu (15/11). Setelah itu akan ada lagi pencoretan terakhir sebelum timnas bertolak menuju Hanoi.

“Ada tiga pemain lagi yang akan dicoret. Kemungkinan besar di posisi pemain tengah. Untuk posisi lain saya kira sudah cukup,” kata pelatih asal Austria itu.

Saat ini ada 11 pemain yang berebut untuk dibawa ke Hanoi di antaranya adalah Bayu Gatra, Irfan Bachdim, Firman Utina, Ahmad Bustomi, Evan Dimas, Hariono, Immanuel Wanggai, Ramdani Lestaluhu, dan Muhammad Ridwan.

Artikel ini ditulis oleh:

Puncak Mahameru Berpotensi Kaluarkan Lahar Dingin

Lumajang, Aktual.co — Akibat meningkatnya aktivitas Gunung Semeru dalam tiga bulan terakhir, saat ini di puncak gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut terdapat jutaan metrik ton material vulkanik berupa pasir dan bebatuan yang siap meluncur melalui DAS di kaki Gunung Semeru jika hujan menguyur.

Besarnya debit pasir dan bebatuan itu, bisa melebihi 9 juta metrik ton hasil aktivitas vulkanik selama musim kemarau ini.

Hal ini disampaikan Hendro Wahyono, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang.
Dua hari ini hujan mulai mengguyur wilayah Kabupaten Lumajang. Yang patut diwaspadai adalah adanya potensi bencana lahar dingin yang sangat berbahaya bagi warga yang bermukim di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) di kaki Gunung Semeru.

“Diantaranya, DAS Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar. Kali Glidik, Kali Rejali, Kali Mujur, Kali Pancing dan Besuk Sat,” katanya. Di seluruh DAS itu, kemungkinan terjadi luncuran lahar dingin yang membawa material vulkanik berupa pasir dan bebatuan dalam jumlah besar bisa sewaktu-waktu terjadi.

Pasalnya jika sewaktu-waktu lahar dingin menerjang, maka potensi bahayanya akan sangat tinggi terhadap keselamatan jiwa masyarakat, khususnya yang tinggal didekat DAS. “Apalagi, berdasarkan laporan yang disampaikan PVMBG melalui pemantauan Gunung Api Semeru di Pos Pantau Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, saat ini kubah lava di puncak kawah Jonggring Saloko penuh,” ungkap Hendro Wahyono.

Tumpukan material vulkanik itu mengendap di bibir kawah sehingga ketika diguyur hujan akan meluncur dalam bentuk lahar dingin. Melihat debitnya yang sangat besar, maka potensi bahayanya juga sangat tinggi.

Dengan kondisi itu, Hendro menambahkan, masyarakat dihimbau untuk tidak beraktifitas disekitar DAS yang terhubung dengan gunung Semeru ketika kawasan puncak tertutup mendung. Ataupun, ketika lahar dingin menerjang, akan diawali dengan suara gemuruh dari atas Gunung.

“Jika itu terjadi, maka masyarakat kita imbau menjauh dari DAS. Ini demi keselamatan jiwa mereka sendiri,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Menyelamatkan Mereka yang Rentan Miskin Akibat Sakit (Bag. 1)

Jakarta, Aktual.co — Banyak orang mampu, tapi hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan perekonomian keluarga secara pas-pasan.
Mereka itulah yang disebut “sadikin”, atau “sakit dikit miskin” atau akibat sedikit sakit jadi jatuh miskin, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Riau, dr Endid Pratiknyo.
Dengan demikian, sesungguhnya kemiskinan dan kesehatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kemiskinan membuat mereka menjadi sulit mendapatkan layanan kesehatan, sementara kesehatan seketika bisa saja membuat yang kaya raya jatuh miskin.
Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program berkaitan dengan kesehatan bagi masyarakat, salah satunya adalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah dimulai sejak awal 2014.
Progam ini dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Secara nasional sejak awal Oktober, jumlah peserta JKN menembus angka 126 juta orang dan terbanyak merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang merupakan masyarakat kalangan kurang mampu.
Program ini terbilang sukses, namun satu yang menjadi kelemahan adalah peserta JKN yang menetap di pelosok desa, terlebih pada pulau-pulau terisolasi belum dapat menikmatinya secara penuh karena di daerah itu tidak memiliki layanan kesehetan memadai, tanpa dokter.
Merekalah “Sadikin”, warga yang sebenarnya miskin, dan akan lebih sengsara ketika jatuh sakit karena sebelum mendapatkan layanan kesehatan saja, mereka harus mengeluarkan uang banyak demi menempuh perjalanan jauh menuju pusat kota.
“Cara yang tepat untuk mengatasi persoalan itu adalah dengan melakukan pemerataan dokter hingga ke sejumlah wilayah pelosok desa,” ucap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Provinsi Riau Nurzelly Husnedi, Selasa (28/10).
Nurzelly mencontohkan, di Riau saja masih banyak daerah jauh dari perkotaan seperti Pulau Rupat, Bengkalis dan sejumlah daerah lainnya di 12 kabupaten/kota yang belum memiliki fasilitas kesehatan memadai. Ditambah tidak ada dokter yang menetap di daerah-daerah terpencil seperti itu.
Menurut dia, itulah sebenarnya yang menjadi tugas utama Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek. Dia diharapkan mampu untuk membangun regulasi dalam pemerataan penempatan dokter hingga ke pelosok desa di Tanah Air.
“Saya cukup mengenal Menkes Nila F Moeloek yang merupakan orang berpengalaman, kami mengucapkan selamat atas terpilihnya beliau,” jelas Nurzelly Husnedi.
Dia mengungkapkan pihaknya mengharapkan Menkes yang berpengalaman itu mampu mengembangkan kesehatan masa depan agar jauh lebih baik, salah satunya adalah pemerataan dokter di daerah-daerah.
Nila F Moeloek resmi ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk periode 2014-2019 pada 26 Oktober.
Wanita berusia 61 tahun itu disebut Presiden Joko Widodo sebagai sosok kaya pengalaman. Dia adalah istri dr Farid Anfasa Moelok, Menteri Kesehatan era Presiden B.J. Habibie pada 1997 hingga 1999.
Nila juga aktif mengajar di program doktor pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Terakhir dia menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dalam lima tahun terakhir, Nila juga berkiprah besar untuk Millenium Development Goals (MDGs).
MDGs mengemban berbagai tugas global yang demikian vital seperti kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, kesenjangan gender, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lain, hingga kerusakan lingkungan.
Bebas “Sadikin” Sasaran dari Program MDGs juga sebenarnya berkaitan erat dengan orang-orang “Sadikin” (sakit dikit miskin) yang menetap di kawasan pelosok desa dan daerah-daerah terisolasi. Mereka mengalami kemiskinan berbagai sisi, mulai dari pendidikan yang minim, hingga layanan kesehatan yang sangat terbatas.
Sebelumnya Asisten Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk tujuan pembangunan milenium (MDG), Diah Saminarsih mengatakan ada tiga target tujuan pembangunan millennium yang sangat sulit dicapai pada 2015. Seperti menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan penyebaran virus HIV/AIDS serta mengakses air bersih dan sanitasi dasar.
Menurut Diah, hal itu disebabkan berbagai faktor di antaranya pembangunan yang belum merata sehingga infrastruktur maupun layanan kesehatan antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda.
Menurut data pemerintah, sejauh ini bahkan angka kematian ibu melahirkan selalu tinggi setiap tahun. Minimnya tenaga kesehatan di daerah terutama daerah terpencil di Indonesia merupakan salah satu penyebabnya.
Pengetahuan tentang kesehatan yang tidak memadai juga membuat banyak warga memilih jalan pintas saat hendak melahirkan. Salah satunya adalah menggunakan jasa dukun beranak agar tidak bernasib seperti “sadikin”.
Untuk mencapai tujuan MDGs mengenai kesehatan ibu, Indonesia harus menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015, dari angka saat ini yaitu 228 per 100.000 kelahiran.
Pencapaian target MDGs terkait HIV AIDS kata Diah juga sulit dicapai oleh Indonesia pada 2015 karena dalam lima tahun terakhir jumlah penderita penyakit mematikan itu di Indonesia terus bertambah. Penyakit ini dilaporkan juga banyak menjangkiti masyarakat yang minim pengetahuan kesehatan sehingga tidak memiliki daya tangkal.
Menurut data Kementerian Kesehatan, saat ini ada sedikitnya 6.300 kasus AIDS dan 20.000 kasus HIV sejak 1987. Namun sejumlah pemerhati kesehatan memastikan angka sebenarnya jauh lebih besar.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain