7 April 2026
Beranda blog Halaman 42437

Berbau Neoliberal, Politikus PDIP Tak Teriman Tiga Orang Ini Dijadikan Menteri

Jakarta, Aktual.co — Ketua DPD PDI Perjuangan Effendi Simbolon mengkritisi beberapa tokoh profesional yang dipilih sebagai menteri dalam kabinet kerja pimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Menurut eks wakil ketua komisi VII DPR RI periode 2009-2014 itu, para menteri berlatar belakang profesional di kabinet Jokowi-JK tak sejalan dengan ideologi PDI Perjuangan yang pro rakyat.
Para menteri yang dimaksud oleh bekas calon Gubernur Sumatera Utara itu, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri ESDM Sudirman Said.
“Sofyan Djalil, Sudirman Said, dan Rini Soemarno ini gak jelas. Ngapain mereka yang enggak sejalan dengan ideologi PDIP ditempatkan pada sektor vital seperti itu,” kata Effendi Simbolon di gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (4/11).
Menurutnya rekam jejak ketiga tokoh itu belum jelas dalam pemerintahan. Mereka dinilai sebagai menteri yang berbau neoliberal.
“Saya gak pernah tahu rekam jejaknya. Ketika menetapkan komoditi diserahkan pasar ya wajar orang-orangnya tidak berasal dari PDIP,” kata dia.
Selain itu, dirinya juga mengatakan kalau PDIP bukan partai yang anti kepentingan asing. Namun, negara harus tetap diposisikan sebagai kekuatan kontrol terhadap pasar.
“Kita tidak anti asing tapi tidak pro neolib. Maka negara harus pada nomor satunya,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Menteri ESDM Ajukan Lima Calon Kepala SKK-Migas

Jakarta, Aktual.co — Menteri ESDM Sudirman Said mengajukan lima nama calon Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) kepada Komite Pengawas SKK Migas untuk segera diseleksi, sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

“ESDM mengajukan lima nama, nanti kita tunggu Komite Pengawas merekomendasikan berapa nama,” kata Sudirman di Jakarta, Selasa (4/11).

Sebelumnya, Sudirman mengatakan telah melakukan rapat dengan seluruh anggota dan tim ahli pengawas untuk segera memutuskan penetapan nama Kepala SKK Migas yang akan selesai dalam waktu dekat.

“Menteri ESDM telah menyampaikan surat ke Komite Pengawas yang perlu mendapatkan pendalaman, saat ini sedang melakukan ‘review’ (kajian), mudah-mudahan dalam waktu dekat selesai,” katanya.

Dia menjelaskan nama yang telah digodok oleh Komite Pengawas akan diserahkan kembali kepada Menteri ESDM untuk dibuat surat permohonan penetapannya kepada Presiden Joko Widodo.

“Mudah-mudahan dalam satu atau dua minggu sudah ada (nama),” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Penaikkan BBM Picu Penurunan Nilai Kompetitif Industri dan Daya Beli

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram Dr M Firmansyah mengatakan bahwa tim ekonomi Jokowi-JK harus mempertimbangkan beberapa hal untuk menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi.

“Pertama, ekonomi Amerika Serikat dan Eropa sudah semakin membaik, The Federal Reserves (FED) akan menaikkan bunga tiga hingga empat persen mulai tahun depan,” ujarnya di Mataram, Selasa (4/11).

Menurtnya, perpindahan modal besar-besaran harus mulai diantisipasi pemerintah. Bila dipertahankan Bank Indonesia (BI) menerapkan bunga tinggi supaya menarik pemodal, implikasi lain sektor rill dan kredit konsumsi masyarakat akan beralih ke bank-bank di ASEAN yang bunganya jauh lebih rendah pada era perdagangan bebas 2015.

“Kedua, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan menurunkan nilai kompetitif industri dalam negeri dan menurunkan daya beli masyarakat,” tambahnya.

Hal itu akan menyebabkan konsumen lokal akan lebih nyaman membeli barang luar negeri yang lebih murah.

Pengalihan yang digambarkan sebagai subsidi sektor konsumsi ke sektor produktif dengan menerbitkan kartu pintar dan kartu sehat belum cukup untuk menutupi rendahnya nilai kompetitif industri dalam negeri dan daya beli masyarakat.

Keberadaan kartu itu tidak akan menjadikan masyarakat miskin lebih produktif. Seharusnya, pengalihan kompensasi kenaikan harga BBM yang merupakan faktor ekonomi, juga disiapkan produktivitas di sektor ekonomi, misalnya tersedianya lapangan kerja.

“Masak urusan perut digantikan dengan kesehatan dan pendidikan,” kata Firmansyah mengkritik kebijakan kompensasi kenaikan harga BBM dengan peluncuran Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Hal ketiga yang perlu dipertimbangkan pemerintahan Jokowi-JK, kata dia, adalah rencana moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) selama lima tahun, juga berperan mengurangi konsumsi yang masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Faktor PNS, pemekaran daerah baru harus diakui menjadi pemicu konsumsi. Begitu juga dengan konsumsi kendaraan bermotor, perumahan dan faktor lainnya.

Menurut Firmansyah, tim ekonomi Jokowi-JK perlu realistis menentukan target pertumbuhan ekonomi.

“Saya kira rakyat tidak akan kecewa bila target tidak juga tinggi, namun berkualitas. Artinya benar-benar nyata berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat,” ujar Firmansyah yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian Ekonomi Pembangunan (PKEP) Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

BIN Laporkan Persiapan Kunker Presiden Jokowi ke LN

Jakarta, Aktual.co — Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman melaporkan kepada Presiden Joko Widodo hasil koordinasinya dengan tiga badan intelijen negara sahabat, yakni Tiongkok, Myanmar, dan Australia terkait rencana kunjungan kerja Kepala Negara, ke tiga negara tersebut.
“Saya melaporkan pada beliau tentang situasi di luar negeri (LN) berkaitan dengan rencana kunjungan kerja beliau, juga situasi terakhir dari koordinasi intelijen dengan ketiga badan intelijen negara di mana bapak Presiden akan berkunjung,” kata Marciano di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/11).
Menurut Kepala BIN, situasi di tiga negara tersebut cukup baik. “Dalam arti Insya Allah semua program beliau di luar negeri juga berjalan lancar,” kata dia.
Selain melaporkan tentang situasi di luar negeri, Marciano juga menyampaikan situasi di dalam negeri. Dia mengatakan dari sisi intelijen situasi dalam negeri cukup kondusif karena semua pemangku kepentingan telah membuat suatu perencanaan yang sangat baik.
“Saya melaporkan pada beliau semua rencana atau program kunker luar negeri dan dalam negeri bisa berjalan dengan baik dan masyarakat atau rakyat bisa lebih dekat dengan bapak Presiden dan kebijakan-kebijakan bapak Presiden lebih dipahami oleh rakyat kita semua,” kata dia.
Pekan kedua November dijadwalkan berlangsung pertemuan puncak APEC, ASEAN dan G20 secara berurutan di tiga negara tersebut. Rangkaian pertemuan puncak tersebut secara tradisional dihadiri oleh Presiden Indonesia. Apabila Presiden Jokowi hadir dalam pertemuan tersebut maka perjalanan itu akan menjadi kunjungan kerja pertamanya ke luar negeri.
Sementara itu pada 5-6 November, Presiden Jokowi dijadwalkan untuk melakukan kunjungan kerja ke tiga provinsi di Pulau Sulawesi yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Artikel ini ditulis oleh:

Menteri Tjahjo: Presiden Pilih Jaksa Agung yang Tak Punya Perasaan

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo akan memilih Jaksa Agung dan Dirjen Pajak dalam waktu dekat.
Menurut Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, sosok Jaksa Agung yang akan dipilih oleh Presiden Jokowi tidak akan memiliki perasaan.
“Kita (Pemerintah) ingin punya Kejagung yang tidak punya perasaan, Dirjen Pajak, yang tidak punya perasaan,” kata Tjahjo dalam Rakor di Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (4/11).
Pemilihan Jaksa Agung dan Dirjen Pajak yang “galak”, kata dia, agar siapapun yang nakal “disikat”.
“Entah pengusaha tokoh bisnis, yang tidak taat bayar pajak bisa langsung sikat,” kata Tjahjo. 

Artikel ini ditulis oleh:

Akademisi: Pertumbuhan Ekonomi Tujuh Persen Tidak Realistis

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram Dr M Firmansyah menilai pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen yang ditargetkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam lima tahun kepemimpinannya tidak realistis.

“Menurut saya, bila dilihat dari faktor eksternal dan internal, harapan itu terlalu melangit,” katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (4/11).

Menurut dia, tim ekonomi Jokowi-JK perlu mengurangi semangat yang berlebihan dalam menatap pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Contohlah Tiongkok yang mulai terbiasa dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, dari 10 persen menjadi 7,5 persen,” ujarnya.

Sebagai acuan, kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang ini masih sekitar lima persen lebih. Itu pun karena faktor keberuntungan pemerintahan presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di mana kondisi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa pada saat kepemimpinannya mengalami pelambatan, sehingga suku bunga menjadi sangat tidak menarik bagi investor di sana.

Di sisi lain, “emerging market” seperti Indonesia menjadi tujuan investor karena suku bunga bank di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara anggota ASEAN lainnya.

“Hal itu menyebabkan Indonesia kebanjiran modal pada saat pemerintahan SBY, meskipun dalam jangka pendek,” ucapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain